logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Mei 2004 EKONOMI
Line

Waspadai Memanasnya Ekonomi China

JAKARTA- Kondisi perekonomian China yang mulai overheating atau memanas diperkirakan akan berdampak pada Indonesia, khususnya ekspor ke Negeri Tirai Bambu itu.

"Kita waspada dan siap-siap saja andai nanti ada penurunan ekspor kita ke sana," kata Menteri Keuangan Boediono di gedung Departemen Keuangan, kemarin.

Kendati demikian, dia mengaku dirinya tidak mengetahui seberapa besar angka pasti pengaruh perekonomian China yang memanas terhadap ekspor Indonesia.

Menurut penjelasan dia, negara itu akan mengerem laju pertumbuhan ekonominya melalui pengurangan aliran dana termasuk kredit sehingga suku bunga naik. Dengan langkah itu, beban ekonomi mereka diharapkan berkurang.

Beberapa tahun ini, lanjut dia, perekonomian China memang mengalami pertumbuhan sangat pesat sehingga membutuhkan pasokan bahan baku produksi termasuk dari Indonesia. Upaya mengerem laju pertumbuhan dipastikan akan mengurangi permintaan pasokan tersebut.

Ekspor Indonesia ke China sebagian besar berupa minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), kertas, serta minyak dan gas.

Sementara itu, menanggapi kemungkinan Federal Reserve atau bank sentral AS menaikkan suku bunga, Menteri Keuangan menjelaskan, suku bunga di negara itu memang menentukan tingkat suku bunga internasional.

"Jepang dan Eropa juga ikut menentukan tetapi yang paling penting bagaimana kondisi suku bunga di AS," tandasnya.

Apabila suku bunga di AS berubah, tutur dia, maka pasti akan memengaruhi suku bunga, pasar modal, serta perdagangan internasional.

Besar suku bunga tersebut, lanjutnya, berpengaruh terhadap aliran dana keluar masuk suatu negara termasuk Indonesia. Dia mengharapkan, secara gradual kita bisa menyesuaikan.

Mengenai pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo 2005, dia menuturkan, cadangan devisa saat ini tidak akan kurang untuk melakukan pembayaran.

"Itu semua sudah kita hitung. Pokoknya, kita akan mencoba menampung itu dalam proyeksi APBN," ungkapnya.

Boediono juga optimistis, target pertumbuhan ekonomi 4,8% pada tahun ini dapat dicapai karena ditopang oleh sektor konsumsi serta didukung lingkungan eksternal yang kondusif.

Selain itu, dengan stabilitas ekonomi dan politik yang terjaga inflasi 2004 diperkirakan 5,5% atau lebih rendah dari perkiraan semula 6,5%. (ant,bn-53j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA