| Selasa, 04 Mei 2004 | NASIONAL |
Diteror lewat SMSCapres Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan soal adanya upaya-upaya menjatuhkan dirinya. Banyak pesan melalui SMS sebagai propaganda yang sangat merugikan dirinya. "Saya dikatakan dibiayai agen asing, di belakang saya ada pihak asing. Itu semua tidak benar, hanya fitnah besar," jelasnya. Hal tersebut disampaikan SBY setelah menjadi penceramah Maulid Nabi di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Minggu (2/5). Berkaitan dengan pemilu eksekutif, dia mengingatkan semua elemen masyarakat agar bersikap demokratis karena demokrasi itu memang sangat berpeluang memunculkan sikap pro dan kontra. Tidak satu sen pun bantuan asing masuk kepada dirinya. Bahkan tidak ada satu agen asing pun yang mengendalikan dirinya. "Saya ini jelek-jelek punya prinsip. Saya tidak mungkin mencederai konstitusi. Karena itu saya berharap, semua anggota masyarakat waspada terhadap propaganda gelap dan politik kotor semacam itu," tegasnya. Dia menilai, langkah-langkah politik semacam itu perlu segera dihentikan. Sebab dia berkeyakinan, cepat atau lambat orang yang melakukan tindakan tidak terpuji akan dapat sanksi baik moral maupun yang lain. Untuk menangkal politik kotor tersebut, SBY mengaku sudah mengambil langkah-langkah strategis. Sayang, dia tidak menjelaskan secara terperinci soal langkah-langkah dimaksud. Dia hanya menekankan, langkah tersebut bisa jadi bermuara pada hukum dan karena itu harus segera dihentikan. SBY memahami sikap sekelompok mahasiswa UMI Makassar yang menentang capres dari unsur TNI. Sebab dalam dunia demokrasi, ungkap mantan menko polkam itu, sangat memungkinkan munculnya sikap pro dan kontra. Dia menyerahkan sepenuhnya pemilihan eksekutif nanti kepada rakyat karena yang sangat menentukan adalah rakyat. Namun sikap sebagian mahasiswa yang menolak calon presiden (capres) dari TNI perlu juga dicermati. Meski demikian, dia mengaku sangat prihatin dengan kasus yang terjadi di Makassar. Bentrokan mahasiswa dan aparat kepolisian itu sebenarnya tidak perlu terjadi bila semua pihak bersikap demokratis. Sebab, di Indonesia tidak ada profesi yang jelek. Keberadaan kandidat presiden tersebut di Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo karena memenuhi undangan pengasuhnya, KHR Fawaid As'ad. Sebenarnya pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam KH Hasyim Muzadi juga diundang, namun dia berhalangan hadir. Padahal, sebelumnya Ketua Umum PBNU itu juga sudah menjadwalkan perjalanan ke Situbondo dan Banyuwangi pada hari yang sama. Kalangan ulama lainnya yang hadir, KH Mahfudz Samsul Hadi Surabaya dan KH Ali Mashuri serta Habib Abullah.(Jo-83j) |