| Selasa, 04 Mei 2004 | NASIONAL |
Karyawan PT DI dari Jateng (1)Ketika Sebuah Kebanggaan TerpurukSEBELUM kisruh berkepanjangan, bekerja di PT Dirgantara Indonesia (dulu Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan Nusantara) ibarat kebanggaan dan sebuah prestise, namun kini malah terpuruk. Dikatakan kebanggaan, karena pekerjaan membikin pesawat terbang bukanlah perkara gampang, mengingat sifatnya yang khusus. Karena itu, banyak yang ingin mengabdi di sana. Jadinya, ketika berkumpul untuk membangun pesawat, pekerja dari beragam daerah berkumpul di sini. Tak terkecuali yang asal Jawa Tengah. Mereka ada yang datang dari Purwokerto, Brebes, Majenang, Kroya, Gombong, Kebumen, Kudus, Magelang, Purworejo, Pekalongan, dan Semarang. Seperti halnya karyawan-karyawan lain, di antara mereka mendapat beasiswa untuk mendalami ilmu dalam soal pembuatan pesawat terbang. Kebanyakan ke Prancis. Jelas ini membanggakan. Tapi perjalanan waktu membuat segalanya berubah. Apalagi langkah pengrumahan direksi PT DI pada Juli 2003 serta berujung pada PHK membuat nasib ribuan karyawan menjadi tak karuan. Jadi, ketika mereka sanggup berjuang melalui wadah SP FKK PT DI sampai sepuluh bulan secara konsisten sangatlah luar biasa. Memang, seperti diungkapkan kebanyakan karyawan, tindakan pengrumahan dan PHK benar-benar meneror masa depan mereka. "Masa kerja saya selama 20 tahun sungguh tidak ada artinya. Kebanggaan saya di lingkungan sekitar pun hilang dalam sekejap," kata Ir Murdiono asal Majenang. Sudah begitu, dia yang bekerja di bagian fasilitas harus menghidupi keluarganya. Untunglah, istrinya berkerja sebagai guru sehingga dapur bisa tetap ngebul. "Tapi kan saya nggak bisa tinggal diam." Bermodalkan karate, terakhir Mur menyandang DAN II, membuka padepokan di lingkungan rumahnya. Setiap akhir pekan dia melatih sekitar 50 siswa. Hasilnya lumayan ada pemasukan Rp 500.000/bulan. Seperti halnya dirinya, rekan-rekannya pun banyak yang menggeluti pekerjaan sampingan. Dari bikin konveksi, dagang kecil-kecilan, beternak, atau memanfaatkan keahliannya untuk menyambung hidup. Mardiyanto dan Pranoto asal Magelang contohnya, bergabung di Divisi Maintenance Non-Aicraft SP FKK PT DI, yang melayani jasa umum perawatan mesin pendingin hotel, turbin, dan mesin-mesin di pabrik tekstil. Selain itu, Pranoto masih sempat memanfaatkan waktunya untuk mengajar di sekolah kejuruan mengingat dia juga ahli dalam ilmu otomotif. Kendati begitu, bukan berarti semua karyawan memiliki pekerjaan sampingan. Banyak juga yang masih berat dalam menjalani kehidupan selama masa PHK. "Kemarin (Sabtu, 27/2) ada istri karyawan yang mau pinjam duit. Karena ada, kita bantu. Kalau pinjam ke orang lain agak berat karena terlalu sering, sementara kondisi perusahaan makin tidak karuan," katanya. Untuk karyawan yang belum mempunyai double job akhirnya menimbulkan anekdot lain. Mereka bukannya tidak sanggup, melainkan sedang ''beternak teri". "Sehari-harinya mereka nganter anak atau nganter istri," kata pekerja lainnya.(Setiady Dwie-58t) |