logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 SEMARANG
Line

Produk Asli Semarang Sukar Dicari

SEMARANG - Pengunjung dari luar Kota Semarang yang ingin menikmati lumpia Semarang atau wingko babat, barangkali akan kecewa jika mencari kedua jenis makanan itu di Pekan Raya Semarang 2004. Pasalnya, produk-produk yang selama ini diyakini menjadi tetenger Kota Semarang itu, hampir tidak tersedia di arena pameran.

Sebaliknya, berbagai makanan dari luar Kota Semarang justru tampak mendominasi hampir di semua stan yang tersedia. Pada tenda pusat jajan serba ada, misalnya, pengunjung akan dimanjakan dengan jajanan berlabel luar daerah Semarang. Sebut saja bakso urat solo, keripik arema malang, dawet jepara, dodol garut, atau bakso kikil surabaya, menjadi menu utama bagi pengunjung yang ingin bersantap di arena itu. Sebaliknya, ibarat menjadi tamu di rumah sendiri, lumpia Mbak Lien atau wingko babat Cap Kereta Api justru tidak tersedia.

Hal yang sama dapat dilihat di tenda konveksi ataupun furniture.

Beberapa pengusaha Semarang terlihat memanfaatkan pameran kali ini untuk mempromosikan produknya. Namun, jumlah pengusaha Semarang yang membuka stan di sana tidak sebanyak pengusaha dari luar Kota Semarang. Sebuah stan yang menawarkan pintu kaca berukir, misalnya, mengatakan kantornya yang di Semarang hanya menjadi bengkel kerja (workshop). Pengusaha yang membuka bengkel di Taman Brotojoyo Semarang itu menawarkan daun pintu antikarat Rp 150.000 hingga Rp 750.000. "Meski memiliki bengkel kerja di Semarang, kantor pusat kami ada di Surabaya," kata penjaga stan Prima Indoor.

Produk-produk konveksi dari luar Kota Semarang ditawarkan dengan harga cukup murah. Stan Tanggulangin, misalnya, menawarkan aneka tas dari kulit dan imitasi hanya dengan harga Rp 20.000-Rp 50.000. Sejak lama, daerah Tanggulangin yang terletak di kota Sidoarjo, Jawa Timur dikenal sebagai sentra kerajinan kulit. Menurut sejumlah pekerja yang menjaga stan Tanggulangin, para perajin di kota itu ingin menjajaki potensi pasar Kota Semarang.

Produsen konveksi yang ditampilkan di Pekan Raya tampaknya masih didominasi oleh pengusaha-pengusaha asal Jawa Timur dan Jawa Barat. Selain Tanggulangin, sejumlah stan sepatu seperti Bandung Shoes dan Bandung Stock terlihat ramai didatangi pengunjung.

Menurut Kepala Bagian Promosi PT Citra Pamerindo, Ir Octavianto, pengusaha asal Semarang memang belum banyak memamerkan produknya. Salah satu kendala, menurut dia, kondisi yang kurang mendukung proses sosialisasi. "Bisa jadi karena pameran ini dilaksanakan tidak lama setelah pemilu," katanya memberi alasan.

Situasi sosial politik tersebut, menurut dia, bisa menjadi alasan minimnya informasi kepada kalangan pengusaha. (nik-45k)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA