| Sabtu, 08 Mei 2004 | PEMILU 2004 |
Serangan Fajar Lebih BerhasilSEMARANG- Uang ternyata berperan strategis dan penting dalam kampanye mencari pendukung. Hal itu dikatakan DR Agnes Widanti, koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jateng, kemarin berkaitan dengan evaluasi pelaksanaan pemilu legisliatif, khususnya tentang caleg perempuan. Agnes Widanti mengatakan, ada tiga kendala yang dirasakan caleg perempuan. " Mereka tidak mempunyai uang cukup, budaya masyarakat yang masih menafikan perempuan di ranah politik, dan komitmen partai masih kurang dalam mendukung kader perempuan," katanya. Selain itu komitmen partai dalam pemenangan pemilu tidak all out. Ada instruksi dari pimpinan kharismatik untuk memenangkan salah satu calon jadi, sedang calon yang lain hanya menjadi embel-embel atau pelengkap Menurut dosen Unika Soegijapranata itu, model serangan fajar lebih berhasil daripada penyuluhan pada para calon pemilih yang dilaksanakan berbulan-bulan. Padahal kalau dihitung jumlah biaya yang dikeluarkan hampir sama. Model serangan fajar adalah beberapa minggu atau beberapa hari sebelum batas kampanye dilarang. Peserta pemilu membagi uang, sembako atau kaos kepada pemilih untuk mencoblos partainya. Juga memberi batu beberapa truk untuk pengerasan jalan kampung. "Salah seorang caleg di satu daerah pemilihan, pada tahun 1999 hanya mengeluarkan Rp 10.000. Pada pemilu 2004 mengeluarkan uang sampai ratusan juta. " Widanti merasa sebetulnya rakyat menuntut uang dari para calon legislatif karena pada Pemilu 1999 ada partai yang membagi-bagi harta kepada calon pemilih. Kini rakyat menuntut dari semua partai untuk membagi harta seperti dulu. Partai Mengajari "Jadi partailah yang mengajari rakyat menjadi 'kapitalis santun'. Mereka tidak melipatgandakan uang itu untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan rakyat berupa pembuatan jalan, pembagian kaos, pembagian uang dan lain-lain," tandas Widanti yang juga anggota Tim Sukses 30% Keterwakilan Perempuan Legislatif. Dia megatakan, perempuan yang pada umumnya bukan pencari dan pemegang uang keluarga, sangat terbatas kemampuannya untuk melakukan serangan fajar. "Pada Pemilu 1999 yang melakukan serangan fajar adalah partai, sedang pemilu 2004 caleg sendiri." kata Widanti. Budaya masyarakat atau konstruksi sosial juga tidak mendukung perempuan berkiprah di arena politik. " Perempuan selama ini menjadi alat mobilisasi kekuasaan dan alat politik yang sangat efektif, seperti pada zaman orde baru semua organisasi perempuan menjadi masa pemilih yang efektif." (hm-83) |