| Sabtu, 08 Mei 2004 | EKONOMI |
Investasi Valas Menjadi AlternatifSEMARANG- Suku bunga simpanan di perbankan yang kian menurun diprediksi berpengaruh terhadap minat masyarakat berinvestasi di instrumen keuangan lain. Salah satu alternatif investasi yang memberikan peluang return (keuntungan) lebih tinggi adalah melalui pasar uang (valas). Otto S Tirajo, Pemimpin Wilayah VII PT Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk Semarang mengungkapkan, seiring dengan penurunan suku bunga itu nasabah akan mencari produk investasi yang menawarkan keuntungan lebih tinggi daripada dalam bentuk simpanan. "Melalui produk Platinum Currency Deposit, tahun ini di Jateng kami menargetkan bisa mengelola dana Rp 20 juta dolar AS," tutur Otto didampingi Abadi Subur, Kepala Cabang Semarang di sela-sela customer gathering di Hotel Grand Candi, kemarin. Dia menjelaskan Platinum Currency Deposit adalah salah satu produk treasury yang merupakan kombinasi antara deposito dan valas. Rata-rata keuntungan yang bisa diperoleh dari investasi itu di atas 8%. "Jateng merupakan pasar yang sangat potensial sehingga kami yakin target pengelolaan dana itu bisa tercapai," ujar dia. Produk investasi lain yang cukup diminati, lanjut dia, adalah Pundi Reksadana dalam bentuk rupiah dan dolar AS. Di Jateng sejak diluncurkan pertengahan tahun lalu hingga kini telah terkumpul dana senilai Rp 650 miliar. "Kenyataan itu menunjukkan alternatif investasi selain tabungan di wilayah ini ternyata sangat diminati," tuturnya. Kinerja BII Otto memaparkan kinerja BII secara nasional yang menunjukkan perkembangan cukup menggembirakan. Hingga kuartal pertama tahun ini laba bersihnya Rp 267 miliar. Angka itu naik 294% dari Rp 68 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu. Peningkatan laba bersih, kata dia, terutama disebabkan kenaikan pendapatan bunga bersih senilai Rp 304 miliar. Itu menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan aktiva produktif dan kewajibannya yang tercermin pula pada kenaikan net interest margin (NIM) sebesar 5,54%. Beban bunga selama kuartal pertama tahun ini, menurut dia, berkurang Rp 368 miliar dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu. Hal itu sejalan dengan perbaikan komposisi dana pihak ketiga dan pelunasan sebagian pinjaman berbunga tinggi. BII, ujar dia, juga berhasil meningkatkan jumlah kredit sebesar Rp 983 miliar selama kuartal pertama tahun ini. Jumlah kredit yang diberikan hingga Maret 2004 meningkat Rp 4,29 triliun jika dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2003. "Pada periode yang sama, pinjaman bermasalah atau non performing loan (NPL) neto turun menjadi 3,04%," tambahnya. Sejalan dengan peningkatan fungsi intermediasi, kata dia, pendapatan bunga yang berasal dari kredit juga meningkat sehingga mengurangi ketergantungan BII terhadap bunga obligasi pemerintah. Di sisi lain, pendapatan operasional lainnya naik menjadi Rp 278 miliar. Jumlah obligasi pemerintah pada portofolio aktiva produktif, tutur dia, berkurang menjadi Rp 15,87 triliun atau 46,8% dari total aset. Penurunan itu sebagian karena penjualan obligasi pemerintah untuk membiayai ekspansi kredit. Dengan perubahan komposisi aktiva produktif, kata dia, BII lebih efektif dalam pemanfaatan modal sehingga mampu meningkatkan laba. (G2-53i) |