logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 INTERNASIONAL
Line

FOKUS

Kekejian Terkuak Berkat Fotografi Digital

NEW YORK - Foto-foto eksplosif tentang kekejaman tentara Amerika terhadap para pejuang Irak yang mereka tawan, membuka mata banyak orang bahwa fotografi digital dan internet bisa mempermudah publik mengetahui sudut-sudut gelap yang tadinya tidak terjangkau media massa.

Foto-foto menghebohkan dari dalam tembok penjara Abu Ghraib di pinggiran kota Bagdad itu, hampir pasti diabadikan oleh tentara Amerika sendiri atau kontraktor pemerintah.

''Dengan teknologi yang ada sekarang, seorang fotografer amatir pun dapat diterima sebagai wartawan profesional. Mereka beroperasi dengan peralatan yang sama: kamera digital, laptop, dan koneksi internet,'' kata Keith W Jenkins, redaktur foto Washington Post Magazine.

''Proses embedded semula diharapkan memberikan pemerintah kemudahan dalam menangani para jurnalis. Tetapi sekarang, orang-orang bukan jurnalis dengan kamera digital malah bisa mendapatkan akses yang tidak dapat diperoleh media,'' katanya.

Foto-foto dari balik tembok Abu Ghraib, antara lain memperlihatkan para pria pejuang Irak ditelanjangi dan ditumpuk bagaikan piramid. Sementara itu, para serdadu AS - banyak di antaranya wanita - terlihat tertawa-tawa senang.

Sejak foto-foto tersebut dipublikasikan oleh televisi CBS satu pekan lalu, masyarakat internasional marah besar. Mereka terheran-heran, bagaimana bangsa Amerika yang mengaku sebagai pendekar HAM dan demokrasi bisa melakukan tindakan keji seperti itu.

Amat Mudah

Majalah The New Yorker kemudian menyiarkan foto-foto semacam itu. Menurut The New Yorker, yang mengutip penjelasan suatu sumber, foto-foto tersebut diambil dengan menggunakan kamera digital.

Kamis lalu, The Washington Post mengklaim mendapatkan 1.000 foto digital dari Irak, beberapa di antaranya menunjukkan para tawanan dipermalukan secara seksual (dalam keadaan telanjang, kemaluan mereka ditunjuk-tunjuk oleh wanita serdadu AS).

''Gambar-gambar itu kemungkinan hasil jepretan para jurufoto amatir, yakni para serdadu atau kontraktor Amerika,'' kata Peter Howe, mantan direktur fotografi majalah Life.

Kurator pameran tentang invasi Irak itu, sekarang mengepalai International Center of Photography di New York.

Para serdadu AS di Irak sudah biasa membawa laptop dan kamera digital, kata Sheryl Mendez, kata redaktur foto majalah US News and World Report, yang selama empat bulan berada di Irak untuk meliput invasi.

Dikarenakan kamera digital dapat memfokuskan objek secara otomatis, amatlah mudah bagi siapa saja untuk mendapatkan hasil gambar yang secara teknis bagus mutunya.

''Orang tidak perlu lagi butuh objek yang berdiri di bawah sinar matahari yang terang untuk mendapatkan gambar yang bagus,'' kata Howe. Dihubungkan dengan internet lewat laptop, sangat mudah pula mengirimkan foto-foto itu hanya dalam waktu beberapa detik.

Maka, banyak foto dari medan perang - yang selama ini tidak dapat disaksikan karena para wartawan dibatasi ruang geraknya oleh militer - dapat dinikmati masyarakat luas secara internasional.

Langgar Aturan

Tami Silicio, seorang kontraktor sipil di Kuwait, melanggar aturan Pentagon (Departemen Pertahanan AS) yang melarang orang mengambil gambar atau mempublikasikan peti mati berisi mayat serdadu AS.

Dia, dengan kamera murahan Nikon Coolpix, membidik dua kali peristiwa pengiriman peti mati-peti mati tentara Amerika yang akan dikrim pulang ke AS dengan pesawat terbang dari Bandara Bagdad.

Dia kemudian bulan lalu mengirimkan hasil jepretannya itu kepada seorang teman lewat email, dengan harapan memperlihatkan kepada rakyat Amerika ''penghargaan dan perhatian'' yang diberikan kepada para serdadu yang tewas.

Sang teman di AS menelepon redaktur foto The Seattle Times, Barry Fitzsimmons, dan menyerahkan foto-foto dari Silicio dengan harapan dapat dimuat di The Seattle Times.

Namun Fitzsimmons lewat telepon memberitahu Silicio in Kuwait. Katanya: ''Anda harusnya menyadari apa yang Anda dapat, apa yang bakal terjadi, dan mengapa kami tidak menginginkan foto-foto seperti ini.''

Setelah salah satu dari dua foto tersebut akhirnya dimuat di halaman depan The Seattle Times dan dikutip koran-koran lain, Silicio dan suaminya kehilangan kontrak kerjanya di Kuwait.

Fotografi amatir tentang peristiwa perang, hampir sama tuanya dengan perang itu sendiri.

Pada Perang Dunia I, pasukan AD AS diizinkan membunuh serdadunya yang mengambil gambar-gambar perang, kata Howe.

Karena berdasarkan standar yang sekarang langkah seperti itu jelas ekstrem, mungkin militer - yang berupaya mengatur persepsi publik - semestinya menyita kamera yang dibawa para serdadu dan kontraktor, kata Jenkins. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA