logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 Mei 2004 BUDAYA
Line

Mencium Bau Mulut Endank Soekamti

"SOEKAMTI, Soekamti, Soekamti..." teriakan massa penonton itu bersipongang di dalam Auditorium Undip Pleburan, tempat berlangsungnya pentas musik Psikopath '04 yang diselenggarakan HMJ Psikologi Jumat (7/5) menjelang tengah malam.

Jangan salah, mereka bukan tengah mengelu-elukan nama penyayi dangdut pujaan. Nama yang terkesan udik itu sejatinya adalah nama sebuah band rock bercorak punk. Ya, nama lengkapnya Endank Soekamti.

Begitu muncul di atas panggung, grup band yang hanya beranggotakan tiga orang itu langsung memainkan nomor ingar-bingar berjudul "Love Death". Penonton yang sebagian besar mahasiswa itu pun menyambutnya dengan histeria sembari memutar-mutar kepala (headbang). Beberapa di antara mereka bahkan memanjat barikade besi di depan panggung untuk kemudian melompat dan menjatuhkan diri di tengah-tengah penonton. Aksi itu berlangsung berulang-ulang.

Namun baru satu lagu dimainkan, dari arah belakang puluhan pemuda berdandan ala punk, sebagian berambut mohawk, merangsek ke depan panggung. Tanpa basa-basi, sebagian di antara mereka langsung melontar botol air mineral dan sandal ke arah panggung.

Meski demikian, Eric (bas, vokal), Dorry (gitar, vokal), dan Ari (drum) tetap bergeming. Mereka terus memainkan lima buah lagu, yakni "Love Death", "Pencuri Cinta", "Tunggu Sebentar", "Kembali", dan "Bau Mulut" dengan gaya atraktif.

Pada jeda lagu kedua, Eric sedikit terpancing. Kegusaran hatinya ia sampaikan melalui bahasa verbal: "Oke, kalau kalian nggak suka saya main di sini, silakan tinggalkan tempat ini," teriaknya geram.

Lontaran itu justru memperkeruh suasana. Para punker di bagian depan mulai mengguncang-guncangkan barikade besi setinggi 1,5 meter hingga nyaris roboh. Tak urung, aksi dorong-mendorong antara mereka dengan petugas keamanan pun terjadi. Untung saja, kericuhan yang lebih parah dapat dihindarkan.

Ingkari Idealisme

Disinyalir, aksi punkers tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap Endank Soekamti. Sebab sebagai sebuah grup band punk, mereka dianggap telah mengingkari idealisme.

Endank Soekamti saat ini tengah merambah dunia rekaman melalui major label. Menurut mereka, apa yang dilakukan oleh Eric dan kawan-kawan itu sebagai bentuk pengkhianatan.

"Sangat tidak pantas mereka berkawan dengan kapitalis. Semangat punk adalah semangat indie. Itu mutlak," kata seorang punker.

Sementara itu dijumpai usai pementasan, para personel Endank Soekamti mengaku gusar dengan perlakuan yang ditimpakan kepada mereka. Menurut Eric, para punker itu tidak mengenal siapa sesungguhnya Endank Soekamti.

"Menurut saya, sah-sah saja band punk masuk ke jalur major. Bukankah band-band punk dari luar juga melakukan hal yang sama. Lihat itu Blink 182 dan Linkin Park. Toh nggak ada yang protes. Indie itu hanyalah proses, bukan tujuan," ujar Eric. (Rukardi-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA