logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 NASIONAL
Line

Gus Dur Pilih Marwah Daud

  • Mega-Hasyim Tunda Daftar ke KPU

JAKARTA-Akhirnya Gus Dur menjatuhkan pilihan calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampinginya, Marwah Daud Ibrahim, politikus perempuan dari Partai Golkar. Menurut rencana duet Gus Dur-Marwah itu akan didaftarkan ke KPU, hari ini (Selasan, 11/5) pukul 10.00 WIB.

Kepastian memilih Marwah Daud sebagai pendampingnya dalam pencalonan presiden dan wakil presiden itu disampaikan Gus Dur di Kantor PBNU, Jalan Kramat, dalam sebuah acara bertajuk ''Bincang-bincang Infotainment'' yang dikoordinasi Gusti Randa.

Dalam bincang-bincang itu, selain Gusti Randa, aktor yang juga caleg dari PKB tampak pula Rieke Diah Pitaloka, caleg PKB untuk daerah pemilihan Bogor yang gagal meraih kursi ke Senayan. Ada pula Dewi Yull dan Ray Sahetapi. Marwah Daud tidak bersama Gus Dur ketika bincang-bincang itu berlangsung.

Semula Gus Dur memang mengantongi tiga calon yang akan mendampinginya sebagai cawapres. Mereka adalah Marwah Daud Ibrahim, Sophan Sopiaan, dan Ryaas Rasyid. Sophan Sopiaan menolak permintaan Gus Dur, karena saat ini dia sibuk merawat istrinya, Widyawati, yang sedang sakit. Sementara penolakan Ryaas Rasyid tidak disebutkan alasannya. Maka pilihan Gus Dur jatuh kepada Marwah.

Bila duet Gus Dur-Marwah Daud itu diterima, dan ditetapkan KPU, maka timbul hal yang unik dan menarik. Sebab, capres Golkar Wiranto telah menetapkan memilih Salahuddin Wahid dari PKB untuk mendampinginya sebagai cawapres. Sementara capres PKB Gus Dur memilih Marwah Daud, orang Golkar sebagai cawapres. ''Ya ini memang akan jadi hal yang menarik dan aneh,'' tandas Gus Dur yang tampak santai ketika berbincang dengan sejumlah wartawan infotainment, kemarin.

Mengenai kemungkinan akan terpecahnya suara PKB bila nanti Gus Sholah menjadi cawapres Wiranto, sementara Gus Dur juga maju sebagai capres, Gus Dur menyebutkan dirinya sama sekali tidak khawatir. ''Ya nggak apa-apa kalau pecah. Wong yang bilang pecah itu kan Anda,'' tuturnya dengan gayanya yang khas.

Bahkan, dia kemudian mencontohkan, seandainya ada calon presiden lain yang kemudian memilih salah satu kader PKB sebagai cawapres juga bukan masalah. ''Kalau nanti Aburizal Bakrie dicalonkan partai gurem sebagai capres dan dia milih Khofifah Indar Parawansa sebagai cawapresnya juga tidak apa-apa. Sah-sah saja,'' tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Dur juga berpesan, bila ternyata pendaftaran dirinya sebagai capres dan Marwah sebagai cawapres ditolak KPU, maka jangan menyalahkan lembaga itu. ''KPU itu kan cuma lembaga yang mendapat masukan dari berbagai pihak,'' tuturnya.

Caleg Artis

Ketika ditanya mengenai caleg artis yang hanya ditempatkan sebagai vote getter, Gus Dur menyerahkan hal itu kepada sang artis. ''Selama ini kan caleg artis biasanya ditempatkan di urutan ke-2 atau ke-3. Sementara urutan pertama ya tetap orang partai yang sudah lama ada di sana. Ya itu semua tergantung pada artis sendiri. Artis itu kan sama saja dengan orang kebanyakan. Kalau mau jadi vote getter ya terserah saja,'' katanya.

Sebagaimana dimaklumi pada pemilu kali ini, sangat banyak artis yang menjadi caleg dari berbagai partai yang bertarung. Namun dari sekian banyak caleg artis, hanya sedikit yang kemudian mampu meraup perolehan suara yang cukup untuk meloloskannya hingga ke Senayan.

''Saya sih nggak kecewa, nggak berhasil duduk sebagai anggota legislatif,'' tutur Rieke Diah Pitaloka yang menjadi caleg nomer urut 1 untuk daerah pemilihan Bogor dari PKB. Meskipun dipasang di nomer urut 1 pun, ternyata Rieke gagal menjadi anggota legislatif. ''Cuma memang tim sukses saya kecewa berat, saya gagal,'' tambahnya.

Menurut Rieke, dirinya tidak kecewa karena sejak awal sudah menyadari bahwa daerah pemilihannya bukanlah basis PKB. ''Jadi, sejak awal memang saya sudah sadar, kemungkinan bisa lolos ke Senayan memang sangat kecil, karena daerah pemilihan saya bukan basis PKB,'' paparnya.

Pilih Gus Sholah

Sementara itu, di kubu Partai Golkar, setelah melalui tarik-ulur yang panjang, akhirnya menetapkan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menjadi cawapres mendampingi capres Wiranto. Koalisi dua parpol besar itu dimantapkan, dan hari ini (Selasa, 11/5) akan dideklarasikan.

Demikian isi pertemuan antara capres dan cawapres Golkar Wiranto dan Gus Sholah, serta Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar dan Tim 9 PKB di kediaman Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, Jalan Widya Chandra Jakarta, Senin.

Dalam pertemuan itu, dari PKB hadir Ketua Umum Alwi Shihab, Wakil Ketua Umum Mahfudz MD, dan Muhaimin Iskandar. Dari DPP Golkar yang hadir adalah Ketua Umum Akbar Tandjung, Sekretaris Jenderal Budi Harsono, Ketua Fahmi Idris, Agung Laksono, dan Slamet Effendi Yusuf. Hadir juga Wakil Sekjen Rully Chairul Azwar, dan fungsionaris Partai Golkar Bomer Pasaribu.

Akbar Tandjung usai pertemuan mengatakan, dari hasil pertemuan petinggi dua parpol itu, secara resmi Partai Golkar meminang Gus Sholah untuk mendampingi Wiranto pada pemilihan Presiden RI pada 5 Juli mendatang.

Akbar optimistis persetujuan Tim 9 PKB secara resmi yang disampaikan ke DPP Partai Golkar, dan dibahas dalam rapat itu, akhirnya akan didukung kader partai yang didirikan warga nahdliyin. ''Pada akhirnya PKB akan memberi dukungan,''ujar Akbar.

Seperti diketahui, kendati Gus Sholah telah pasti menjadi cawapres dari Partai Golkar untuk mendampingi Wiranto, PKB masih menunda memberikan dukungan secara resmi kepada duet Wiranto-Gus Sholah. Sebab, PKB masih mendaftarkan Ketua Dewan Syuro Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden dari partai tersebut. PKB baru akan memberikan dukungan penuh kepada duet Wiranto-Gus Sholah bila Gus Dur dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai capres di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ketika ditanya, Gus Sholah mengatakan, pertemuan itu bertujuan untuk menindaklanjuti hasil pertemuan Minggu malam (9/5) yang memutuskan dirinya sebagai cawapres Partai Golkar.

Dalam pertemuan itu juga ada kesepakatan bahwa PKB bertekad untuk memenangkan duet dari Golkar pada Pemilu Presiden 5 Juli mendatang. Tetapi hal itu baru dilakukan apabila Gus Dur yang hingga saat ini masih sebagai calon presiden PKB, gagal di KPU.

Hanya masalahnya, Gus Sholah pun belum tahu jaminan seperti apa yang akan disampaikan PKB terhadap duet Wiranto dan dirinya. Kendati demikian, dia optimistis pada saatnya PKB akan memberi dukungan penuh kepada duet itu.

Senada dengan itu, Akbar Tandjung mengatakan, dukungan PKB terhadap Gus Sholah sebagai cawapres dari Partai Golkar masih menunggu proses seleksi KPU terhadap Gus Dur, calon presiden dari PKB. Karena PKB masih akan mendaftarkan Gus Dur sebagai capres. Namun pada saatnya, bila Gus Dur lolos seleksi sebagai capres di KPU, Gus Sholah tetap tidak akan mundur dari pencalonannya sebagai cawapres Partai Golkar. Artinya, dia tetap maju tanpa dukungan PKB.

Diinformasikan, pasangan itu akan dideklarasikan sebagai capres dan cawapres pada hari ini (Selasa, 11/5), pukul 11.00 WIB, di Jakarta. Kemudian esok harinya (12/5), sekitar pukul 15.00 WIB, pasangan tersebut akan mendaftarkan ke KPU.

Menurut Budi, DPP Golkar sudah menerima surat persetujuan dari PKB yang intinya mendukung Gus Sholah sebagai cawapres Partai Golkar. Sambil menunggu proses Gus Dur di KPU.

''Kami sudah menerima surat persetujuan dari PKB yang isinya antara lain PKB setuju untuk menempatkan Gus Sholah sebagai cawapres Partai Golkar. Tapi dukungan penuh baru akan diberikan bila sudah diketahui proses Gus Dur di KPU.''

Duet Amien-Siswono

Sedangkan secara terpisah, duet pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dari PAN, Amien Rais dan Siswono Yudhohusodo, kemarin mendatangi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta Pusat. Mereka datang ke rumah sakit itu, untuk melakukan cek kesehatan sebagai bagian dari persyaratan capres dan cawapres pada Pemilu Presiden, 5 Juli.

Dalam pemeriksaan hampir 10 jam itu, keduanya mengaku menjalaninya dengan santai dan tidak ada masalah. Hal itu diungkapkan Siswono Yudhohusodo atau biasa disapa Pak Sis di tengah-tengah proses tahap pemeriksaan. Pemeriksaan Amien dan Sis dimulai pukul 07.30 WIB, dan berakhir pukul 17.00 WIB.

Dalam kesempatan itu, hadir Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Faisal A Moeloek. Moeloek mengungkapkan, pemeriksaan kesehatan kali ini merupakan gelombang kedua. ''Pak Amien adalah capres pertama yang melakukan pemeriksaan kesehatan pada tahap kedua. Pemeriksaan gelombang pertama sudah dimulai sejak 26-29 April lalu, dan hasilnya sudah dilaporkan ke KPU,'' kata mantan menteri kesehatan itu.

Pada gelombang pertama, kata Moeloek, capres dan cawapres yang sudah diperiksa, antara lain Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). ''Hasilnya sudah disampaikan ke KPU,'' ujarnya.

Hasil

Menurut Moeloek, hasil pemeriksaan kesehatan Amien dan Siswono itu akan disampaikan ke KPU dua hari setelah pemeriksaan, setelah dibahas tim dokter yang berjumlah 60 orang. Hasilnya akan disampaikan kepada ketua KPU, karena mereka yang berhak mengumumkan kepada masyarakat. ''Peraturannya memang begitu. Kami minta maaf tidak dapat mempublikasikan hasilnya, karena hal itu merupakan kewenangan KPU. Kalau kami lakukan, itu berarti melanggar undang-undang,'' tegasnya.

Mengenai rencana selanjutnya, Moeloek didampingi beberapa anggota tim pemeriksa kesehatan capres dan cawapres itu mengungkapkan, hari ini (Selasa, 11/5) tim dokter akan memeriksa Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi. ''Tidak ada perlakuan khusus kepada Ibu Mega. Tahapan pemeriksaan akan dilakukan sama seperti yang lain, yaitu kejiwaan dan fisik. Mereka juga akan mengikuti psikotes untuk mengetahui sejauh mana kecerdasan dan bakatnya,'' tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Moeloek mengungkapkan, tahapan pemeriksaan yang diterapkan tim dokter adalah menanyakan langsung riwayat kesehatannya di masa lampau, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan kejiwaan. ''Dari tes kejiwaan ini, bisa diketahui sejauh mana bakat dan kecerdasan capres dan cawapres. Waktu yang dibutuhkan dalam pemeriksaan kejiwaan itu antara satu setengah sampai dua jam.''

Mega-Hasyim

Sedangkan Duet Mega-Hasyim Muzadi mengubah jadwal pendaftaran capres-cawapres ke KPU. Rencana semula keduanya akan mendaftarkan diri kemarin. Namun kemudian ditunda Rabu (12/9), hari terakhir pendaftaran.

Tidak ada alasan jelas, mengapa jadwal pendaftaran Mega-Hasyim ke KPU diubah. Padahal sebelumnya rencana itu diperkirakan sudah pasti. Seorang sumber menyampaikan, diubahnya jadwal pendaftaran ke KPU itu terkait dengan penentuan hari baik, yang lazim dianut orang Jawa.

''Pengunduran menjadi Rabu, karena hari itu merupakan hari baik menurut kalender Jawa,'' katanya.

Biasanya penentuan hari baik atau buruk itu dianut masyarakat Jawa dalam menentukan sesuatu acara, baik itu pernikahan, selamatan rumah, peresmian toko, dan lain-lain, termasuk terkait politik. Dan selama ini, Mega juga dinilai memiliki kebiasaan seperti itu.

Adat itu juga dilakukan orang-orang NU. ''Tapi Pak Hasyim Muzadi tidak percaya dengan klenik. Jangan bandingkan Pak Hasyim dengan tokoh lain,'' kata salah seorang ketua PBNU Rozy Munir.(bn,A20, di, dtc,tn-69,88t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA