| Sabtu, 08 Mei 2004 | MURIA |
Pendidikan Tinggi Tidak DigratiskanKUDUS- Jenjang pendidikan tinggi memang tidak untuk digratiskan kepada masyarakat. hal tersebut terkait dengan paradigma bahwa pendidikan tinggi merupakan suatu bentuk pilihan, dan bukan merupakan sebuah kewajiban. Hal tersebut diungkapkan Dirjen Dikti Prof Dr Satryo Soemantri Brojonegoro, ketika bertindak sebagai key note speaker dalam Seminar Nasional bertema "Menciptakan Daya Saing Daerah Bidang Pendidikan" di lantai IV Gedung Puslitbang Universitas Muria Kudus (UMK), kemarin. Dalam acara tersebut juga dihadiri Bupati Kudus HM Tamzil, Rektor UMK Prof Dr Soedarsono MS, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Drs Soebagyo Broto Sedjati. Lebih lanjut Satryo menegaskan, berbeda dengan pendidikan wajib seperti SD, SLTP, dan SLTA, pendidikan lanjutan di perguruan tinggi / akademi memiliki beberapa keunggulan komparatif. Keunggulan itu antara lain berupa bekal intelektual dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap suatu objek yang dikaji, berikut aplikasinya di lapangan. Selain itu di tingkat pendidikan tinggi juga diajarkan tentang manajemen konflik untuk dapat memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang ditemukan. "Tanpa mengecilkan arti pendidikan dasar, pendidikan tinggi memberikan wawasan dan wacana yang lebih luas kepada peserta didiknya, " tegasnya. Namun demikian sebuah perguruan tinggi hendaknya tidak menjadi menara gading terhadap lingkungan di sekitarnya. Diakui atau tidak, pendidikan tinggi memiliki tingkat intelektual yang cukup tinggi dibanding dengan jenis pendidikan di bawahnya. Dengan bekal tersebut, diharapkan institusi pendidikan tinggi dapat memberi sumbangan berarti kepada masyarakat. "Kalau hanya bisa teori tanpa aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, apa gunanya,"tegas Satryo. Potensi Masyarakat Untuk mencapai tujuan tersebut institusi perguruan tinggi terlebih dahulu harus dapat mengoptimalkan sumber daya manusia (SDM) yang ada di dalamnya. Suatu jenjang pendidikan tinggi dapat dikatakan berbobot dan bermutu bila memenuhi beberapa unsur, diantaranya mahsiswa yang berkualifikasi dan tenaga pendidik yang andal. Namun Satryo juga membantah bila dikatakan pendidikan tinggi sekarang cenderung mahal. Ia berpendapat, harga sebuah pembelajaran itu memang mahal. Apalagi untuk jenjang pendidikan tinggi, tentu saja dibutuhkan beberapa dukungan finansial. "Pendidikan memang mahal. Dosen dan guru harus dibayar sesuai dengan apa yang mereka berikan pada kita. Tetapi yang penting bukan persoalan mahal dan tidaknya, tetapi apakah dengan bekal pendidikan yang diperoleh tersebut masyarakat menjadi lebih baik," tegasnya. Bupati HM Tamzil, juga memberikan sambutan di hadapan sekitar 130 undangan dari kalangan akademisi, pendidik, mahasiswa, dan pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut. (ton-34) |