| Selasa, 11 Mei 2004 | INTERNASIONAL |
21 Lagi Tewas Terkait Pemilihan Umum FilipinaMANILA - Pemerintah Filipina, Senin kemarin, melaporkan 21 orang meninggal dalam kekerasan terbaru terkait pemilihan umum, yang menjadikan jumlah korban tewas menjadi sekurangnya 114 orang. Pasukan keamanan menembak mati tujuh pria bersenjata yang bekerja bagi pasukan keamanan para calon lokal di pulau wilayah tengah Masbate, Minggu lalu, dan menemukan satu gudang senjata termasuk senapan mesin ringan, kata anggota polisi dalam satu pernyataan. Satu serangan fajar kemarin terhadap seorang calon wali kota di Tampilisan di provinsi wilayah selatan Zamboanga menyebabkan tiga orang tewas, termasuk seorang anggota polisi. Selanjutnya, enam petugas kampanye tewas di dua sergapan di Provinsi Zamboanga Minggu malam, kata komandan tentara lokal Brigjen Alexander Yapching. Sementara itu, polisi mengatakan seorang manajer kampanye ditembak mati kemarin ketika dia sedang meninggalkan rumahnya di Daanbatayan di pulau wilayah tengah Cebu dan dua petugas kampanye tewas di Manila dalam satu serangan granat. Polisi juga menembak mati seorang pria yang mencoba mencuri kotak pemilu di kota wilayah selatan Esperanza, dan satu lagi dilaporkan meninggal di pulau wilayah selatan pulau Guimaras. Satu pernyataan yang dikeluarkan militer kemarin petang menyebutkan, sebanyak 114 orang tewas dalam periode pemilu, dan hampir 200 orang menderita luka-luka. Negara dengan penduduk pemilih 43,5 orang itu memilih presiden, wakil presiden, 12 Senator, dan 212 anggota Kongres serta lebih 17.000 jabatan-jabatan lokal, kemarin. Pemilihan di Filipina sering dikotori oleh kekerasan yang dipicu dari para pengikut bersenjata politikus lokal dan pemberontak yang meminta uang dari para kandidat. Arroyo Unggul Sementara itu, Presiden Gloria Macapagal Arroyo kemungkinan mengalahkan bintang film Fernando Poe Jr, dalam pemilu kemarin, demikian ditunjukkan jajak pendapat setelah jutaan rakyat Filipina memberikan suara di tengah kekerasan di sana-sini. Setelah pemungutan suara ditutup pukul 15.00 waktu setempat (14.00 WIB), pemilih diwawancarai oleh radio independen dzRH. Wawancara tersebut menunjukkan Arroyo mengungguli Poe, saingan terkuatnya di antara empat kandidat lainnya, dengan enam sampai delapan persen. Hasil itu agak mirip dengan hasil-hasil survei yang dilakukan sebelum pemilu. Presiden terpilih akan memimpin negara yang sebagian besar dari 82 juta penduduknya menganut Katolik Roma, untuk masa jabatan enam tahun ke depan. Dia akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari korupsi, pemberontakan, kemiskinan, utang besar, sampai ekonomi yang lemah. Hasil resmi penghitungan suara akan diperoleh dalam sebulan, sekalipun penghitungan oleh badan pengawas independen bakal memberikan gambaran lebih jelas mengenai pemilu kemarin dan prediksi yang akurat dalam sepekan. ''Saya berdoa untuk perdamaian dan persatuan di negara kita,'' kata Arroyo, sekutu dekat AS dalam perang melawan terorisme, setelah pemungutan suara pada pagi yang berkabut di Provinsi Pampanga, kampung halamannya. ''Jika selisih kemenangan Arroyo mencapai dua persen, maka orang punya kesempatan melihat oposisi menggunakan itu sebagai alasan untuk menciptakan guncangan politik,'' kata Scott Harrison, direktur pelaksana lembaga konsultan Pacific Strategies and Assessments, di Manila. Ada lima calon presiden yang bertarung memperebutkan kursi orang nomor satu di Istana Malacanang, namun calon unggulan hanya dua, yaitu presiden yang berkuasa sekarang, Gloria Macapagal Arroyo (GMA), dan bintang film kawakan, Fernando Poe Jr (FPJ). Yang juga ikut mengadu untung dalam pemilihan adalah mantan Menteri Pendidikan Raul Roco, mantan Kepala Kepolisian Nasional Filipina Ping Lacson, dan penginjil kondang di televisi, Eddie Villanueva. (rtr-ben-46) |