| Sabtu, 08 Mei 2004 | EKONOMI |
Ayam Hibrida dan Jagung Putih MenguntungkanBALAI Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng telah melakukan pengkajian teknologi usaha pengembangan ayam hibrida dan jagung maros sintetik-2 (MS-2) di Kabupaten Temanggung. Ayam hibrida diserahkan kepada peternak di Desa Sukomarto, Kecamatan Jumo dan Desa Prangkokan, Kecamatan Bejen. Ayam tersebut, kata Kepala BPTP Jateng Ir Sumardi Suriatna MEd, merupakan hasil persilangan ayam kampung pejantan dengan ayam betina ras petelur "Keunggulan ayam hibrida terletak pada pertumbuhannya yang lebih cepat. Beratnya pada usia 70 hari mencapai 1 kg, sedangkan ayam kampung hanya 0,8 kg," kata dia, baru-baru ini. Jagung MS-2 berbiji putih dari Maros, Sulawesi Selatan yang Juni nanti dilepas dengan nama varietas unggul jagung hanoman diberikan kepada kelompok tani di Desa Gentan, Kecamatan Kranggan dan Desa Langgeng, Kecamatan Tlogomulyo. Jagung menjadi bahan makanan pokok masyarakat setempat. Pengembangan ayam dan jagung dilakukan melalui sistem perguliran. Sumardi Suriatna menjelaskan rasa, serat, serta kekenyalan daging ayam hibrida mirip dengan ayam kampung. Kandungan lemaknya lebih rendah dibandingkan dengan ayam ras. Melalui keunggulan itu diharapkan ayam hibrida dapat mencukupi kebutuhan pasar daging ayam kampung yang terus meningkat. Teknologi pengembangan yang dilakukan BPTP ditujukan untuk produksi telur tetas. Harga telur ayam hibrida Rp 750/butir, sedangkan telur ayam ras hanya Rp 350/butir. Selisih harga yang cukup signifikan itu perlu menjadi perhatian sehingga ayam sebagai penghasil telur tetas dan daging tidak terganggu. "Itu tantangan bagi BPTP. Dari situ kami akan melakukan pengkajian teknologi terkini atau mutakhir agar kebutuhan pasar atas telur, daging, dan sebagainya bisa terpenuhi," jelasnya. Keuntungan Budimantoro, Ketua Kelompok Tani Ngudi Maju Desa Sukomarto mengatakan kelompoknya yang beranggota 9 orang menerima bantuan dari BPTP sebanyak 100 ekor ayam hibrida. Setelah 67 hari dikembangkan, pihaknya mendapatkan bagi hasil pengembangan 33 ekor yang mampu menghasilkan 70 butir telur/hari. "Sehari saya mendapat uang penjualan telur senilai Rp 52.500. Pengeluarannya berupa biaya pakan 12 kg/hari sebesar Rp 20.400," tuturnya. Setiap bulan dengan rata-rata penjualan 70 telur/hari pihaknya memperoleh Rp 1.575.000. Jika dikurangi biaya pakan dan perawatan, masih ada keuntungan Rp 462.000. Itu baru dari telurnya, belum pada penjualan daging. Di pasaran harga daging ayam hibrida Rp 11.300/kg, sedangkan ayam ras pedaging atau broiler naik-turun Rp 5.000-Rp 9.000/kg. Saat ini kebutuhan ayam potong berdasarkan permintaan pedagang ke tempatnya mencapai 100 ekor/hari. Kelompoknya baru bisa memasok 33 ekor/hari. Sementara itu jagung MS-2 yang dikembangkan di Desa Gentan, Kecamatan Kranggan dan Desa Langgeng, Kecamatan Tlogomulyo sekarang sudah memasuki musim tanam ketiga. Hasil yang diperoleh tidak hanya dari penjualan bahan nasi jagung, tetapi juga dari benih. Sudarman, Ketua Kelompok Tani Sukamaju Desa Gentan menuturkan kelompoknya beranggota 34 orang petani. Dia dan petani anggotanya lebih senang menanam jagung putih karena tekstur nasinya pulen. Selain itu, batangnya tidak mudah roboh meskipun terkena angin kencang. Untuk menanam jagung putih pada lahan 1 ha dibutuhkan benih 3 kg seharga Rp 87.000. Lalu pupuk 1 kuintal Rp 133.000 dan biaya tenaga kerja tanam hingga panen Rp 150.000. Sekali panen bisa memperoleh keuntungan Rp 400.000 setelah dikurangi biaya-biaya. Masih ditambah keuntungan lainnya, yakni tidak perlu membeli benih dan tersedia bahan makanan yang cukup. Pawit Pambudi, Kepala Desa Gentan menuturkan luas lahan pekarangan dan pertanian di desanya 635 ha. Warganya yang hidup sebagai petani sekitar 90% dengan rata-rata kepemilikan lahan 0,5 ha/petani. Lahan tersebut antara lain ditanami jagung, vanili, dan kelengkeng. (Priyonggo-53i) |