logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 MURIA
Line

Mengoleksi 146 Keris

ORANG yang satu ini, Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Blora, Drs Didik Lukardono, acap kali membuat sensasi. Sering menyelenggarakan kegiatan yang kadangkala cukup mengundang perhatian orang, di tengah-tengah "keributan" pemerintahan yang ada. Seperti yang dilakukan baru-baru ini, menyelenggarakan simposium "wesi aji" benda pusaka keris di Blora. "Ya acara yang kami gelar ini semata-mata untuk mengalihkan perhatian orang di sela-sela hiruk pikuknya politik," ungkapnya kepada Suara Merdeka.

Kenapa harus keris ? Diungkapkan, hal itu akan menyangkut erat dengan hakekat budaya Jawa yang adiluhung dan sangat perlu dilestarikan. Termasuk riil di lapangan, bahwa sebenarnya tidak saja di Blora, penggemar atau pandemen benda pusaka tersebut hingga saat ini masih cukup banyak. Sehingga melalui wahana simposium diharapkan antara paguyuban pandemen wesi aji dari beberapa daerah bisa saling bertemu untuk tukar pengalaman.

Didik, begitu laki-laki bapak dua anak itu akrab dipanggil, mengaku saat ini dia mempunyai koleksi benda pusaka keris sebanyak 146 buah. Semuanya diperoleh tanpa ada yang beli, sebagian warisan dari nenek moyang, sebagian lagi tiba-tiba diberi oleh orang. "Bisa dibuktikan bahwa keris koleksi saya tidak ada satupun yang beli. Sebagian besar adalah warisan leluluhur, sebagian lagi diberi orang. Suatu saat ada orang datang dengan membawa keris dan mengatakan bahwa saya yang paling cocok untuk merumat barang yang dibawanya itu," jelasnya.

Sudah tentu, mengingat keris bagi orang Jawa termasuk benda pusaka, untuk menempatkan koleksi pribadinya itu Didik menyediakan tempat tersendiri untuk menaruh benda-benda yang oleh sebagian orang dinilainya masih cukup keramat, mempunyai kekuatan magis tersebut.

Konon tidak setiap orang cocok untuk merumat keris, bagaimana dengan anda apakah sering mengalami kejadian-kejadian aneh ? Dikatakan, kebetulan semua keris yang diruwatnya hingga saat ini tidak pernah menimbulkan walat bagi dirinya maupun keluarganya.

Hanya ada memang satu dua pusaka milik saya yang nakal, yakni sering pergi sendiri dari almari. " Ini yang kadangkala membuat istri saya marah, dia menduga saya sengaja mengambil keris itu dan lupa mengembalikannya sendiri.

Sukirno, SH, dosen Untag Semarang yang termasuk salah satu dari puluhan orang di Jawa Tengah yang paling getol merumat benda pusaka keris, mengungkapkan, jika saat ini ada orang yang mau merawat benda warisan leluhur itu sangat perlu dipelihara. Menurutnya, banyak dimensi yang kita peroleh dari sosok pusaka keris. "Minimal ada tiga dimensi yang bisa kita pelajari dari keris," ungkapnya. (Urip Daryanto-34)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA