| Selasa, 11 Mei 2004 | OLAHRAGA |
Gelora Senayan''Seperti Masuk Markas FBI''BOLEH jadi aspek pengamanan dalam Piala Thomas dan Uber kali ini lebih canggih dibanding penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya. Tidak sembarang zona bisa dimasuki wartawan. Mereka hanya bisa masuk melalui pintu 1, 2 dan 5. Itu pun harus melalui pintu elektronik. Alat sensor di pintu-pintu tersebut akan membaca kode magnetik pada kartu pengenal, yang telah dilengkapi rekaman sidik jari pemegang. Metode demikian diadopsi dari sistem pengamanan saat Olimpiade Los Angeles 1984. Teknologinya diberi nama Smart 2K Bio. ''Ini bagus. Rasanya patut disebut sebagai kejuaraan olahraga teraman dan ternyaman yang pernah digelar di Indonesia. Sangat aman,'' kata Nur Azmi, salah seorang wartawan asal Malaysia. Namun, sistem pengamanan yang teramat ketat itu membuat sejumlah wartawan lain uring-uringan. ''Kayak masuk Markas FBI saja. Pusing bolak-balik harus dideteksi,'' ujar seorang di antara mereka. (D3,tok-77) Susahnya Cari Kantin RASA lapar harus bisa ditahan oleh para peliput Piala Thomas dan Uber di Istora Gelora Bung Karno kali ini. Pedagang kaki lima yang biasanya menjamur di kawasan tersebut telah tergusur beberapa hari sebelum kejuaraan itu dilangsungkan. Tak pelak kondisi ini membuat susah. Apalagi panitia juga tidak menyediakan kantin di sekitar lokasi tersebut. Akibatnya, untuk makan saja harus jalan sekitar dua kilometer. ''Payah, kita hanya disuruh minum teh dan kopi saja. Mumpung masih beberapa hari lagi, panitia harus menyediakan kantin,'' protes seorang wartawan pada salah seorang panitia. (D3,tok-77) Wartawan Tidak Mau Diusir DARI kapasitas 10 ribu penonton, Istora Gelora Bung Karno diisi delapan ribu orang pada pertandingan terakhir Grup A Piala Thomas antara Indonesia melawan China, semalam. Sekalipun gedung tidak penuh sesak, banyak wartawan yang tidak kebagian tempat duduk. Pasalnya, sebagian kursi khusus untuk wartawan diduduki orang-orang yang tidak berhak. Berdirinya sejumlah wartawan itu di sekitar lorong diprotes tim China. Mereka meminta Ketua Bidang Pertandingan Mimi Irawan untuk mengosongkan tempat tersebut, karena biasa dipergunakan untuk pemanasan para pemainnya. Mimi pun berkoordinasi dengan petugas yang ada di pinggir lapangan. Wartawan diminta meninggalkan tempat, tetapi mereka menolak. Jadilah tempat itu tidak digunakan tim China untuk pemanasan. (tok,D3-77) |