| Selasa, 04 Mei 2004 | NASIONAL |
Hasyim Siap Dampingi Mega
JAKARTA- Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Senin (3/5) kemarin menemui Ketua Umum PPP Hamzah Haz. Kepada Hamzah, Hasyim menyatakan kesiapannya untuk mendampingi Megawati Soekarnoputri maju dalam Pemilu Eksekutif 5 Juli mendatang. Haz pekan lalu menganulir keinginan sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Pertemuan kedua tokoh NU itu di kediaman Hamzah Haz, Jalan Tegalan, Matraman, Jakarta Timur. Dalam pertemuan tertutup lebih kurang satu setengah jam mulai pukul 09.00 itu, Hasyim ditemani istrinya sedangkan Hamzah didampingi anggota FPP DPR RI Arief Mudatsir dan Sekretaris DPP PPP Lukman Hakim. Seperti diberitakan, Rakernas X PDI-P baru-baru ini merekomendasikan dua nama dari kalangan NU yang disiapkan untuk mendampingi Mega sebagai cawapres, Hamzah Haz dan Hasyim Muzadi. Namun dalam pertemuan kemarin, Hamzah menjelaskan bahwa dirinya telah berkirim surat kepada Mega agar memilih Hasyim sebagai pasangannya untuk maju ke Pemilu Ekesekutif 5 Juli mendatang. "Dengan surat yang sudah saya berikan kepada Ibu Megawati, tidak ada lagi yang perlu diragukan. Karena calon dari PDI-P tinggal satu, Pak Hasyim Muzadi," kata Hamzah yang hari itu tampil mengenakan batik warna hijau bermotif kuning tanpa memakai peci. Belum Terbuka Orang nomor satu di partai berlambang Kakbah itu lantas menyarankan Hasyim untuk menerima lamaran PDI-P yang akan memasang tokoh NU Jatim tersebut sebagai cawapres. Rupanya anjuran tersebut diterima Hasyim yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi cawapres PDI-P mendampingi Mega sebagai capres. "Dan, Pak Hasyim sudah siap berdampingan dengan Ibu Megawati," tandasnya. Namun, Hasyim belum bersedia menyatakan secara terbuka kesiapannya mendampingi Mega. Dengan alasan, PDI-P belum mengumumkan secara resmi tentang cawapres yang mereka inginkan. "Diumumkan saja belum. Tunggu kalau sudah declare," ujarnya. Mengenai maksud kedatangannya menemui Hamzah, Hasyim menjelaskan, pada saat terjadi tarik-menarik politik seperti sekarang dia merasa perlu bersilaturahmi kepada tokoh NU yang lain termasuk Hamzah. "Di tengah-tengah tarik-menarik seperti ini, jika tidak ada silaturahmi akan banyak salah paham dan fitnah. Karena itu, saya bersilaturahmi kepada tokoh NU yang lain," jelas dia. Menjawab pertanyaan, apakah PDI-P lebih cenderung memilih dirinya sebagai pendamping Megawati, Hasyim mengaku bahwa yang dia dengar memang demikian. "Katanya begitu. Akan tetapi baru bisa dipastikan jika ada declare. Sampai sekarang belum ada declare itu." Hamzah menyerahkan langkah dirinya kepada partai. Berdasarkan Rapimnas PPP pada 28-29 Mei lalu, partai berlambang Kakbah itu akan membuka koalisi dengan berbagai partai. "Itu yang akan kami lakukan. Karena dengan PDI-P sudah selesai, berarti terbuka untuk yang lain. Namun, masih perlu waktu lagi," tandasnya. Satu-Dua Hari Sementara mengenai kepastian dan pernyataan resmi rencana PDI-P menggandeng Hasyim Muzadi sebagai calon wapresnya, serta jawaban Hasyim atas ajakan itu, rencananya akan disampaikan satu atau dua hari mendatang. Tokoh senior PDI-P Sabam Sirait tidak membantah soal kepastian Megawati berpasangan dengan Hasyim. "Tapi, saya tidak dalam posisi mengumumkan ya. Tunggu saja satu atau dua hari lagi," kata Sabam, Senin (3/5). Sabam sebagai anggota Dewan Pertimbangan Partai (Deperpu) DPP PDI-P terlibat dalam lobi-lobi politik untuk cawapres bagi Megawati. Sebelumnya, Sabam ikut melobi Gus Dur dan juga melobi Sri Sultan Hamengku Buwono X. "Saya memang selalu mengikuti perkembangan ini. Tapi, kami kan terus melakukan pertemuan-pertemuan lanjutan agar semua pihak legowo," ungkapnya. "Dulu Pak Mahfud MD (Wakil Ketua Umum PKB) mengatakan, Hasyim Muzadi 90 persen menerima Megawati, ya saya amini," lanjutnya. Sabam juga mengaku gembira bila Hamzah tampaknya legowo batal dipilih Megawati. Belum Tentu Mendukung Kendati Hasyim sudah hampir pasti menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati, prospek duet keduanya masih perlu dipertanyakan. Karena menurut AS Hikam, kaum nahdliyin belum tentu akan mendukung duet tersebut. Menurut salah seorang ketua DPP PKB itu, warga NU belum mendukung duet Mega-Hasyim. Sebab tampilnya Hasyim untuk mendampingi calon presiden dari PDI-P Megawati bukan atas nama institusi NU tetapi pribadi. "Tidak otomatis warga NU mendukung (Pak Hasyim-Red), karena itu keputusan pribadi. Dia tampil sebagai diri sendiri, dan tidak mewakili PKB atau NU," kata Hikam. Hikam, yang ditemui usai mendampingi Ketua Umum PKB Alwi Shihab melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PPP Hamzah Haz di Tegalan Matrataman, Jakarta Timur, Senin (3/5), menyatakan bahwa pendapatnya itu sesuai dengan pernyataan Rois Aam PBNU KH Sahal Mahfudh yang telah menegaskan bahwa NU tidak ikut dalam dukung mendukung calon presiden. Temui Pimpinan PKB Sedangkan pertemuan antara Hamzah Haz dengan pimpinan PKB di Jalan Tegalan Matraman, Jakarta Timur masih menjadi teka-teki. Demikian pula hasil pertemuan antara Hamzah dengan Ketua Dewan Syuro PKB Gus Dur di rumah Dirut Bank Mandiri ECW Neloe, Jalan Adityawarman Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (2/5). Namun yang pasti, dalam pertemuan itu Gus Dur menyatakan dukungannya apabila Hamzah menjadi capres atau cawapres. Gus Dur juga mengaku akan memanggil pimpinan PKB untuk menindaklanjuti keinginan Hamzah Haz itu. Pertemuan Hamzah dan Gus Dur di rumah Dirut Bank Mandiri itu, semula sempat menimbulkan tandatanya sejumlah kalangan karena dinilai aneh. Walaupun Neloe dikenal dekat dengan Gus Dur, sebenarnya dia bukan politikus sehingga beberapa kalangan meragukan Neloe akan menjembatani pertemuan itu. Namun demikian dari pertemuan itu, muncul beberapa prediksi, di antaranya tawaran PDI-P kepada PKB dan PPP kursi di parlemen setelah PDI-P memastikan diri untuk menggaet Hasyim Muzadi sebagai cawapres. (A20,dtc-87j,69) |