logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 NASIONAL
Line

Mengapa Hasyim Muzadi Pilih Mega (1)

Perang SMS di Kalangan Elite NU


SM/Setiawan HK

RAPAT NU: Rais Syuriah KH Masruri Mughni AlHafidz Lc dan Ketua PWNU Jateng Drs H Mohammad Adnan MA memimpin rapat gabungan lengkap syuriyah dan tanfidziyah di Kantor PWNU, Jalan Dr Cipto 180 Semarang, Sabtu (8/5). (69i)

SEHARI setelah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng menyatakan secara kultural mendukung KH Hasyim Muzadi sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri, pro dan kontra spontan bermunculan. Ada yang melalui telepon, surat tertulis, bahkan ada yang datang langsung tabayun (meminta penjelasan-Red) di kantor PWNU, Jalan Dr Cipto 180 Semarang.

Yang tidak kalah seru adalah ''perang'' short message services (SMS) melalui handphone di kalangan elite NU dan orang-orang yang terlibat dalam persoalan itu. Ada yang jelas pengirimnya, ada pula yang tanpa identitas. Hampir semua pengurus mendapat pesan yang lucu-lucu, mendukung, atau mencemooh. Yang mendukung, misalnya, ''Succes for KH Hasyim Muzadi-Megawati Soekarnoputri'', ''Insya Allah Cak Hasyim-Mega yang jadi'', dan lain-lain.

Yang kecewa tentu saja mencemooh. Misalnya, ''Innalillahi wa Inna ilaihi raji'un. NU Jateng sudah digadaikan'', ''Adnan kau dapat apa dari Megawati''. Bahkan ada kiriman SMS dalam Bahasa Arab yang nadanya, seperti ayat Alquran diplesetkan, ''Ya Ayyuhannas, haafidzu anfusakum min syarri Megawati wa Hasyim Muzadi. Innahuma balaaun li Indonesia waadzabun li demokrasi''. (Hai manusia, jagalah dirimu dari kejelekan Megawati dan Hasyim Muzadi. Keduanya balak bagi Indonesia dan azab buat demokrasi).

Rois Syuriah KH Masruri Mughni AlHafidz Lc dan Ketua PWNU Drs H Mohammad Adnan MA menanggapinya dengan enteng sambil tertawa-tawa. ''Insya Allah tidak apa-apa. Semua bagian dari dinamika warga nahdliyyin yang semakin cerdas menghadapi berbagai persoalan bangsa saat ini,'' tutur Adnan yang juga staf pengajar Fisip Undip itu.

Keputusan NU Jateng secara kultural menyatakan mendukung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjadi cawapres mendampingi Mega memang menimbulkan protes. ''Kalau dukungannya secara kultural, mengapa harus disampaikan lewat koran, radio, dan televisi. Kultural kan artinya orang perorang bukan struktural organisasi kelembagaan,'' komentar seseorang melalui telepon. ''Pak Hasyim itu melanggar khitah 1926. Seharusnya dia mundur dari PBNU''. Kalimat terakhir itu langsung ditepis, ''Wong Gus Dur jadi presiden juga tidak mundur dari ketua umum PBNU sampai Muktamar Ke-30 di Lirboyo Kediri.''

Memang dalam rapat Sabtu (8/5) diputuskan, meski ketua umumnya menjadi cawapres, NU tidak akan memfasilitasi untuk memobilisasi massa, menyiapkan kampanye, dan menggalang dukungan untuk Kiai Hasyim. Bahkan seluruh fasilitas dan kantor NU di semua jajaran, mulai PWNU, PCNU, MWC sampai ranting tidak diperbolehkan dipakai tim sukses untuk menggalang dukungan. ''Maka keputusan nya mendukung secara kultural bukan struktural,'' tutur Adnan.

Namun semuanya mahfum, meski dukungan itu dinyatakan secara kultural, tetapi karena yang menyampaikan rois syuriah dan ketua serta keputusannya diambil dalam sebuah rapat, tentu saja diterjemahkan secara struktural. Awam tampaknya tak bisa membedakan lagi kultural atau struktural.

Mega ke Malang

KH Hasyim Muzadi sebenarnya berkali-kali menyatakan hijrah dari Malang ke Jakarta untuk mengurusi NU bukan untuk jadi presiden atau wakil presiden. Sikap tersebut tetap konsisten dipegang Kiai Hasyim sampai memasuki tahun ke lima. Menjelang akhir masa jabatan yang tinggal delapan bulan lagi, rupanya realitas politik menentukan lain. Kiai Hasyim pun akhirnya menerima lamaran Megawati.

Krenteg Cak Hasyim mau jadi wapres sebenarnya muncul ketika Megawati datang ke pondok pesantren Al-Hikam, Jalan Jengger Ayam Malang, sebelum Ramadan tahun lalu. Waktu itu presiden menyampaikan kata-kata kepada Cak Hasyim, ''Ke depan kita bekerja sama lagi''. ''Waktu itu, Kiai Hasyim tidak langsung menanggapi. Sebab selama ini, rasanya dalam berbagai kesempatan Bu Mega dan Pak Hasyim sudah biasa kerja bareng. Mau kerja sama apa lagi kalau bukan mengurusi negara,'' tutur orang dekat Hasyim Muzadi.

Hasyim pun sadar betul posisinya sebagai ketua umum PBNU tidak bisa mencalonkan diri, karena tidak mempunyai kendaraan politik. Apalagi sejak pagi-pagi sekali PKB, partai yang kelahirannya dibidani NU sudah menyatakan akan mengusung KH Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden.

Cukup lama pascakunjungan Mega ke Malang, tawaran itu dibiarkan begitu saja. Tidak direspons secara khusus. Baru dalam sebuah pertemuan, tawaran Megawati itu disampaikan kepada ketua-ketua PWNU se-Indonesia. Lagi-lagi Hasyim mengulangi pernyataannya bahwa ke Jakarta untuk mengurusi NU. Namun para pimpinan wilayah menyarankan lain. Apabila peluang itu bermanfaat dan membawa berkah buat seluruh Bangsa Indonesia, bukan hanya warga nahdliyyin, mengapa tidak diambil.

Awalnya, disarankan naik gerbong PKB. Namun di luar dugaan malah menimbulkan pernyataan silang pendapat keras terutama dari Ketua Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid. Seterusnya wacana pengajuan terhadap Gus Dur sebagai capres terus menggelinding, terutama melalui poros kiai-kiai khos Langitan Tuban.

Bersamaan itu, sejumlah Kiai Wira'i juga melakukan pertemuan rahasia menggalang dukungan untuk Hasyim Muzadi. Dua pertemuan yang sangat kuat pengaruhnya mendukung Hasyim, yaitu di Tebuireng Jombang dan di Rembang beberapa waktu lalu.

Rahasia Kiai Sahal

Meski Gus Dur secara tegas menyatakan tidak akan merestui Hasyim tetapi bukan berarti jalan menuju kursi RI-2 tertutup rapat-rapat. Itulah salah satu keunikan Nahdlatul Ulama. Ada key person lain yang belum ''dimainkan'', yaitu KH MA Sahal Mahfudh. Rois Aam PBNU itu dikenal sebagai paman Gus Dur, tetapi dalam beberapa hal sering kali terjadi perbedaan wacana. Maka, meski tempat tinggalnya di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, jauh dari keramaian Kota Pati, apalagi dari Pusat Provinsi Jawa Tengah, Kiai Sahal tetap menjadi jujugan banyak orang, termasuk Kiai Hasyim Muzadi.

Seusai bertemu dengan sejumlah kiai di Rembang, ketua umum PBNU bersilaturahmi dengan Kiai Sahal. Namun hingga sekarang hasil pertemuan Hasyim-Kiai Sahal tetap dirahasikan. KH Masruri Mughni dan Adnan tak mau membocorkan sedikit pun keputusan atau pernyataan pengasuh Pesantren Maslakul Huda itu.

Kabar yang berkembang, Kiai Sahal ketika dimintai restu Kiai Hasyim menyatakan netral, tidak memihak salah satu cawapres dari kader NU, baik Hasyim, Jusuf Kalla, Hamzah Haz, maupun Sholahudin Wahid. (Agus Fathuddin Yusuf/Bersambung-69i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA