| Selasa, 11 Mei 2004 | PANTURA |
Diduga Cemburu, Seorang WTS Dibunuh KekasihnyaSLAWI - Seorang WTS, Minggu (9/5) pagi sekitar pukul 06.00, ditemukan tewas dibunuh kekasihnya. Mayatnya tertelungkup di dekat perkebunan tebu yang sepi, di Slawi, Kabupaten Tegal. Kepala korban berlubang di beberapa bagian belakang dan wajahnya memar terkena hantaman benda keras. Penemuan mayat korban pembunuhan itu menggemparkan warga sekitar lokasi kejadian. Mereka kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pos polisi terdekat. Beberapa menit kemudian Unit Identifikasi dan Tim Buser Reskrim Polres Tegal tiba di lokasi kejadian yang langsung melakukan olah TKP. Cukup lama petugas Reskrim yang dipimpin Kaurbinops Iptu Sugeng itu mencari identitas korban. Sebab selain wajahnya tertutup darah segar, juga tidak ditemukan tanda pengenal seperti KTP. Beberapa saksi mata mengatakan, korban itu bernama Sumiyati (40), warga Desa/Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Namun kerja keras petugas akhirnya membuahkan hasil. Pada sekitar pukul 16.00, pelaku dapat diringkus. Itu berarti dalam tempo 10 jam kasus pembunuhan tersebut dapat diungkap. Sejumlah saksi yang dimintai keterangan petugas mangatakan, korban sering mangkal sebagai WTS di perempatan Jl A Yani, Kota Slawi. Adapun lokasi pembunuhan itu merupakan tempat wanita penjaja seks tersebut melayani pelanggannya. Di lokasi itu selain sepi, juga jarang terkena razia petugas. Dibunuh Kekasihnya Sementara itu, jajaran Reskrim yang berada di lokasi kejadian menemukan keterangan dari sejumlah saksi lain. Mereka mengatakan, beberapa jam sebelum ditemukan tewas, korban berjalan bersama dengan seseorang bernama Tubino (40) yang dikenal sebagai pelanggan setianya dan juga dikenal sebagai kekasih korban. Meski sudah mengantongi data kuat seperti itu, petugas tidak segera melakukan penangkapan. Apalagi pada sekitar pukul 12.00 siang, saat petugas sibuk melakukan olah TKP, kekasih korban yang beralamat di Dukuh Pesawahan, Desa/Kecamatan Pangkah justru datang di lokasi pembunuhan tersebut. "Saya pegang-pegang tangannya, terlihat keringat dinginnya. Namun saya tidak langsung melakukan penangkapan. Kalau di tangan dan bajunya ada bercak darah, mungkin langsung saya tangkap," tutur Iptu Sugeng. Penangkapan terhadap pelaku itu dilakukan setelah petugas memperoleh cukup bukti berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi. Saat datang ke rumah kekasih korban, petugas langsung mendapat jawaban yang mencurigakan. "Bukan, bukan saya pelakunya, Pak," tutur Iptu Sugeng menirukan kalimat kekasih korban. Perkataan seperti itu rupanya semakin meyakinkan petugas kalau dialah pelaku pembunuhan tersebut. "Sebab belum ditanya apa-apa sudah mengatakan, saya bukan pelakunya. Begitu ditanya di kantor polisi, dia pun mengaku terus terang, dialah yang membunuhnya," tuturnya. Pelaku itu membunuh karena cemburu. Sebab korban sering bergandengan tangan dengan orang lain. Kepala korban dihantam berulang-ulang dengan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Hantaman itu mengakibatkan luka parah di beberapa bagian belakang kepala dan wajah korban. (D12-20n) |