| Senin, 10 Mei 2004 | EKONOMI |
Perajin Batu Bata Kebanjiran PesananPURWOKERTO- Masa-masa pelaksanaan proyek pembangunan fisik baik pemerintah maupun perorangan seperti saat ini merupakan saat paling menyenangkan bagi para perajin batu bata di Kabupaten Banyumas. Mereka pun kebanjiran pesanan. Bahkan, barang masih di tobong (tempat pembakaran) sudah ada yang membeli. Perajin tak sempat menyetok bahan bangunan itu. Tingginya kebutuhan material itu misalnya untuk pembangunan terminal bus Purwokerto. Bangunan tersebut membutuhkan batu bata hingga 1.050.000 buah. Berdasarkan pantauan, di tobong-tobong jarang dijumpai persediaan batu bata matang. Kebanyakan perajin tengah mempersiapkan pembakaran bahan bangunan tersebut. Hal itu terlihat di sentra pembuatan batu bata, seperti Desa Pliken, Kecamatan Kembaran dan Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja. Kepala Divisi Teknik PT Krakatau Indah (investor pembangunan terminal bus) FX Sutopo ST menuturkan, hingga kini pihaknya baru mendapatkan batu bata 100.000 buah. Itu berarti masih kurang 950.000 buah. Sejauh ini, jelasnya, pengadaan material itu tidak mengalami hambatan berarti. Perusahaan itu mendapatkan barang dari pemasok dan diperkirakan pemasok sudah ada perjanjian dengan perajin bata. ''Sepertinya batu bata baru matang langsung diangkut, terbukti sering sampai sini batu bata masih hangat,'' ujarnya. Batu bata yang masuk ke proyek bernilai Rp 38,3 miliar itu sebagian besar dari Pliken. Ukuran bata produksi Pliken dan Sokaraja sama sehingga bisa diterima. Kalau buatan daerah lain, contohnya Adipala (Cilacap), ukurannya berbeda sehingga tidak dibeli. Turmedi (45), salah seorang perajin batu bata di Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas mengungkapkan, akhir-akhir ini permintaan batu bata sangat tinggi. ''Kula ngantos mboten nate nyetok (Saya sampai tidak pernah memiliki persediaan),'' ungkapnya. Satu sampai dua bulan lalu, lanjutnya, setelah diangkat dari tempat pembakaran, dua hingga lima hari kemudian barang baru habis terjual. Kini masih dibakar saja sudah ada yang pesan. Ramainya pesanan itu terjadi setelah Lebaran. Padahal sebelumnya sepi. Perajin itu memiliki tobong berkapasitas 25.000 buah batu bata sekali bakar. Dalam sebulan, maksimal dua kali pembakaran. Dia membeli batu bata mentah dari perajin. (bd-82j) |