logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 SALA
Line

Berburu Mata Air untuk Hadapi Kemarau

GEJALA musim kemarau belakangan mulai terasa. Itu bisa dilihat dari curah hujan yang makin kurang dan suasana panas pada siang atau malam hari.

Di Kabupaten Boyolali hampir setengah bulan terakhir sudah tidak turun hujan. Meski belum memasuki musim kemarau, waswas mulai dirasakan beberapa warga di berbagai desa Kecamatan Musuk.

Mereka berharap musim kemarau tahun ini lebih bersahabat dan tidak membuat petani menderita. Selama musim kemarau, mereka selalu menderita dan direpotkan oleh persoalan air bersih.

Karena itu sebelum memasuki kemarau, kini warga berbuat sesuatu yang bermuara untuk memudahkan mencari air bersih. Joko (37), warga Desa Dragan menuturkan, di desanya tidak ada sumber air dan belum pernah ditemukan.

Setiap memasuki musim kemarau warga hanya mengharapkan pengedropan air bersih dari pemerintah atau pihak lain yang peduli terhadap kesulitan air bersih. Karena itu persoalan kekurangan air bersih pada musim kemarau bukan sesuatu yang baru atau mengejutkan.

Warga baru terkejut atau dibuat repot jika musim kemarau berkepanjangan. Lebih terkejut lagi jika pengedropan air bersih seret atau bahkan tidak ada sama sekali.

''Kalau tak ada bantuan air sama sekali dari pemerintah, kami baru terkejut,'' kata Joko.

Berburu Air

Guna menghadapi musim kemarau yang diperkirakan tahun ini relatif panjang, warga membuat bak penampungan berkapasitas besar.

Selain itu berburu atau mencari sumber air di berbagai desa. Upaya pencarian tersebut terus digalakkan, sehingga saat memasuki musim kemarau warga tidak selalu menggantungkan kepada pihak lain. Perburuan sumber air juga dilakukan beberapa warga di berbagai desa di Kecamatan Selo.

Hasilnya cukup membanggakan. Kini ditemukan sumber air dengan debet yang sangat tinggi di kawasan Gunung Merapi.

Mata air itu diberi nama Tuk Sipenduk. Keberhasilan mendapatkan sumber air tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran serta Camat Selo Drs Luwarno dan Muspika.

Dari pagi hingga sore hari, Luwarno dan beberapa warga melakukan pendakian ke Gunung Merapi. ''Kami telah mendapatkan mata air yang mampu dimanfaatkan untuk warga di Kecamatan Ampel, Cepogo, dan Selo,'' kata Luwarno.

Kabag Sosial Drs Mulyono mengatakan, menghadapi musim kemarau pihaknya telah mengusulkan anggaran Rp 23 juta. Dana sebesar itu diharapkan mendapatkan persetujuan dari DPRD.

Namun dana tersebut hanya diperuntukkan biaya operasional pengedropan air bersih melalui mobil tangki. ''Jadi, bukan untuk pembuatan bak penampungan,'' ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini curah hujan masih ada, kendati relatif kecil. Jadi, kebutuhan air untuk warga di berbagai desa di Kecamatan Musuk masih tercukupi. Belum ada satu pun warga yang mengeluh kekurangan air bersih. (Suti Harjoyo-49s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA