logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 NASIONAL
Line

Pesona Micky di Tabloid Tren

PESONA AFI di mata masyarakat pemirsa televisi, khususnya kaum remaja, memang luar biasa. Konser keliling finalis AFI-1 di Semarang, semalam, contohnya. Karcis sudah ludes terbeli jauh hari sebelum pertunjukannya.

Sebagian tiket yang berada di tangan para calo menjadi berkali-kali lipat harganya dibandingkan dengan harga resmi. Untuk kelas VIP, yang resminya Rp 150.000 ditawarkan hingga Rp 500.000. Kelas biasa, yang resminya Rp 75.000, bisa menjadi tiga atau empat kali lipatnya. Faktanya, tempat pertunjukan luber!

Dari manakah datangnya pesona itu? Apakah dari suara para penyanyi finalis AFI yang memang oke, serta aksi panggungnya yang menawan? Rasanya bukan itu faktor utamanya, karena --kalau boleh jujur-- banyak artis yang punya suara sama bagusnya atau bahkan lebih bagus dari mereka dan punya akting panggung yang lebih menawan juga.

Memang tidak mudah menjawabnya. Sebab, pesona itu tidak bisa dilihat dari satu sisi, yakni pada sang artis belaka. Sisi lain yang tak kalah penting adalah respons ìpasarî, yakni masyarakat pemirsa televisi dan pembaca media-media cetak yang mengekspose AFI. Pertanyaannya, mengapa ìpasarî begitu demam AFI.

Jawaban atas pertanyaan itu pun serba samar-samar. Yang jelas, AFI hadir pada kondisi stasiun-stasiun televisi dengan siaran dangdut yang mungkin telah sampai pada tingkat jenuh, serta gosip-gosip artis yang cenderung menampilkan sisi negatif. Selain, tentu saja, sangat Jakarta sentris.

Pada AFI, ada kompetisi, ada sensasi, ada drama, serta ada pelibatan pemirsa. Simpati dan empati pemirsa televisi turut diba-ngun lewat acara Diary AFI. Lewat Diary itu, masyarakat tahu bahwa yang terjadi di akademi itu bukan hanya memperbaiki teknik bernyanyi, melainkan proses membangun manusia berusia muda menuju gerbang kedewasaan.

Di dalam akademi itu, para finalis mendapatkan fasilitas yang sangat luar biasa, seperti pelatihan vokal, koreografer, pendampingan psikolog, serta sharing dari para bintang yang sengaja didatangkan untuk bagi pengalaman.

Dengan bekal-bekal itu, mereka tampil setiap Sabtu. Dan penampilan mereka dinilai oleh para juri. Masyarakat juga banyak belajar dari proses penilaian itu.

Banyak istilah yang didapat pemirsa televisi, seperti pernapasan diafragma , pitch control , menyanyi dengan hatiî, kontrol nada, dan hargai penonton. Dan itulah yang membuat emosi pemirsa turut terlibat juga. Belum lagi, jika ada suara tangis pada setiap pengumuman eliminasi.

Very dan Micky

Di AFI-1, remaja Langkat Sumatera Utara Very Affandi menjadi bintang yang paling dipuja. Bukan karena suaranya yang sangat istimewa di atas para finalis lainnya, melainkan karena perkembangan kepribadian anak muda yang pernah menjadi salesman ini selama di akademi. Para pendampingnya menggambarkan kemajuannya, dari semula anak yang minder, tertutup, menjadi lebih percaya diri dan terbuka.

Di AFI-2, ada bintang cowok yang juga punya potensi menjadi pujaan seperti Very. Dia adalah Micky, remaja Pekanbaru-Riau, yang ikut audisi di Jakarta. Tabloid remaja Tren mengulasnya panjang-lebar di edisi kali ini, berikut foto-fotonya yang menarik.

Berbeda dari Very, yang cenderung pendiam dan tertutup, Micky Oktapatika lebih ekstrovert, suka iseng, tetapi sekaligus suka menolong, sehingga tak heran punya banyak teman. Bahkan, dia bikin iri finalis cowok AFI-2 lainnya, karena para peserta cewek pun banyak nge-fans ke pemuda seberang pulau itu.

Akankah dia bisa menjuarai AFI-2 ini? Rasanya, selain Tia dari Semarang yang teknik vokalnya banyak dipuji, Micky menjadi kandidat yang patut diperhitungkan. (Anto Prabowo, tabloid remaja Tren-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA