logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 INTERNASIONAL
Line

PM Blair Minta Maaf atas Penyiksaan di Irak

PARIS - Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Senin kemarin, menyatakan permintaan maafnya atas perlakuan buruk pasukan Inggris terhadap para tawanan Irak.

''Kami minta maaf secara mendalam kepada siapa pun yang telah mendapat perlakuan buruk oleh tentara kami. Hal itu sama sekali tak bisa diterima,'' kata Blair, yang sedang melakukan kunjungan sehari ke Prancis, kepada statsion televisi Prancis, TV-3.

Pengakuan terbuka Blair itu menandai kali pertama Pemerintah Inggris meminta maaf setelah kasus perlakuan buruk dan penghinaan - termasuk mengencingi tawanan Irak - oleh unit pasukan Inggris di Irak.

Blair menambahkan, para pelaku yang bertanggung jawab dalam perbuatan tersebut akan dihukum berdasarkan aturan-aturan disiplin ketentaraan Inggris.

Tentara Inggris, Sabtu lalu, menghadapi tuduhan baru mereka menyiksa para tawanan di Irak setelah seorang tahanan mengatakan dipukuli secara sadis oleh para serdadu yang melakukannya sambil tertawa-tawa.

Dikenai Tuduhan

Secara terpisah, satu surat kabar memberitakan seorang serdadu Inggris, anggota suatu resimen yang sudah lama dicurigai, telah dikenai tuduhan melakukan penyiksaan itu. Hal tersebut, jika terbukti benar, akan semakin menenggelamkan sekutu terdekatnya, AS, lebih dalam ke dalam skandal penyiksaan tawanan yang telah mengguncang AS.

Dalam suatu pernyataan saksi yang diperoleh surat kabar Independen, anggota tentara zeni Irak, Kifah Talah, mengatakan dia menderita gagal ginjal setelah dipukuli oleh sejumlah serdadu Inggris selama tiga hari pada September 2003.

Pernyataannya itu akan dikemukakan pada Pengadilan Tinggi di London pekan depan sebagai bagian dari suatu klaim ganti rugi terhadap Inggris oleh sejumlah keluarga warga Irak yang menyatakan bahwa sanak keluarga mereka dibunuh secara semena-mena oleh tentara Inggris.

Unit pasukan Inggris yang menjadi pusat kemarahan akibat penyiksaan tawanan-tawanan di Irak telah diperintahkan menyerahkan semua foto penyiksaan itu.

Surat kabar Sunday Telegraph dalam edisi Sabtu melaporkan, perintah agar semua foto penyiksaan tawanan-tawanan Irak tersebut disampaikan kepada Resimen Lancashire, yang sudah kembali ke basisnya di Siprus.

Kasus penyiksaan tawanan-tawanan Irak oleh pasukan Inggris diungkapkan pertama kali oleh tabloid Daily Mirror pekan lalu. Di antara foto tersebut terlihat seorang tentara Inggris mengencingi tawanan Irak yang kepalanya ditutupi.

Segelintir Tentara

Kasus penyiksaan dan penghinaan tawanan Irak itu mencuat sejalan dengan kasus-kasus serupa yang dilakukan pasukan AS sehingga membuat Menhan AS Donald Rumsfeld diminta DPR-AS dan Senat untuk mengundurkan diri.

Namun Presiden AS George W Bush membela Rumsfeld dan menyatakannya bisa tetap dalam kabinet. Bahkan Sabtu lalu, Bush mengatakan hal itu hanyalah kesalahan segelintir tentara AS karena masih banyak tentara AS yang berjasa bagi rakyat Irak.

Komentar Bush dalam sambutannya yang disiarkan stasiun radio itu disampaikan sehari setelah Rumsfeld mengatakan masih ada foto-foto lainnya yang memperlihatkan kekejaman perlakukan tentara AS terhadap tawanan perang Irak yang dapat dimuat di media massa.

Rumsfeld meminta maaf atas kekeliruan yang dilakukan pihak militer AS di penjara Abu Ghaib tak jauh dari Bagdad, seperti yang disampaikan Bush yang tak berhasil meredakan amarah dunia Arab.

Penjelasan Bush mengenai tindak pelanggaran HAM yang dilakukan serdadu AS yang dipertegas oleh laporan Palang Merah internasional bahwa perlakuan tak manusiawi seperti penyiksaan terbukti ada dan telah dilakukan oleh pasukan AS selama ini.(ant-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA