| Sabtu, 08 Mei 2004 | INTERNASIONAL |
Kekerasan Warnai Pemilu di FilipinaMANILA - Seorang calon wali kota diculik dan dua orang lainnya dibunuh dalam kekerasan terkait pemilihan umum di Filipina, kata pemerintah, Jumat kemarin. Kematian terakhir itu menjadikan seluruhnya 88 orang dibunuh berkaitan dengan pemilihan umum hari Senin lusa. Pria-pria bersenjata dengan memakai penutup kepala menculik kandidat wali kota Ulysses Olano ketika dia berkampanye di kota kediamannya, Baras, di pulau wilayah timur Catanduanes pada Kamis lalu, kata polisi. Keluarganya belum menerima tuntutan uang tebusan dan polisi sedang mengusut kemungkinan keterlibatan Tentara Rakyat Baru (NPA) yang beroperasi di wilayah tersebut. Para pemberontak telah diketahui mengganggu para calon yang gagal menyerahkan "uang izin kampanye". Sementara itu, seorang pengawal politisi lokal yang tidak dikenal di provinsi wilayah utara Abra dibunuh dan seorang tentara luka-luka di ibu kota provinsi itu Bangued, kemarin. Pengawal itu terlibat dalam satu kontak senjata dengan patroli militer, yang telah dikerahkan di wilayah itu untuk meredakan keterangan menjelang pemilihan menyusul pembunuhan terkait pemilu di wilayah itu sebelumnya. Seorang warga sipil tewas Rabu lalu di Provinsi Kalinga juga di wilayah utara ketika orang-orang bersenjata yang dipercaya sebagai pendukung salah satu calon wali kota lokal melakukan penembakan terhadap satu pasar umum yang ramai di Kota Pinukpuk, kata satu laporan polisi. Tentara dan polisi Filipina telah disiagakan untuk mencegah melebarkan eskalasi kekerasan di Manila. Secara keseluruhan ada 43 juta pemilih yang berhak di seluruh negara untuk pemilu Senin mendatang. Arroyo Unggul Sementara itu, Presiden Gloria Arroyo kemarin tampaknya melangkah maju atas lawannya setelah kampanye sengit yang membuat Filipina terpecah dan tercekam kekhawatiran akan kerusuhan. Menurut jajak pendapat, keunggulan tipis Arroyo atas penantang utamanya, bintang film Fernando Poe, karena didukung dua sekte Kristen yang berpengaruh. Salah satu sekte itu menjanjikan akan memberikan satu juta suara. Iglesia ni Christo merupakan kekuatan pemberi suara di Filipina dan diterima kubu Arroyo sebagai pukulan "mematikan" menjelang pemilihan. "Saya yakin Arroyo kini akan berhasil," kata Rizal Buendia, analis politik pada Universitas De La Salle. Filipina dilanda isu dan tuduhan bahwa unsur dalam tubuh Angkatan Bersenjata kini mempersiapkan diri untuk melakukan kudeta atau kerusuhan jika calon yang difavoritkan kalah. Kepala Gereja Katolik, Kardinal Ricardo Vidal, kemarin menyatakan keprihatinannya atas demokrasi setelah gereja dihubungi oleh kelompok kolonel yang tidak disebutkan namanya. Kelompok itu menuduh ada usaha untuk mengacaukan pemilihan presiden. Pemilihan presiden merupakan yang ketiga sejak Ferdinand Marcos digulingkan 18 tahun lalu, dan demokrasi yang rapuh berkali-kali diuji lewat kudeta dan kerusuhan, termasuk pemberontakan militer yang gagal tahun lalu. Peringatan gereja itu muncul setelah kubu Arroyo hari Kamis menuduh pihak oposisi merencanakan aksi kekerasan sebagai dalih melakukan kudeta. Tuduhan yang dibantah Poe. Jajak pendapat terakhir oleh Pulsa Asia memberikan Arroyo 37 persen suara dibanding Poe, yang hanya memperoleh 31 persen suara. Mantan kepala polisi Panfilo Lacson mendapat 11 persen suara, calon independan Raul Roco tujuh persen dan pendeta Eddi Villanueva lima persen.(ant-46) |