logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 MURIA
Line

Perajin Tapal Kuda Tetap Bertahan

KONON ada yang percaya, tapal kuda (ladam) yang terjatuh dari kaki sang kuda dapat dijadikan jimat penangkal sial. Tak ada yang bisa membuktikan kebenaran hal itu, namun beberapa kalangan masih memercayainya.

Yang jelas, bukan karena kepercayaan itu bila keluarga Abdullah (68), warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus, menekuni usaha membuat tapal kuda sejak 1980-an. Bersama dua anaknya sekaligus pewaris keahliannya dalam membuat tapal kuda, Soleh (39) dan Walinun (37), mereka kini menjadi satu-satunya perajin ladam di Kudus.

Sejak belajar dari empu pembuat ladam di Desa Purwogondo, Kecamatan Margoyoso, Jepara sekitar 1970-an, Abdullah pun sedikit demi sedikit mulai mahir dalam membuat ladam. Setelah merasa berkemampuan cukup, dia pun merintis usaha pembuatan ladam di desanya.

Sebagai modal awal, dia menjual sebuah sepeda untuk membeli bahan baku. "Hasil penjualan sepeda untuk modal usaha tiga bulan. Namanya juga baru merintis usaha, jadi selama tiga bulan kami (kedua anak Abdullah) tidak mendapat upah dari Bapak," kenang Soleh, anak tertua Abdullah.

Rupanya hasil jerih payah itu tidak sia-sia, Soleh dan Walinun, hingga kini masih bertahan menjadi perajin tapal kuda di Kudus. Sementara itu, Abdullah yang telah beranjak tua hanya mengawasi saja pekerjaan kedua anaknya itu.

Bahkan ketika banyak perajin dari daerah tempat Abdullah dahulu belajar membuat ladam (Purwogondo) banting setir membuat pisau tatah untuk mengukir kayu, Soleh dan Walinun masih tetap setia dengan profesinya hingga sekarang.

Usaha yang ditekuni Soleh kini telah menunjukkan kemajuan yang berarti. Sampai saat ini sia bisa memperkerjakan tujuh karyawan. Mereka sebagian besar adalah tetangga sekitar. "Ada yang sudah 10 tahun lebih ikut dengan saya, tetapi ada juga yang baru beberapa bulan," tuturnya.

Karyawannya itu bekerja setiap hari, dari Sabtu sampai Kamis. Adapun Jumat, baik Soleh maupun Walinun mengaku tidak pernah berproduksi pada hari itu. "Jumat libur karena kami menunaikan shalat jumat, sedangkan Minggu untuk kepentingan keluarga," ungkapnya.

Dalam sehari, usaha yang ditekuni Soleh bersama dengan ketujuh karyawannya mampu menghasilkan 500-an ladam. Adapun penjualannya mencapai 350 buah per hari, dengan harga sebuah ladam berikut paku sepatunya Rp 2.000.

Dia mengaku tidak mengalami kesulitan dalam pemasaran, karena tiap beberapa hari sekali pasti ada pedagang yang datang membeli produknya. Di samping mengantar langsung dagangan ke Pasar Kliwon Kudus, dia juga mengirim sendiri ke Rembang, Kajen (Pati), dan Purwodadi.

Belum Tergeser

Selama ini usaha yang dia tekuni telah memasok untuk sepertiga kebutuhan ladam di Jawa Tengah dan bahkan sebagin Jawa Timur. Soleh dan Walinun masih yakin usaha mereka masih akan mengalami kemajuan pada tahun-tahun mendatang.

Dia mengakui, sejak merebak angkutan kota di Kudus 1985-an, hal itu pernah membuat dirinya waswas. Sebab, dokar, delman, dan andong yang selama ini menjadi sasaran produknya tentu tergeser oleh mobil-mobil tersebut. Ternyata kekhawatiran Soleh tak terbukti, meski jumlah angkutan kian membengkak, kebutuhan ladam sepertinya juga tak terusik. (Anton Wahyu Hartono-34j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA