logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 NASIONAL
Line

Jangan Jadi Penonton atau Ditonton

COBALAH berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Dari sini akan terlihat sejauhmana keterlibatan masyarakat dalam menggarap dunia wisata. Sungguh menyedihkan! Masyarakat di sana cenderung cuma dijadikan objek. Mereka hanya menjadi penonton, atau justru ditonton.

Ya, masyarakat Karimunjawa hanya menjadi penonton "kesuksesan" para pemodal, yang berduyun-duyun membangun hotel, restoran, resort, dan wisata bawah laut. Kehadiran mereka di kampungnya sendiri pun justru menjadi tontonan turis-turis yang berkunjung.

Karimunjawa adalah gambaran pengembangan objek wisata yang masih konvensional. Setiba di Pelabuhan Karimunjawa, kita masih bisa melihat hamparan pantai yang indah, dengan sejumlah bangunan yang siap menyambut. Muncul kesan, pembangunan yang dilakukan memang untuk membangun akses wisata dengan menawarkan keramahan dan kenyamanan.

Pelayanan pemandu wisata juga cukup bagus. Mereka memberi pelayanan yang baik kepada turis. Banyak hal yang ditawarkan, mulai dari keindahan pantai, deburan obak untuk bermain selancar, hingga keindahan flora dan fauna bawah laut. Juga keindahan terumbu karang, dan berbagai jenis ikan hias laut. Semua itu memberi rasa nyaman kepada para wisatawan.

Namun dari perbincangan dengan sejumlah penduduk setempat, apa yang terjadi di Karimunjawa tak lebih dari sekadar "menawarkan" diri kepada para pengunjung. Sebaliknya, industri pariwisata justru belum memberi harapan kepada masyarakat setempat. Belum banyak yang didapat masyarakat dengan "penawaran" model itu, kecuali sekadar imbalan dari tamu.

Artinya, masyarakat di sekitar objek wisata hanya jadi penonton atau ditonton. Contoh lain penduduk dijadikan tontonan turis adalah sewaktu mereka memamerkan kebolehannya menombak ikan di perairan.

Menangkap Peluang

Lalu, apa yang harus dilakukan masyarakat? Nah, cobalah bertanya bagaimana dan apa yang bisa kita nikmati di pedalaman pulau-pulau di sana? Penduduk setempat malah geleng-geleng kepala. Sulit untuk masuk ke pedalaman, lantaran tidak ada akses jalan atau sarana transportasi. Dua hal ini nyaris belum tersentuh.

Selain persoalan infrastruktur yang belum tergarap, kesadaran warga pun sangat minim terhadap pengembangan pariwisata. Pariwisata bukan cuma pantai dan laut, melainkan juga alam, hutan perawan, adat-budaya, dan kehidupan masyarakat.

Mengapa penduduk Karimunjawa tidak menyediakan ojek atau bentuk transportasi lain, supaya para pelancong bisa masuk ke pedalaman? Mereka boleh belajar dari penduduk Bali. Pada tahun 1970-an, ketika akses jalan ke sejumlah objek belum semulus sekarang, masyarakat dengan sigap menangkap peluang dengan menyediakan persewaan sepeda motor. Mengingat medan di Bali umumnya berbukit-bukit, jenis persewaan motor trail pun jadi laris manis.

Setelah pembangunan infrastruktur dilakukan di berbagai tempat, jalan-jalan di Bali sudah mulus, sehingga mendukung mobilisasi pelancong dari objek yang satu ke objek lainnya. Ratusan usaha persewaan mobil (rent car) siap melayani turis. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton atau ditonton, tetapi bisa menikmati kue pembangunan di wilayahnya sendiri.

Memang sudah jamak dalam pembangunan pariwisata, masyarakat pada awalnya hanya menjadi penonton. Di sinilah peran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat, sehingga akan terjadi peningkatan partisipasi, dan sekaligus menjadi pendukung produk wisata tersebut.

Harus disadari, sifat wisatawan terkadang di luar dugaan. Tak selamanya mereka ingin menikmati keindahan pantai atau alam. Sebab, ada juga yang justru ingin menikmati pola hidup masyarakat, adat, atau tradisi warga setempat. Pernahkah membayangkan turis asing datang hanya untuk melihat petani sedang memanen padi dengan ani-ani? Mereka bisa berjam-jam duduk di tepi sawah, dengan kamera yang tak henti-henti merekam peristiwan yang dianggapnya unik tersebut.

Pernahkah melihat bagaimana turis asal Swiss tiba-tiba ingin mengoleksi payung dari bambu (sejenis caping besar) yang sudah brodol dan kotor? Penduduk justru malu menjualnya, sementara sang turis sangat berhasrat memiliki barang yang dianggapnya antik. Dengan "bahasa tarzan", petani dan turis berbicara. Sampai akhirnya turis itu memberikan beberapa lembar dolar, dan petani itu pun tertawa terbahak-bahak.

Sepele, namun luar biasa. Itulah contoh-contoh yang mestinya bisa dikembangkan kalau kita ingin membangun pariwisata berbasis kerakyatan. Dan, di Karimunjawa kondisi ini belum tercipta baik. Ini salah satu tugas Dinas Pariwisata Jateng, untuk membangun sumber daya manusia yang memadai di tingkat masyarakat. Jangan sampai ada kesan masyarakat hanya dieksploitasi, tanpa memperoleh nilai tambah dari kehadiran industri wisata itu sendiri. (48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA