| Selasa, 04 Mei 2004 | WACANA |
SURAT PEMBACALawangsewu untuk Apa ?Itulah kalau kita punya eksekutif tanpa memiliki jiwa salesmanship. Bingung. Kita punya aset tapi tidak tahu cara memanfaatkan, ditawar-tawarkan siapa yang mau mengelola dan menjadi investor. Sementara calon investor senyam-senyum tetapi dalam hati mengumpat dan ngeri melihat birokrasi dan thethek-bengek-nya. Burung terbang ikut arah angin, ikan berenang ikuti arus air, kenapa kita tidak ikuti tren saja?.Karena kalau lihat di seantero jagad, bangunan hotel yang megah dengan berbagai fasilitasnya yang wah sudah jamak lumrah. Kenapa tidak kita jual yang luar biasa, yang aneh, yang lain daripada yang lain. Mengikuti tren yang sedang berkembang, rasa ingin tahu tentang dunia gaib. Kita jual saja Lawangsewu apa adanya dengan segala penghuni dan isinya. Sedikit mengeluarkan dana buat up-grade tanpa harus mengusir ''penghuninya''. Jelas ini yang pertama di dunia yang nantinya menghebohkan dan Kota Semarang akan terkenal serta menjadi tujuan wisata yang potensial. Coba bayangkan, menginap di ''Lawangsewu Haunted Hotel''. Tidur ditemani Mak Lampir cs. Dijamin paten, 100% natural, bukan sekedar goa hantu pasar malam. Jelas menantang para wisatawan mencari yang aneh-aneh, yang luar biasa. Mencari pengalaman yang tak terlupakan. Kenapa tidak kita berikan apa yang menjadi keinginan mereka? Tapi ingat mereka juga harus membayar mahal, karena ini sesuatu yang sangat istimewa. Asal dikelola secara profesional, jelas menguntungkan Pemkot, mendatangkan devisa, memajukan perekonomian Semarang. Investor yang semula sinis dan nyinyir, akan berebut meminta pengelolaan, bagi hasil dan sebagainya. Dan yang pasti, Pak Jaya Suprana dan Pak Paulus Pangka akan mencatatnya dengan tinta emas dalam Muri. Silakan dipikirkan. Ign Yongky Koeswanto *** Mencari Teman Saya mencari teman karib lama bernama Retno Quintari Darmokusumandari. Dulu tahun 1976 sekolah di SMEA Muhammadiyah Ajibarang Banyumas dan sekitar bulan April 1976 pindah ke Semarang ikut orang tua/wali. Mohon kepada Mbak Retno menghubungi saya di (0281) 571904/(0281) 571335. Kusworo AM *** Subsidi Desa Krasak Saya mendapatkan keterangan dari warga Desa Krasak Jepara bahwa uang bantuan subsidi desanya telah hilang, entah ke mana. Padahal setelah saya cek ke desa-desa sekitarnya, mereka sudah menerima dan telah menyalurkan untuk pembangunan jalan desa dan proyek lain. Tapi di era reformasi ini masih ada tokoh/kepala desa yang main curang, berani menilep uang subsidi buat kemajuan desa. Mohon Bapak Bupati bertindak tegas dan mengungkap permasalahannya. Jangan segan memberi sanksi kepada mereka yang bersalah. Amar Makruf *** Terima Kasih Pak Tentara Beberapa waktu lalu sekitar pukui 22.15 aku melingkar dari Sukorejo lewat Kaiiwungu Kendal yang terkenal sepi dan geiap. Pas di jaian lingkar tiba-tiba motorku ngadat tidak rnau hidup. Aduh gawat nih, begitu pikirku. Hampir seperempat jam usahaku sia-sia untuk menghidupkan motor. Di tempat sepi, motor rusak hingga terpaksa mendorong motor menuju tempat ramai yang jaraknya 3 km lagi. Bagaimana kalau ada penjahat merampok, padahal sepanjang jalan cuma terhampar areal persawahan dan bunyi jengkerik. Kaiau pun ada mobil melintas, pasti nggak ada yang mau peduli. Di tengah rasa lelah, putus asa dan ketakutan, tiba-tiba dari ada sorot lampu motor. Hati ini makin dag dig dug saja ketika motor tersebut berhenti tepat di sampingku. Pria berjaket hijau, berbadan tegap, berusia 30-an tahun berhenti menawarkan bantuan. Aduh, rasanya seperti memperoleh keajaiban. Pak tentara mencoba memperbaiki motorku. Dengan cekatan beiiau rrmengotak-atik aki, busi, selang bensin. Usaha hampir setengah jam tersebut tidak berhasil. Motor tetap ngadat, tidak mau hidup. Akhimya beliau menemani sepanjang jalan lingkar Kaliwungu sampai rumah temanku di Brangsong. Sejauh 3 km beliau rela menjalankan motornya pelan sambil mengajak ngobrol ngalor-ngidul. Aduh, maaf tidak bertanya nama, pangkat ataupun asal kesatuan Bapak. Lebih malu lagi, ternyata untuk hal-hal sepele seperti ini saja, lagi-lagi aku (baca; rakyat) masih perlu bantuan tentara. Terbayangkan, andai di negeri ini nggak ada tentara. Joko Suprayoga *** Pengalaman Berobat di BP Jamsostek Saya tertarik atas tanggapan di Surat Pembaca dari Bp Sardjan SSos (PT Jamsostek) untuk Bp Tarmudi di Sumberejo RT 3/RW 5 Bonang Demak. Tertulis pihak Jamsostek meragukan alamat surat tersebut. Kita tahu semua pengirim surat diharuskan melengkapi dengan tanda tangan dan KTP/SIM yang masih berlaku. Jadi pasti tidak ada pemalsuan data. Bahkan adik saya juga tinggal di daerah tersebut, tahu alamat yang dimaksud memang betul-betul ada dan tidak palsu. Mudah - mudahan Jamsostek Semarang benar mengecek alamat tersebut, tidak sekadar asal menyalahkan orang lain. Saya juga anggota Jamsostek yang berhak berobat di Balai Pengobatan Harapan Raharja Semarang. Namun seperti yang dialami Bp Tarmudi, ada beberapa hal yang membuat saya jera antara lain: - Kartu catatan penyakit pasien sering hilang, digerogoti tikus atau kebanjiran sehingga tidak ketemu saat pasien akan periksa. - Kartu catatan penyakit pasien dan keluarganya tidak disatukan sesuai nama pemilik kartu. Jadi setiap orang memiliki kartu tapi nomornya terpisah-pisah. Bisa dibayangkan betapa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencari kartu tiap orang bila yang berobat satu keluarga. - Tanggal periksa tidak ditulis urut dalam kartu catatan penyakit pasien, pokoknya di mana ada tempat kosong sehingga dokter sering kebingungan mencari data saat periksa yang terdahulu. Petugas pengambil kartu kurang ramah, mengomel sehingga suasana kurang mengenakkan. - Obatnya sering lembek dan sudah berubah warna sehingga pasien takut meminum. Untuk pihak Jamsostek Semarang mohon tindakannya, karena apa yang saya alami mungkin juga terjadi di balai pengobatannya yang lain. Sugimin Al Sugito S *** Soal PKL Simpanglima Sudah lama di seputar Simpanglima ada oknum petugas dari Kecamatan Semarang Selatan yang memungut retribusi bervariasi antara Rp 5000 s.d puluhan ribu rupiah tergantung jenis jualan para pedagang. Alasannya untuk sewa lahan dan bila pedagang tidak mau membayar, diancam akan dioperasi. Biasanya oknum tersebut ''berdinas" pada hari Minggu dan hari libur. Kadang dia menggunakan mobil Patroli K-3 atau motor dinas sehingga para pedagang pun segan berurusan dengannya. Hampir semua pedagang dimintai uang padahal mereka sudah membayar retribusi yang dipungut Pemerintah Kota. Mohon Bapak Wali Kota memberi pembinaan kepada oknum staf sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar sebagai pengayom masyarakat. Bukan sebagai pemeras rakyat kecil. Atas perhatian Bapak Wali Kota, para pedagang kecil ucapkan banyak terima kasih. Adi |