| Selasa, 11 Mei 2004 | EKONOMI |
Sanggul dan Wig Khas Pudjo SaktiKonsumennya hingga Luar NegeriSANGGUL dan wig dari desa Glagahsari, Pasuruan buatan Pudjo Sakti sudah merambah ke berbagai kalangan mulai dari kalangan biasa hingga kalangan ibu pejabat tinggi di berbagai kota. Dan ternyata rata-rata mereka sudah mengenal produksi yang ada di kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan ini. Paling tidak ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi H Pudjo Sakti (54) yang merintisnya di kala ia masih bujangan dan merantau dari daerah asalnya di Ponorogo ke Surabaya. Awalnya ia membuka usaha kecil-kecilan dengan modal Rp 56 ribu pesangon dari pabrik untuk membeli sebuah mesin jahit dan 2 kg bahan baku rambut dari Mojokerto. Wig buatannya itu dijajakan keliling di Surabaya seharga Rp 20.000. Usaha tersebut terus berkembang hingga akhirnya dia bisa memiliki 15 mesin jahit. "Ternyata kehidupan sanggul hanya setiap ada peringatan hari Kartini saja, akhirnya juga tutup lagi," kata Pudjo mengenang kehidupan yang keras waktu itu. Ia memutuskan pindah ke Sukorejo Pasuruan dan merintis lagi akhirnya bisa memiliki 9 tenaga kerja dan berkembang menjadi 50 tenaga kerja dari warga desa sekitar termasuk saudara, anaknya sendiri. Sekarang bahkan sudah mencapai 200 tenaga kerja dan usahanya berdiri di atas lahan seluas 1.400 m2, dan lahan 540 m2 yang ada di depannya direncanakan untuk show room dan areal parkir. Bahkan rencananya dia juga mengakses internet, karena butuh rambut palsu dari Jepang dan untuk transaksinya tersebut bisa dilakukan melalui internet. Tidak hanya wig dan sanggul, banyak peminat dari luar negeri yang membeli rambut dalam bentuk lurus setelah disortir. "Saya belum sanggup. Kebutuhan di sini pun masih kurang. Memang mahal, rambut ukuran 7 inch saja harganya per kg Rp 15.000. Sedangkan yang 10 inch mencapai Rp 200 ribu, dan yang panjang 18 inch sudah Rp 550ribu/kg," kata Pudjo. (Wiharjono-82) |