logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 KEDU & DIY
Line

HMI Harus Dekat dengan Rakyat

YOGYAKARTA - Menghadapi situasi yang makin tak menentu, Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) IAIN Sunan Kalijaga melakukan terobosan baru. Sejumlah kader organisasi itu akan terjun ke desa-desa di Kulonprogo.

Ketua Umum Subkhani Kusuma Dewi mengemukakan bangsa Indonesia saat ini menghadapi banyak persoalan. Permasalahan itu biasanya mencakup harapan yang dicita-citakan (das sollen) dan kenyataan yang terjadi (das sein).

''Kita mencita-citakan masyarakat yang menghormati hukum. Namun kenyataannya hukum diabaikan, bahkan bisa dibeli,'' kata Dewi, kemarin.

Contoh lain, kata dia, rakyat menginginkan keadilan. Namun kezaliman yang muncul. Dia menilai sekarang banyak orang besar alias elite tidak memihak yang lemah, kecil, dan tidak berdaya. Mereka tidak mau tahu kondisi dan nasib rakyat.

Itu merupakan persoalan sosial dan bukan individual, sebab terjadi di hampir segenap lapisan masyarakat. Selain itu terjadi peningkatan pengangguran dan kriminalitas.

''Pendidikan juga tak kalah gawat. Subsidi diberikan kepada orang-orang kaya, sedangkan masyarakat miskin tidak bakal bisa melanjutkan pendidikan, apalagi ke sekolah swasta. Sebab, biaya sangat tinggi,'' kata dia.

Bobrok

Semua itu, ujar dia, adalah gambaran kebobrokan tatanan sosial ekonomi dan sifat tirani elite politik. Karena itu bangsa ini memerlukan pemimpin yang sensitif terhadap aspirasi rakyat, bukan pemimpin yang sensitif pada aspirasinya pribadi dan keluarganya.

''HMI-MPO berupaya mendekatkan diri dengan realitas bangsa dan negara ini. Karena itu sejumlah kader akan melakukan penguatan emosional dengan melakukan sesuatu yang nyata di masyarakat,'' kata dia.

Mereka melakukan kegiatan itu pekan depan di Dusun Waru X, Desa Samigaluh, Kulonprogo. Dengan tujuan, lain menjalin hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Dalam kegiatan itulah mereka mentransformasikan ide dan gagasan kepada rakyat.

Selama sepekan mereka akan berhubungan dengan masyarakat. Dia berharap kelak jiwa solidaritas dan kepedulian mereka terhadap realitas sosial terpupuk. Hidup bersama realitas yang sangat kompleks tidaklah mudah. Karena itu para kader harus terjun ke lapangan agar tidak kaget ketika menemui persoalan nyata.(D19-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA