logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 04 Mei 2004 SALA
Line

Tugino, Pemburu Kroto di Perkotaan

PENGGEMAR burung kicauan tentu tidak asing lagi dengan kroto. Kroto adalah telur semut rangrang untuk pakan burung kicauan. Semut tersebut biasanya membentuk koloni di daun-daun pepohonan yang tinggi.

Yang tidak terbiasa memang sulit mencari kroto sendiri. Namun, pemilik burung tidak harus bersusah payah mencari kroto sendiri karena kini banyak pemburu kroto.

Salah satunya adalah Tugino (25), warga RT 20 RW 6 Pongang Desa Klandungan Kecamatan Ngrampal. Biasanya pencari kroto banyak beroperasi di desa-desa yang banyak terdapat pohon tinggi dan rindang.

Namun, Tugino justru memburu kroto di pepohonan tinggi di perkotaan. ''Kroto di pohon-pohon di kota malah luput dari pengamatan pemburu kroto lain,'' begitu alasannya.

Di perkotaan ternyata masih banyak pohon tinggi yang rindang. Di setiap pohon tinggi dan rindang biasanya terdapat koloni semut rangrang.

Dengan sosoh dan bambu yang disambung sepanjang 12 meter, Tugino keluar masuk kampung di perkotaan untuk memburu kroto. Jika tidak berburu, bambu itu dilepas dari ikatanya, sehingga tidak terlalu panjang dan mengganggu orang yang lalu lalang.

Jika buruan di kota menipis, dia baru bergeser ke desa-desa di pinggiran kota. Namun, saat memburu di pinggiran kota atau pedesaan dia malah sering bertemu dengan sesama pemburu kroto.

Untuk mengamati pohon yang satu dengan pohon lain, dia harus berjalan kaki puluhan kilomter setiap hari.

Minta Izin

Kroto buruannya dijual kepada pedagang di Pasar Burung Nglangon, Sragen Rp 30.000/kg. Pedagang bisa menjual eceran.

Dia biasa berburu pada pukul 07.00-14.00. Biasanya dia hanya mampu mendapat 1-1,5 kg kroto. Jika sedang beruntung, dia bisa membawa 2-3 kg kroto.

Pekerjaan mencari kroto juga berisiko digigit semut. Tidak terhitung lagi, berapa ribu kali dia digigit semut. Kroto yang mudah diperoleh di pasar burung ternyata sulit diburu. Jika hujan, para pemburu kroto pun libur.

Tidak mengherankan, jika musim hujan kroto pun mahal karena sulit didapat. Ketika akan menyosoh koloni semut guna mencari kroto, dia kerap meminta izin pemilik pohon.

Sebab, jika pohon tengah berbuah, dia tidak khawatir dituduh mengambil buah. ''Pemilik pohon mengetahui saya hanya mencari kroto, tidak memetik buah,'' ujarnya. (Anindito AN-49e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA