logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 KEDU & DIY
Line

Menyedihkan, Sekolah Lesehan dan di Halaman

MENYEDIHKAN. Sulit dapat dipercaya jika saat ini masih ada kegiatan pembelajaran tak dilakukan di ruang kelas. Namun itulah yang dialami para siswa Sekolah Dasar (SD) Sidorejo. Kini, mereka belajar di halaman Balai Desa Sidorejo, Kecamatan Selomerto, Wonosobo. Padahal, SD itu hanya berjarak 6 km dari kota Wonosobo.

Kepala SD Sidorejo, Ketty Sulianti SPd didampingi Ketua Komite Sekolah Edi Santosa, Jumat kemarin, mengemukakan kegiatan pembelajaran dipindah. Sebab, gedung SD itu telah rusak parah dan membahayakan. Sekarang, atap gedung yang dibangun tahun 1976 itu lapuk dimakan rayap.

Akibatnya pada beberapa waktu lalu langit-langit ruang kelas ambrol dan menimpa dua murid laki-laki sehingga terluka. Setelah melalui musyawarah dan berbagai pertimbangan, komite sekolah membongkar atap gedung tiga ruang kelas yang relatif mengkhawatirkan.

Meski belum semua atap gedung dibongkar, untuk pengamanan ke-183 siswa dipindah ke Balai Desa Sidorejo. Balai desa hanya bisa menampung murid kelas II, III, dan V. Adapun kelas I dan IV bersekolah di halaman balai desa. Kelas VI belajar di lumbung desa.

Namun pada saat praujian sekarang ini, mereka mengerjakan tes di gedung SD yang atapnya belum dibongkar.

Ketty menuturkan karena banyak meja-kursi rusak dan tak bisa dipakai lagi, pembelajaran murid kelas II (29 anak) dilakukan secara lesehan. Meja-kursi yang masih layak pakai tinggal 25%.

"Jika hujan para siswa kami pulangkan. Bila siang hari kepanasan, para murid bernaung di bawah atap luar gedung balai desa. Namun bila sejak pagi hujan mengguyur, siswa yang belajar di ruang terbuka pun kami liburkan," ujar dia, yang sudah delapan tahun menjabat kepala sekolah di beberapa SD.

Dalam kondisi seperti itu, kata dia, daya serap siswa terhadap materi pelajaran relatif menurun. Namun fisik dan kesehatan siswa tak terganggu. Mereka tetap segar dan sehat.

Ketty, Edi Santosa, dan para guru lain menyatakan karena belajar di luar gedung bersifat darurat, setiap pagi dan seusai pulang sekolah, para siswa dibantu penjaga sekolah menyingkirkan bangku dan kursi yang mereka gunakan. Menghadapi keadaan memprihatinkan itu, Ketty dan para guru tetap bersemangat. Para murid pun tetap masuk pukul 07.00 WIB dan pulang sesuai dengan jadwal. Bahkan pada sore hari mereka diberi kegiatan ekstrakurikuler, misalnya bahasa Inggris bagi siswa kelas VI.

Ketua Komite SD Sidorejo, Edi Santosa, mengemukakan untuk menanggulangi kenyataan itu kini membuat bangunan atau barak di halaman balai desa. Barak yang memanfaatkan seng dan kayu bekas itu kelak untuk kegiatan pembelajaran bagi murid tiga kelas.

Untuk membuat barak, ujar dia, komite sekolah tak tega meminta bantuan atau dana dari wali murid atau masyarakat. Edi, yang juga Kepala Desa Sidorejo, memahami sebagian besar warganya adalah buruh tani yang berpenghasilan rendah. (Sudarman-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA