| Selasa, 04 Mei 2004 | NASIONAL |
Tentara AS DiperingatkanBAGDAD - Tujuh lagi tentara AS diperingatkan atas tindakan keji yang mereka lakukan terhadap para tahanan Irak di penjara Abu Ghraib, Bagdad, pekan lalu. Seorang perwira AS yang mengawasi penjara tersebut, kemarin, mengatakan lebih banyak personel mungkin terlibat. Atas perintah Letjen Ricardo Sanchez, Komandan Pasukan AS di Irak, enam personel pasukan AS - semuanya perwira yang sedang dan tidak bertugas - menerima surat peringatan administratif paling keras dalam militer AS, kata seorang perwira militer yang tidak bersedia disebut namanya. Perwira ketujuh memperoleh surat peringatan yang tidak begitu keras. Perwira tersebut menyatakan, dia yakin investigasi terhadap para personel itu telah selesai dan mereka tidak akan menghadapi tindakan lebih lanjut atau pengadilan darurat perang. Namun, peringatan tersebut bisa berarti berakhirnya karier mereka. Enam polisi militer AS lainnya telah menghadapi tuduhan kriminal. Brigjen Janis Kapinski, yang mengawasi penjara itu, mengatakan pada program ABC ''Good Morning America'', dia tidak tahu tentang perlakuan keji terhadap para tahanan saat tindakan itu dilakukan. ''Perbuatan mereka tercela,'' kata Karpinski, kemarin. ''Andai saya tahu sesuatu tentang tindakan itu, pasti saya segera bertindak.'' Kapinski, Komandan Brigade Polisi Militer ke-800, mengatakan bahwa dalam satu foto yang diambil di penjara itu, tampaknya lebih banyak personel Amerika yang terlibat dalam tindakan itu, selain enam yang telah didakwa. ''Memang. Satu foto tidak menunjukkan wajahnya secara penuh, namun ada 32 sepatu boot,'' jelas Karpinski kepada ABC. ''Saya kira lebih banyak personel terlibat, selain enam polisi itu.'' Tidak jelas apakah personel yang dimaksud termasuk tujuh tentara yang diperingatkan kemarin. Pekan lalu, program ''60 Minutes'' CBS menayangkan gambar-gambar yang memperlihatkan orang-orang Irak ditelanjangi, ditutup wajahnya, dan disiksa oleh tentara AS yang menahan mereka. Majalah The New Yorker melaporkan, laporan internal AD Irak menyebutkan, para tahanan Irak itu menjadi sasaran perlakuan kriminal yang sadistik, menyolok, dan asusila. Komandan Fallujah Seorang perwira AS kemarin juga mengatakan, Amerika menunjuk seorang mantan perwira senior AB Irak untuk memimpin pasukan Irak di Kota Fallujah. Pejabat itu menjelaskan, Mohammed Latif akan memimpin Brigade Fallujah, namun latar belakangnya masih diperiksa. Batalyon pertama brigade tersebut kini beroperasi di bawah komando Jenderal Jassim Mohammed Saleh. Marinir AS mengepung kota berpenduduk sekitar 300.000 jiwa itu. Mereka yakin para militan asing mau menerima tawaran Saleh untuk memimpin ratusan eks tentara dalam memulihkan ketertiban di kota Muslim Sunni itu sementara pasukan Marinir AS ditarik mundur. Namun penunjukkan itu menyulut kemarahan di antara warga Irak yang menderita di bawah rezim Saddam Hussein, dan menuduh Saleh menjadi mantan jenderal Garda Republik yang bertanggung jawab atas penumpasan perlawanan Muslim Syiah pada 1991. Para perwira senior AS di Bagdad dan Washington segera menjauhkan diri dari keputusan penduduk untuk menunjuk Saleh, dan Marinir di Fallujah mengadakan perundingan dengan Latif, Minggu lalu. Perwira yang mengumumkan penunjukannya mengatakan, Latif adalah mantan perwira intelijen di bawah Saddam yang menghabiskan waktunya sebagai staf pengajar perguruan tinggi di Inggris. Sumber-sumber militer lain menyebutkan Latif berselisih dengan Saddam dan dipenjara atau dikucilkan, atau kemungkinan dua-duanya. Saleh masih bertugas di Fallujah, dan mungkin terus memimpin Batalyon Pertama Brigade Fallujah, kata perwira senior tadi. Serangan di Najaf Dari Najaf dilaporkan, kelompok milisi kemarin menggempur satu pangkalan AS dalam serangan paling dahsyat terhadap tentara AS di Kota Najaf. Di kota tersebut pasukan Amerika telah menahan diri untuk tidak melancarkan serangan guna mencegah kemarahan mayoritas Muslim Syiah Irak yang menguasai kota tersebut. Gempuran itu dimulai Minggu malam, ketika sekitar 20 mortar menghantam bagian dalam dan sekitar bekas pangkalan tentara Spanyol, yang diambil-alih tentara AS, pekan lalu. Tidak ada korban dalam gempuran tersebut. Tembakan mortar dilanjutkan lagi kemarin siang, dan tentara AS membalas menembak. Tembakan sniper juga terdengar sampai bentrokan itu berhenti beberapa jam kemudian. Sementara itu, Thomas Hamill (43), sopir truk dari Mississippi yang meloloskan diri dari para penculiknya di Irak setelah tiga pekan ditawan, kemarin tiba di Jerman untuk berkumpul lagi dengan istrinya. Hamill menggedor pintu di rumah tempat dia ditahan di utara Bagdad, ketika dia mendengar patroli AS lewat Minggu lalu. Tindakannya itu membuat tentara AS menghampiri rumah itu, tempat dua warga Irak juga ditahan. Hamill diculik orang-orang bersenjata pada 9 April setelah konvoinya diserang tidak jauh dari Bagdad. Sementara itu juru bicara militer AS mengatakan, sembilan prajurit AS tewas di Irak, Minggu, enam di antaranya dalam serangan mortir terhadap sebuah pangkalan militer di kawasan barat negara tersebut. Dengan kematian-kematian terakhir itu, jumlah prajurit AS yang tewas dalam dua hari pertama Mei menjadi 14 orang. Secara keseluruhan, 552 prajurit AS tewas dalam perang sejak invasi yang dipimpin AS untuk menggulingkan Saddam Hussein..(rtr-niek-ant-46) |