| Sabtu, 08 Mei 2004 | NASIONAL |
Analisis BeritaDominasi Nahdliyyin pada Pemilu 2004PARA elite Nahdlatul Ulama (NU) yang tersebar diberbagai organisasi partai politik, kini sedang memainkan peran penting, terutama dalam mengendalikan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli mendatang. Saat ini, NU tampaknya sedang memiliki nilai tawar yang tinggi terhadap semua kekuatan politik. Hampir semua kekuatan politik mengambil pusat pengaruh dari warga nahdliyyin, karena memang NU yang secara riil memiliki kekuatan yang solid hingga ke masyarakat lini terbawah. Untuk menunjuk beberapa orang tokoh NU yang kini berperan di partai besar, sebut saja di DPP Golkar terdapat Slamet Effendy Yusuf. Mantan ketua GP Ansor itu selain sebagai Ketua DPP Golkar juga mempunyai peran penting saat pelaksanaan konvensi Partai Golkar untuk menjaring calon presiden (capres) partai tersebut. Maklum, dia menjadi ketua pelaksana konvensi yang akhirnya memilih Wiranto sebagai capres mengalahkan Ketua Umum DPP Golkar Akbar Tandjung. Kemudian di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), terdapat empat orang yang kini masuk dalam Tim Lima PPP. Mereka adalah Endin AJ Soefihara, Arief Mudatsir Madan, Suryadharma Ali, dan Lukman Hakim Saefuddin. Tim Lima hasil tunjukkan Ketua Umum DPP Hamzah Haz itu kini sedang memainkan peranan penting. Karena dari tangan mereka, Hamzah Haz mau dibawa ke mana, ke posisi cawapres atau capres. Tim Lima yang didominasi kaum muda NU itu kemudian membuka keran politik untuk berkomunikasi dengan berbagai kekuatan politik. Untuk itu, Hamzah Haz pun mendatangi mantan seterunya di PPP yang kini memimpin Partai Bintang Reformasi (PBR), KH Zaenuddin MZ. Terakhir pertemuan yang dilakukan Tim Lima adalah dengan Tim Sembilan PKB yang mencoba mengangkat capres alternatif. Rumah kediaman Hamzah pun ramai didatangi tamu-tamu, mulai pagi hingga pagi lagi, antara lain Ketua PB NU KH Hasyim Muzadi, capres Golkar Wiranto, capres PAN Amien Rais. Dan, Hamzah pun datang secara khusus menemui Gus Dur. Menyebar Dari aktivis NU yang menyebar di berbagai partai besar yang kini sedang bertarung untuk mendapatkan cawapres bersumber dari NU itu, tetap saja pusat perhatian masih pada manuver yang sedang dimainkan Ketua Dewan Syuro PKB KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Orang tidak bisa mengabaikan pengaruh Gus Dur. Betapa kuat ikatan warga nahdliyyin kepada Gus Dur yang memiliki "darah biru" karena dia merupakan pewaris langsung pendiri NU KH Hasyim Asy'ari. Pengamat politik Muslim Abdurrahman pernah menyebutkan, bila orang pandai menjaga perasaan Gus Dur, maka orang tersebut akan dapat merebut hati warga nahdliyyin. Sebab di kalangan NU, Gus Dur merupakan tokoh yang memiliki magnet pengaruh yang kuat. Muslim Abdurahman mengemukakan, KH Hasyim Muzadi yang kini Ketua Umum PB NU kedudukannya hanya jabatan struktural yang pengaruhnya jauh di bawah Gus Dur yang memegang pengaruh secara kultural. Karena itu, sangat riskan jika Hasyim Muzadi maju sebagai cawapres digandeng Megawati, tapi tidak mendapatkan restu Gus Dur. Apalagi keberadaan Hasyim sebagai cawapres mewakili dirinya sebagai perorangan, itu akan diragukan oleh PDI-P. Sebab, mereka merekrut Hasyim Muzadi untuk didudukkan bersama Megawati dengan harapan membawa gerbong NU. Karena itu, kini PDI-P semakin ragu apakah Hasyim Muzadi dapat meyakinkan kalangan internalnya untuk memberikan dukungan suara kepadanya pada saat pemilihan presiden da wakil presiden mendatang. Tampaknya Gus Dur menggunakan jurus mematikan buat Hasyim Muzadi, dengan tidak memberikan dukungan buat dia yang berpasangan dengan Megawati. Dalam posisi seperti itu, Hasyim sebenarnya sedang berada di persimpangan jalan. Mengapa? Secara diam-diam sudah sejak lama Megawati mengajak Hasyim bergandengan sebagai capres dan cawapres. Justru setelah pengumuman capres cawapres definitif, Hasyim seolah-olah tidak dapat dukungan sama sekali, terutama dari Gus Dur serta pendukungnya yang menuntutnya segera mundur dari jabatan ketua umum. Sebaliknya, kini Gus Dur memberikan "angin" pilihan kepada adik kandungnya, Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) untuk menjadi cawapres Wiranto. Meski Golkar sudah bulat meminta Gus Sholah, Ketua PBNU dan Wakil Ketua Komnas HAM itu tidak berani melangkah jika tidak mendapat restu Gus Dur dan dukungan PKB. Gus Sholah menjanjikan pada Golkar untuk memberikan jawaban pada 8 Mei sebagai batas kepastian Gus Dur maju atau tidak menjadi capres dari PKB. Pada tanggal itu, Gus Dur akan menemui Ketua MA Bagir Manan untuk meminta kepastian fatwa MA mengenai persyaratan boleh atau tidak dia maju sebagai capres. Kendati sudah jelas, Hasyim Muzadi bakal mendampingi kandidat presiden Megawati Soekarnoputri pada Pemilu Eksekutif 5 Juli mendatang, kalangan PDI-P tetap saja dilanda kerisauan. Pasalnya, bila Mega jadi berduet dengan Ketua Umum PBNU itu, sementara PKB merestui Gus Sholah mendampingi capres Partai Golkar Wiranto, maka dapat dipastikan suara kalangan nahdliyyin akan terpecah. Dengan demikian, harapan Megawati bakal mendapat dukungan suara maksimal dari kalangan NU tidak akan menjadi kenyataan. Lalu, apakah itu pertanda Hasyim bakal gagal mendampingi Megawati? Soal cawapres Hasyim itu sudah final. Persoalannya, wapres untuk ketua PDI-P itu dipertanyakan nantinya akan membawa gerbong apa? Kalau cuma mau orang NU, Hamzah Haz (Ketua Umum PPP-Red) juga orang NU. Malahan dia jelas membawa gerbong PPP dan mempunyai basis politik. Anggota Dewan Syuriah PBNU Said Aqiel Siraj mengakui, capres PDI-P dan capres Partai Golkar sekarang sama-sama risau. Mereka khawatir suara pemilih dari kalangan NU akan terbelah, sebagian mendukung Gus Sholah, sebagian lagi mendukung Hasyim. Kerisauan seperti itu wajar-wajar saja karena kedua partai berharap mendulang suara tambahan dari warga NU. (A Adib-69j) |