logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 KEDU & DIY
Line

Terbakarnya Toko Mirota dan Jaya Dewi

Hidran di Malioboro Tak Berfungsi

YOGYAKARTA- Kebakaran dua toko di jalan di jantung kota Yogyakarta sekarang jadi polemik di kalangan pejabat. Khususnya, soal ketidakberfungsian sejumlah hidran di Jalan Malioboro dan Jalan A Yani.

Wali Kota Yogyakarta, Hery Zudianto, menyatakan ketika terjadi kebakaran di Toko Jaya Dewi dan Mirota Batik, petugas Pemadam Bahaya Kebakaran (PBK) tak bisa memanfaatkan air dari hidran di kawasan jalan di jantung kota itu. ''Air tak mengalir karena debitnya tak mencukupi,'' ujar Hery Zudianto di Stadion Kridosono, Jumat (6/5).

Debit air berkurang karena tak ada koordinasi antara petugas PBK dan petugas PDAM Tirta Marta. Petugas PBK Kota Yogyakarta menyatakan sudah menelepon. Namun tambahan suplai air tak bisa dilakukan dengan cepat.

Ada pula yang menyebutkan, pemberitahuan soal kebakaran yang meluluh-lantakkan dua toko di Jalan A Yani itu terlambat. Diduga karena bahan yang dijual di kedua toko sangat mudah terbakar, ketika unit mobil PBK datang api sudah berkobar. Di kedua toko tersimpan banyak kain dan bahan gorden vitrage.

Karena itulah, Heri Zudianto menyatakan akan meningkatkan koordinasi kedua institusi tersebut. Sementara itu, di Balai Kota Timoho, Yogyakarta, Direktur PDAM Tirta Marta Dachron Saleh SH membantah jika dikatakan hidran di sekitar lokasi kebakaran tak berfungsi.

''Semua normal dan siap digunakan. Tak ada yang rusak,'' ujar dia.

Di kawasan itu, kata dia, ada 20 hidran. Setiap hidran dapat mengalirkan air 600 l/menit. Padahal, kata Kepala Kantor PBK Agus Budiono, setiap unit mobil PBK membutuhkan air berdebit 2.800 l/menit.

Akibat keterbatasan itu, mobil pemadam kebakaran malam itu mengambil air dari saluran penggelontor dekat Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta atau sekitar 400 m dari lokasi kebakaran.

Harus Selalu Siap

Beberapa unit mobil PBK Pemerintah Kabupaten Sleman yang membantu pemadaman harus mengambil air dari saluran air di Pathuk, Kecamatan Ngampilan, sekitar 1,5 km. Juga dari tempat pencucian mobil Dinas PU di dekat Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, sekitar 2,5 km.

Pemadaman api juga terhambat oleh keterbatasan mobil PBK Pemerintah Kabupaten Bantul yang hendak dioperasikan.

Baik karena kondisi mesin maupun ketiadaan pengemudi. Akibatnya, api baru bisa dikuasai sekitar lima jam setelah diketahui sekitar pukul 21.15.

Terlepas dari masalah teknis pengadaan air dan kesiagaan unit mobil PBK, Ketua Komisi A DPRD DIY, H Nasrullah Krisnam, menyesali hal itu.

''Kebakaran itu sangat cepat. Jadi seharusnya air dan mobil pemadaman selalu siap. Tidak harus dihubung-hubungi dulu, baru mengalirkan,'' ujar wakil rakyat dari FPDI-P itu. (P58-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA