| Sabtu, 08 Mei 2004 | MURIA |
Musik Lesung Tetap MengesankanTEPUK tangan hadirin tiba-tiba menyeruak, manakala empat ibu berusia 40 tahun ke atas memukul-mukulkan alu (alat penumbuk padi) ke lesung, sehingga terdengar alunan suara yang enak di dengar. Di antara hadirin itu, terlihat Wakil Bupati Blora, HR Drs Soebronto Joesoef. Sejenak, mungkin di antara hadirin yang menyaksikan adegan tersebut teringat akan suasana pedesaan tempo dulu, karena suara berasal dari alu yang berbenturan dengan lesung itu merupakan suasana khas tersendiri di alam pedesaan tempo dulu. Setiap musim panen tiba, penduduk pedesaan memisahkan padi --yang baru di-ani (potong)-nya-- dari dami (batang tanaman padi) dengan tidak menggunakan cara lain, kecuali menumbuknya dengan alat tradisonal berupa alu. "Suasana ini bisa menggugah kenangan masa lalu. Sekarang sudah jelas, tidak ada lagi, karena rata-rata petani dalam memanen padi sudah menggunakan mesin doz," ungkap seorang penonton yang tertawa lepas, saat menyaksikan perempuan-perempuan tua dari Desa Ledok, Kecamatan Sambong, itu unjuk kebolehan memainkan "seni lesung" tersebut. Jangankan mendengar suara alu berbenturan dengan lesung, mencari alat bernama alu dan lesung itu saja untuk saat ini sulit. Lebih-lebih belakangan ini, banyak kolektor seni mencari lesung yang terbuat dari kayu jati berukuran besar dan tebal. Lesung itu dikoleksi, karena merupakan barang antik dan banyak peminatnya di mancanegara. Di sela-sela tepuk tangan riuh hadirin, sang pembawa acara mengemukakan bahwa ibu-ibu dari Desa Sambong yang mahir memainkan "seni lesung" itu akan membawakan lima gendhing (lagu) Jawa secara berturut-turut; di antarnaya "Kutut Manggung", "Mas Nganten", dan "Caping Gunung". Sulit mencerna sederet gendhing yang dibawakan melalui alunan alu dan lesung itu, karena peerangkat yang digunakan memang bukan alat musik Jawa, seperti gamelan. Sehingga, untuk bisa menikmati harus tahu persis irama seni lesung itu sendiri. Sisworo, pembina ibu-ibu "seni lesung" itu, kepada Suara Merdeka juga meyakinkan, bahwa dengan alunan irama alu dan lesung tersebut sejumlah gendhing Jawa bisa dibawakan. "Ya, ingat; tadi ada gendhing Kutut Manggung, lho," ungkapnya. Menurut Sisworo, musik lesung memang sudah langka. Sehubungan itu, melalui wadah Cepu International Heritage Club (CIHC) yang dibentuknya, pihaknya berusaha untuk bisa melestarikannya. Dikatakan, ibu-ibu itu memang mempunyai keahlian di bidang tersebut secara turun temurun; sehingga tanpa harus dilatih pun, setiap saat mereka siap tampil. Yang cukup membanggakan, menurut Sisworo, seni lesung ibu-ibu Desa Ledok itu sudah sering tampil di hadapan turis asing, seperti Kanada, Belanda, dan Jerman. Dikatakan, setiap kali ada kunjungan turis asing di Cepu, sejumlah kelompok seni tradisional --termasuk di antaranya seni kothekan lesung di bawah binaan CIHC selalu disuguhkan. "Berdasarkan pengalaman yang lalu, banyak turis asing yang menyatakan sangat terkesan oleh tampilan sejumlah kesenian tradisonal khas Blora, lho," jelas Sisworo. Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Blora, Drs Didik Lukardono SH menyatakan salut atas upaya yang dilakukan CIHC. Pasalnya, sebagai lembaga nonformal, organisasi itu menaruh perhatian besar terhadap upaya nguri-nguri budaya nenek moyang yang hampir punah. "Apa pun bentuknya, hal yang dilakukan CIHC itu sepertinya perlu mendapat penghargaan," tandasnya. Tidak saja di Blora, seni lesung di beberapa daerah lain di Jawa Tengah saat ini juga mengalami nasib serupa, hampir punah. Karena itu, perlu tindakan nyata untuk melestarikannya sebagai khasanah budaya Jawa. Beberapa warga yang tergolong sudah sepuh, menuturkan, seni lesung dulunya merupakan wahana hiburan kaum wanita tani di sela-sela kesibukannya memanen padi."Biasanya, setelah seharian menumbuk padi, untuk melepas lelah sekaligus sebagai hiburan, kaum wanita tani memainkan kothekan lesung," ungkap beberapa warga. (Urip Daryanto-34a) |