logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 SEMARANG
Line

Bila Tak Dipindah, Semarang Terbonsai

BALAI KOTA- Kota Semarang ke depan secara fisik tidak akan berkembang, bahkan makin terbonsai dan menjadi kota mini apabila tidak ada kebijakan merelokasi Bandara Ahmad Yani. Untuk itu, mulai sekarang relokasi bandara di lokasi yang baru seyogianya menjadi bahan pemikiran. Keberadaan bandara di tengah-tengah kota itu akan mengungkung perkembangan Kota Semarang nantinya. Wacana itu mengemuka dalam pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang di Ruang Paripurna DPRD Kota, Senin kemarin. Pembahasan melibatkan Tim Teknis dan Pansus RDTRK/RTRW DPRD Kota Semarang.

Kepala Sub-Bidang Pengembangan Wilayah Bappeda Kota Ir Farchan mengemukakan, apabila pembangunan bandara di luar Kota Semarang tidak diakomodasi dan tidak dipindahkan akan mematikan pembangunan fisik ibu kota Jateng itu. "Semarang akan menjadi kota mini. Gedung-gedung di Semarang maksimal hanya dibangun 12 lantai," ungkap Ketua Tim Teknis RTRW/ RDTRK tersebut.

Sebab, jika membangun gedung lebih dari itu akan terbentur peraturan penerbangan yang melarang pendirian bangunan yang dapat mengganggu penerbangan.

Menurut pendapat dia, perpanjangan landasan pacu bandara tetap baik dilakukan karena untuk mengakomodasi kepentingan penerbangan yang makin meningkat. Namun, permasalahan yang dihadapi merupakan kajian regional. Tim Teknis dan Pansus RDTRK/RTRW tidak bisa memberi kebijakan bandara itu harus pindah.

Hal senada disampaikan anggota Pansus RDTRK/RTRW Ir Heru Widiyatmoko MM. Menurut penuturan dia, mulai sekarang baik Pemkot Semarang maupun Pemprov Jateng harus memikirkan pembangunan bandara yang terletak di luar kota. "Paling tidak berada pada jarak 40-60 kilometer dari Kota Semarang," kata Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Semarang itu.

Keberadaan bandara di tengah-tengah kota, lanjut dia, sangat mengganggu pembangunan fisik Kota Semarang. Ibu kota Jateng yang bercita-cita menjadi kota metropolis, yang salah satunya ditandai dengan kehadiran gedung pencakar langit bakal tidak kesampaian.

Dia tidak apriori bahkan menyambut baik perpanjangan landasan pacu Bandara A Yani, tetapi mulai sekarang masa depan Kota Semarang harus dipikirkan.

Dia mencontohkan, selama Bandara A Yani tetap berada di tengah-tengah kota, nanti di Kota Semarang tidak bisa dibangun gedung-gedung pencakar langit, seperti di Jakarta atau Surabaya. "Maksimal nantinya hanya bisa dibangun gedung dengan tujuh lantai," ujar dia.

Di kota-kota lain, keberadaan bandara selalu di luar kota. Dia mencontohkan, Bandara Soekarno-Hatta tidak di Jakarta tetapi di Tangerang. Kemudian, Bandara Juanda Surabaya pun di luar kota, Sidoarjo.

Lebih lanjut Heru menjelaskan, frekuensi penerbangan di Bandara A Yani sekarang makin bertambah, ditandai dengan adanya penerbangan internasional Semarang-Singapura. Hal itu pula yang akan berdampak ke arah terbonsainya Kota Semarang.

Karena itu, pemerintah harus memikirkan pencarian lokasi baru bandara. Daripada harus memindahkan Kota Semarang, lebih baik memindahkan bandara ke daerah yang lebih menjamin perkembangan Kota Semarang ke depan. Lokasi baru yang dapat digunakan antara lain di Demak atau Kendal. (G17,H1-64j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA