logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 EKONOMI
Line

IHSG dan Rupiah Melemah Lagi

JAKARTA- Dua pekan ini merupakan musim saham berguguran. Lebih banyak harga saham yang turun dibandingkan dengan yang naik. Aksi jual asal untung masih dilakukan oleh sebagian investor di Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Situasi politik dan keamanan dalam negeri serta perkembangan ekonomi regional telah memberi sugesti kepada para investor agar tidak perlu menahan saham.

Kondisi itu mengakibatkan Indeks Harga Saham (IHSG) tertekan lagi. Bila dua pekan lalu masih berada di atas 800, maka petang kemarin ditutup pada posisi 743,637 atau turun 2,48 poin dari hari sebelumnya.

Indeks LQ-45 yang berisi 45 saham paling aktif ditransaksikan turun 1,107 poin ke level 161,110, Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,202 poin pada posisi 123,162, Indeks Papan Utama (MBX) turun 0,274 poin ke posisi 202,436, dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 1,239 poin menjadi 168,217.

Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi 12.756 kali pada volume 3,368 juta lot saham senilai Rp 825,890 miliar. Sebanyak 41 saham mencatat kenaikan harga, 74 saham turun, dan 274 saham tidak mengalami perubahan alias stagnan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah kembali melemah ke posisi Rp 8.731/dolar AS dibandingkan Kamis lalu Rp 8.700/dolar AS. Rupiah melemah diperkirakan terpengaruh oleh yen Jepang yang melemah atas dolar AS.

Sejak pagi pelaku pasar telah memprediksi rupiah bakalan melemah akibat yen Jepang melemah atas dolar AS hingga tembus 110/dolar AS dari semula 109,84/dolar AS.

Bank Indonesia (BI) mengemukakan, berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan disimpulkan, rupiah yang akhir-akhir ini anjlok lantaran terkena imbas rambatan penguatan dolar AS secara global. Tekanan atas rupiah juga akibat upaya pemerintah memperlambat pertumbuhan ekonomi setelah kepanasan atau overheating.

Menunggu

Haryajid Ramelan, analis PT Rifan Financindo Securities, menilai, kebelumstabilan IHSG akhir pekan ini menunjukkan investor masih bersikap menunggu keputusan poltik. Saat ini misalnya, belum semua calon presiden menunjuk calon wakil presiden.

"Kendati Megawati sudah resmi menggandeng Hasyim Muzadi, pasar masih menunggu calon yang lain," tuturnya.

Dia memperkirakan, eskalasi politik menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden sampai terpilih akan terus memengaruhi pergerakan IHSG.

Menurut pendapat dia, IHSG yang melemah sepekan terakhir karena akumulasi berbagai sentimen negatif dari dalam dan luar negeri. Namun, kebijakan BI menaikkan suku bunga penjaminan dinilai positif untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed (Federal Reserve, bank sentral AS-Red) . (wa-53j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA