logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 NASIONAL
Line

Membangun Jaring-jaring Wisata Jateng

AKHIR April lalu, di sebuah hotel berbintang di Baturraden, Purwokerto, terpampang sebuah peta petunjuk wisata Jawa Tengah. Luar biasa! Dalam peta itu tercantum 59 titik objek wisata yang ditawarkan. Ini adalah kekayaan yang amat besar dan diharapkan mampu memberi nilai tambah kepada masyarakat. Berikut ini laporan wartawan Suara Merdeka I Nengah Segara Seni mengenai "jaring-jaring" objek wisata Jateng dalam beberapa tulisan.

ariwisata bukan sekadar persoalan transportasi, memberi rasa senang bagi para wisatawan, maupun pembangunan fasilitas dan sarana lainnya. Apabila pariwisata hanya berpedoman pada persoalan teknis semata, tentunya tak akan mampu memberi rasa bangga kepada empunya wilayah, lantaran gagal memberi nilai tambah bagi kehidupan rakyat di sekitar objek tersebut.

Jadi, pariwisata sebaiknya memberi rasa bangga dan kehidupan yang layak kepada masyarakat sekitarnya. Karena itulah, membangun pariwisata agar mampu memberi sumbangan bagi pembangunan secara menyeluruh perlu dilakukan. Dalam kunjungan ke Dieng beberapa waktu lalu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardhika juga menekankan arti pentingnya pembangunan sikap mental masyarakat terhadap pariwisata itu sendiri. Artinya, masyarakat bukan hanya dieksploitasi sebagai objek, melainkan harus dijadikan subjek dalam pembangunan dunia pariwisata.

Kelemahan yang ada sekarang, termasuk di Jateng, adalah lemahnya pembangunan masyarakat pariwisata. Upaya memperbaikinya memang bukan pekerjaan mudah, tapi jika tidak dimulai dari sekarang, tentu keberadaan objek wisata yang bejumlah sekitar 59 buah --mungkin lebih, mengingat banyak objek lokal yang belum masuk peta wisata-- itu tidak memberikan apa-apa kepada masyarakat, juga pemerintah.

Kalau mau membangun dunia wisata di era globalisasi, ego yang berlebihan mesti disingkirkan. Sebab mengembangkan pariwisata kini tak mengenal ruang dan waktu lagi. Oleh karena itu, penggarapan tata ruang kepariwisataan harus mengikuti perkembangan global.

Bagaimana Jateng?

Pertanyaannya, apakah kondisi pariwisata di Jateng sudah seperti itu? Tentunya belum! Ini bukan hanya tugas pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata, namun juga menjadi tugas para pelaku wisata, seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Biro Perjalanan dan Tur Indonesia (Asita), Asosiasi Travel Agent dan Tour Operators, pramuwisata, pengelola objek, juga pemerintah daerah dan pusat-pusat pengembangan pariwisata di daerah ini.

Membuat "jaring-jaring" objek wisata di Jateng merupakan salah satu langkah yang perlu dilakukan. Mengapa? Secara geografis, posisi Jateng yang berada di antara Bali (pusat wisata dunia) dan Jakarta (ibu kota negara) sebenarnya amat menguntungkan.

Ada empat titik lintasan wisatawan apabila ingin memasuki Jateng, yakni lewat jalur utara (dari barat di Brebes dan timur di Rembang), jalur selatan (barat di Purwokerto dan timur di Sragen). Dari sinilah mestinya jaring-jaring (alur wisatawan) bisa dibuat.

Pada dasarnya para wisatawan --terutama wisatawan mancanegara (wisman)-- dalam kunjungannya ke Indonesia sangat memperhitungkan masalah waktu. Maka ketepatan dan kecepatan dalam mencapai objek wisata menjadi persoalan penting yang mesti dipertimbangkan.

Misalnya jika para wisatawan datang dari Bandung lewat jalur selatan. Apa yang bisa ditawarkan Jateng kepada mereka? Kita harus sanggup "menangkap" mereka dengan tawaran yang lebih baik, seperti kunjungan ke Baturraden (Pancuran Tujuh, lokawisata, Curug Cipendok), kemudian ke Cilacap (Benteng Pendem, Teluk Penyu, Goa Masigetsela, dan Nusakambangan), kemudian meneruskan perjalanan ke Purbalingga yang memiliki objek wisata Goa Lawa dan Akuarium Purbasari.

Selepas dari Purbalingga, para wisatawan bisa bermalam di Banjarnegara. Banyak objek wisata lokal di kabupaten ini, misalnya Taman Margasatwa Seruling Mas, Waduk Mrica, dan arena arung jeram di alur Tunggoro-Singomerto. Target berikut Dataran Tinggi Dieng yang sudah tersohor sebagai "Tanah Kahyangan". Terus ke timur hingga tembus di Borobudur, Solo (Mangkunegaran), hingga ke objek wisata Museum Prasejarah Sangiran di Sragen.

Begitu juga daya "tangkapan" yang harus dilakukan di jalur utara. Mulai dari Brebes hingga Rembang. Banyak objek yang bisa kita tawarkan dari jalur pantura itu, mulai dari keindahan pantai, Curug Sewu, Candi Gedongsongo, Museum Kereta Api, Masjid Agung Demak, Menara Kudus, Makam Kartini, hingga Bleduk Kuwu di Grobogan.

Lintas-sektoral

Jika ingin membuat "jaring-jaring" wisata tersebut, akses dari satu objek ke objek lain sangat penting. Selain itu, proses pengembangan pariwisata tak bisa terlepas dari faktor pendukung yang harus melibatkan sektor dan instansi lain. Lintas-sektoral serta lintas-instansi ini pula yang kini digerakkan Pemerintah Provinsi Jateng, agar semuanya dapat menjadi sebuah sinergi yang tangguh dalam menopang kebutuhan dunia kepariwisataan.

Contohnya usaha Gubernur H Mardiyanto guna meningkatkan peran Selatan-Selatan, yakni Solo-Selo-Borobudur (SSB), serta rencana pengembangan Cilacap yang punya berbagai keunggulan yang bisa dijual kepada wisatawan. Kedua hal ini merupakan langkah terpadu untuk menggali potensi yang ada.

Semua kekuatan kini diarahkan untuk menggali potensi di jalur selatan, karena objek wisata di jalur selatan memang mempunyai potensi yang lebih besar. Sebut saja Borobudur, Prambanan, Solo, dan daerah-daerah sekitarnya.

Pembangunan infrastruktur saat ini sedang digalakkan agar mampu menyeimbangkan kondisi antara jalur selatan dan jalur utara. Kini jalur utara seperti Bonang, Binangun dan Sluke (BBS) justru diharapkan menjadi pendukung percepatan proses pembangunan Selatan-Selatan.

Ya, semua potensi harus dieksploitasi untuk menopang cita-cita bersama. Sekali lagi, jumlah objek wisata di Jawa Tengah memang sangat banyak. Inilah kekayaan luar biasa, yang harus dapat ditumbuhkembangkan untuk kemakmuran masyarakat di sekitar objek. (48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA