logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 04 Mei 2004 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Bagaimana Persepsi Warga Semarang terhadap Kotanya?

- Banggakah masyarakat Semarang dengan kotanya? Pertanyaan ini patut dikemukakan pada saat ibu kota Jawa Tengah tercinta ini memperingati ulang tahun ke-457. Sebuah introspeksi yang layak dilakukan sebagai bahan perenungan dan evaluasi. Sudahkah kota ini memenuhi kebutuhan warganya? Ataukah justru menawarkan persoalan-persoalan baru yang tak kunjung selesai serta menjauhkan dari sebuah realitas yang diimpikan selama ini. Warga akan merasa bangga dengan kotanya kalau memang ada sesuatu yang patut dibanggakan. Sebaliknya, bisa merasa prihatin dan kurang bangga karena kotanya justru tidak bertambah baik. Persoalan terus bertambah sementara yang lama pun belum tuntas diselesaikan.

- Kita perlu memiliki kriteria untuk menilai perkembangan sebuah kota seperti Semarang. Salah satu tolok ukur yang dijadikan pegangan adalah tingkat kondusivitasnya bagi dunia usaha. Ada hasil survei yang bisa menggambarkan masalah itu. Pernah Kota Semarang meraih posisi tertinggi dalam arti termasuk daerah yang paling menarik investor namun kemudian posisi itu merosot. Tolok ukur lain, yang perlu diketahui dari survei yang lebih besar, apakah warganya merasa nyaman hidup di kota ini. Ataukah sebaliknya, merasa sesak dan kurang nyaman. Merasa hidup menjadi lebih sulit misalnya karena menghadapi kemacetan di jalan raya yang makin banyak. Merasa terganggu oleh kemerebakan pedagang kaki lima (PKL) di segala penjuru kota yang nyaris tanpa kendali.

- Pemerintah Kota Semarang, Wali Kota, dan segenap jajarannya sampai ke tingkat kelurahan tentu sudah berupaya keras membangun kota ini serta melayani kebutuhan warganya. Bagaimana hasilnya? Itulah yang perlu dievaluasi. Dan, evaluasi tidak hanya dilakukan sepihak. Hanya berdasarkan pantauan program dan kegiatan yang sudah dijalankan. Evaluasi semestinya juga menyangkut persepsi masyarakat. Karena merekalah yang menjadi pemilik utama kota ini. Merekalah yang harus dilayani dan bukannya malah harus melayani atau diminta pengorbanan terlalu besar. Karena itu, tanyakan kepada mamsyarakat apakah mereka selama ini ada masalah? Apakah sudah cukup terpuaskan? Dan, apakah mereka cukup bangga menjadi warga kota ini?

- Menjadi sebuah ironi yang memprihatinkan ketika prasarana dan simbol-simbol penting aktivitas ekonomi perkotaan justru menyisakan banyak masalah. Contoh soal terminal bus setelah Terboyo tak bisa berfungsi sebagaimana semestinya. Berapa lama lagi masyarakat ini harus menunggu masalah itu selesai sementara kota-kota yang lebih kecil di Jawa Tengah sudah memiliki terminal yang cantik dan megah. Belum lagi menjamurnya PKL yang tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Kota lain juga menghadapi masalah yang sama. Namun, ada kesan kota ini lebih lunak dan tak mempunyai konsep jelas dalam penataan PKL. Bagaimana soal pelebaran jalan Ngaliyan, keberadaan kebun binatang baru, kebersihan kota yang tak lagi jadi andalan dan seabrek persoalan lain.

- Kita ingin kota ini memiliki prioritas dalam menangani masalah. Bukan membidik persoalan yang terlalu luas dan absurd seperti pendidikan gratis. Kalau mau menuju ke sesuatu yang lebih dibutuhkan adalah menciptakan sebanyak mungkin lapangan kerja baru namun itu bukan berarti harus membiarkan PKL menjamur di mana-mana. Sejak dahulu sektor informal ini hanyalah pelarian sementara. Kalau pendekatan populis seperti itu yang terus-menerus menjadi acuan, jangan-jangan kota ini memang tak akan bergerak ke arah yang lebih maju menjadi kota semimetropolis atau metropolis. Cobalah sekali kita berfikir keras soal prioritas. Tidak saja lembaga eksekutif, lembaga legislatif pun perlu memikirkan hal ini. Sudahkah hal itu dilakukan? Atau hanya mengalir tanpa tujuan.

- Dengan segala maaf harus disampaikan kritik-kritik semacam itu kepada Pak Wali. Sebagai bukti kecintaan warga terhadap kotanya. Bukan berarti tak mengakui kerja keras dan tentu saja tetap ada hasilnya selama ini. Akan tetapi di antara berbagai masalah yang dihadapi, prioritas itu layak dijadikan pegangan. Selain menyediakan kebutuhan warganya, seorang kepala daerah dituntut mampu menjadi salesman bagi kotanya. Menjual Semarang kepada investor agar sektor riil bergerak lebih cepat agar lahan-lahan menganggur di tengah kota tak terus-menerus dibiarkan merana. Bukan sebaliknya, malah memusuhi atau merepotkan investor. Pendekatan dan pilihan ini menjadi penting karena tak mungkin kita menyelesaikan semua masalah sekaligus.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA