logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 INTERNASIONAL
Line

Para Pengguna E-mail Rentan Penipuan

LONDON - Jika Anda pengguna internet, hati-hati menerima e-mail dari orang tidak dikenal. Sebab, belakangan ini muncul komplotan internasional yang mengincar kartu kredit atau data bank Anda.

Menurut sebuah perusahaan yang mengikuti dengan cermat e-mail tipu-tipu semacam itu, aksi tersebut pada bulan April lalu saja menggaruk uang secara haram bernilai triliunan rupiah.

E-mail yang tampak otentik itu, yang dikirimkan kepada Anda seakan pesan dari bank atau pengecer online, telah menjadi sarana baru yang populer bagi para penipu lewat cyber.

Model penipuan yang memanfaatkan teknologi tinggi tersebut dikenal dengan nama ''phishing''. Dalam kamus Inggris-Indonesia maupun kamus besar Inggris-Inggris ''Webster'', kata phishing belum tercantum.

Brightmail, sebuah perusahaan penyaring e-mail yang berkantor pusat di San Francisco, mengatakan dalam sembilan bulan terakhir ini saja volume bulanan e-mail ''phishing'' telah meningkat hampir 10 kali lipat, menjadi 3,1 miliar pada April lalu.

Menurut Brightmail, pihaknya menyaring 96 miliar e-mails setiap bulan. Polisi Internasional (Interpol) menduga geng-geng penjahat terorganisasi dari Eropa Timur adalah otak penipuan multimiliaran dolar AS tersebut.

Pada pertengahan pekan lalu, Kepolisian Inggris menangkap sejumlah pria dan wanita Eropa Timur yang dituduh menyalurkan uang hasil ''phishing berjumlah ratusan ribu pound dari rekening-rekening bank Inggris ke sebuah geng penjahat Rusia.

Penangkapan tersebut, kata suatu sumber Kepolisian Inggris, tercatat sebagai sukses terbesar para penegak hukum sejauh ini dalam upaya menumpas geng-geng phishing.

Cara Kerja

Polisi belum lama ini memperkirakan, kejahatan phishing mendatangkan kerugian pada bank-bank Inggris sampai 60 juta pound (sekitar Rp 968 miliar), tahun lalu saja.

Di Amerika Serikat, kerugian ekonomi akibat phishing yang diderita bank-bank dan perusahaan kartu kredit tercatat 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp 10,5 triliun) pada 2003 lalu, kata Gartner Research.

Studi Gartner difokuskan pada 1,78 juta warga Amerika yang telah melaporkan diri menjadi korban penipuan, setelah mereka memberikan informasi rahasia tentang data bank mereka kepada para pelaku phishing.

Kepolisian Inggris kemarin mengatakan, penipuan model baru itu terutama mengincar negara-negara pengguna bahasa Inggris, seperti Kerajaan Inggris, AS, dan Australia.

Tetapi diingatkan, phishing diduga bakal mengincar sasaran di negara-negara lain, mengingat semakin banyak saja orang yang memanfaatkan jasa pelayanan bank online belakangan ini.

Menurut Kepolisian Inggris, dalam kebanyakan kasus para penipu mengirimkan e-mail bohongan yang seakan-akan resmi dikirimkan dari bank-bank atau pengecer e-market.

Kepada penerima e-mail, biasanya pelaku mengingatkan bahwa rekening (calon korban) sudah harus diperpanjang masa berlakunya, atau memberitahu bahwa suatu produk baru telah mulai ditawarkan lewat e-market.

Suatu link disediakan di e-mail tipu-tipu itu. Korban diminta mengakses suatu situs web yang tampak asli, dan lewat situs tersebut korban diminta memasukkan perincian rekening bank dan nomor kartu kreditnya.

Sejalan dengan meningkatnya kecanggihan teknologi komunikasi, polisi dan para pakar teknologi menduga para penipu akan segera mengincar semua sektor bisnis. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA