| Selasa, 04 Mei 2004 | NASIONAL |
Mahalnya Pendidikan bagi Tri HermawanDARI balik kaca pintu Kantor Suara Merdeka Biro Solo, seorang bocah terlihat berusaha menajamkan penglihatannya ke dalam ruangan kantor tersebut. Dengan menempelkan wajahnya pada kaca lekat-lekat, dia kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. ''Tumbas onde-onde, Mas (Beli onde-onde Mas),'' tawarnya setelah tahu ada orang di dalam ruangan yang tengah diintipnya itu. Bagi orang-orang di sekitar lingkungan kantor tersebut, kehadiran bocah bernama Tri Hermawan itu sudah tidak asing lagi. Hampir setiap hari penjual onde-onde berusia 10 tahun dari Kampung Mojo, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasarkliwon, Solo tersebut selalu mampir ke Kantor Suara Merdeka Biro Solo. Agaknya Tri Hermawan memang tak akan pernah bisa lupa dengan tempat-tempat yang dia anggap berpotensi untuk menjual dagangannya. Sama seperti yang dia lakukan pada Senin (3/5) kemarin, ketika dia mampir di beberapa tempat di kawasan lingkungan tersebut hingga sosoknya pun mudah dikenali. Selain tubuh mungilnya, ember kecil yang penuh dengan bungkusan plastik berisi onde-onde yang hampir tak pernah lepas dari atas kepalanya akan membuat orang selalu ingat dan gampang mengenali sosoknya. Tri Germawan si bocah penjual onde-onde. Mencari Biaya Sekolah Nasib anak sekecil itu merupakan potret tentang mahalnya dunia pendididikan. Mengapa? Dia berjualan makanan itu karena ingin membantu orang tuannya mencari biaya sekolahnya. ''Hasile dodolan niki kula aturke Bapak, kangge tambah bayar sekolah (Hasil jualan ini saya serahkan Bapak, untuk tambah bayar sekolah),'' ungkapnya polos. Begitulah, pendidikan bagi siswa kelas 3 SD Negeri Mojo III, Kelurahan Semanggi itu memang teramat mahal. Apalagi dia hanya anak tukang becak yang harus menghidupi tiga orang anak. Karena itu, dia harus membantu orang tuanya bila tak ingin putus sekolah di tengah jalan. Untuk itu, dia harus menebusnya dengan bekerja keras di sela-sela harus belajar di sekolah. Dan, Kantor Suara Merdeka Biro Solo bukanlah satu-satunya tempat yang dia singgahi ketika berjualan. Masih banyak lagi yang lain, terutama tempat-tempat di sepanjang rute dari Semanggi hingga Manahan. Karena itu, ketika anak-anak sebayanya tengah bermain, Tri Hermawan harus segera pergi ke suatu tempat untuk mengambil barang dagangan. Lalu dia menjajakan dagangan itu dari kampung ke kampung. Jika laku, dia akan mendapat Rp 500 setiap bungkusnya. ''Saking arta gangsalatus saben bungkus niku lajeng kula klempake, lajeng kula aturke Bapak (Dari uang lima ratus setiap bungkusnya itu lalu saya kumpulkan dan kemudian saya serahkan kepada Bapak.'' Itulah perjalanan hidup yang harus dilalui Tri Hermawan. Dan bisa jadi, tidak hanya dia saja yang mengalami hal serupa. Mungkin masih ada anak-anak sebayanya yang juga harus bekerja keras seperti dia. (Wisnu Kisawa-58j) |