logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 SEMARANG
Line

Siswa SMUN 2 Terpaksa Kencing di Rumah

SALATIGA - Kepala SMUN 2 Salatiga Drs H Sukiman BSc MM mengatakan, hampir setiap hari lembaga pendidikan yang dipimpinnya kekurangan air. Anak-anak didiknya, terutama yang perempuan harus pulang ke rumah masing-masing jika akan buang air kecil (kencing-Red).

"Kami sering menerima keluhan dari orang tua siswa, mengapa kencing saja harus pulang ke rumah," tutur Sukiman, Selasa (4/5).

Dia mengutarakan hal itu pada acara peresmian Laboratorium Bahasa di SMUN 2 Salatiga, kemarin. Laboratorium itu, kata Kepala Diknas Drs H Bakri MSEd, merupakan bantuan dari PT Balai Pustaka (BP) Jakarta selaku pembuat buku wajib untuk pelajar se-Kota Salatiga.

Selain SMUN 2, bantuan serupa juga diberikan kepada SMUN 1, SMUN 3, dan SMK Negeri 2. Untuk SD dan SMP akan memperoleh bantuan berupa alat peraga mata pelajaran Matematika dan Biologi. Peresmian dilakukan Wakil Wali Kota John Manuel Manoppo SH.

Karena itulah, Sukiman berharap Pemkot bersedia memperhatikan masalah air di lingkungan sekolahnya. Juga kebutuhan listrik. Sebab, saat dia akan memamerkan penggunaan komputer di laboratorium tersebut, ternyata aliran listrik padam.

Beberapa guru menambahkan, keluarga besar SMUN tersebut sekitar 1.100 orang. Sekitar 1.000 adalah siswa, lainnya guru dan karyawan. Untuk siswa disediakan 15 kamar mandi/WC, sedangkan guru dua buah.

Malam Hari

Sukiman menuturkan, air dari PDAM mengalir hanya pada malam hari. Namun, pada sore hari air langsung habis karena digunakan untuk berbagai kebutuhan. "Sepekan yang lalu, air macet selama lima hari. Sudah barang tentu, murid dan guru perempuan yang akan buang air harus pulang ke rumah masing-masing. Untuk pelajar pria masih mending, sebab mereka dapat kencing di pinggiran tembok," ujar seorang guru.

Dalam sambutannya Bakri mengatakan, pemberian bantuan peralatan laboratorium diharapkan dapat menepis anggapan negatif soal pengadaan buku wajib melalui PT BP Jakarta. Terutama soal dugaan adanya praktik KKN. Dia berharap pendistribusian alat peraga ke sekolah-sekolah diharapkan dapat secepatnya dilakukan.

Sementara itu John Manoppo menilai perencanaan pembangunan lokasi-lokasi pendidikan di Kota Salatiga kurang baik. Sebab, mayoritas sekolah berada di sebelah barat dan utara kota.

Akibatnya, bagian timur seperti Kelurahan Kutowinangun hampir tak ada SMP dan SMU. "Pada masa datang, perencanaan pembuatan lokasi pendidikan harus menyebar, agar tidak ikut menyebabkan kemacetan arus lalu lintas" saran John Manoppo. (A2-84k)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA