| Selasa, 04 Mei 2004 | INTERNASIONAL |
Militan Thai Gunakan Senjata JarahanBANGKOK - Orang-orang yang diduga militan muslim, menembakkan tiga granat bertenaga roket M-79 ke sebuah pos polisi di Thailand selatan, tidak jauh dari tapal batas Malaysia, kata Kepolisian Provinsi Yala, Senin. Tidak ada korban jiwa dalam serangan Minggu malam itu, tetapi seorang polisi terluka. Pada saat yang sama, kelompok lain membumihanguskan sebuah kantor pemerintah di daerah pedalaman Yala. Kedua insiden tersebut terjadi, menyusul kerusuhan berdarah Rabu pekan lalu di empat provinsi Thailand selatan, saat mana 100 lebih militan - yang dikabarkan menyerang pos tentara dan polisi - ditewaskan. Insiden Rabu lalu itu tercatat yang paling serius sejak sebuah gerakan separatis muslim mengobarkan perlawanan bersenjata, Januari lalu. Pada waktu itu, gerakan tersebut menjarah ratusan pucuk senjata api dari sebuah depo senjata AD Thailand di sebuah kota di selatan. Dalam serangan Minggu malam, kaum militan menembakkan granat bertenaga roket dengan memakai peluncur M-79 ke pos polisi Thanto, tidak jauh dari tapal batas Thailand, kata seorang jubir kepolisian setempat. Tipe peluncur granat buatan AS itu termasuk dalam senjata-senjata yang dirampok dari depo senjata militer di Provinsi Narathiwat, Januari lalu. Ratusan pucuk senapan serbu hasil rampokan tersebut, belakangan diakui oleh Thailand telah dikirim kepada GAM di Indonesia. Pasukan Ditambah Militer Thailand mengirim satu batalyon pasukan tambahan ke wilayah bergolak di selatan. Senin kemarin, pasukan berkekuatan 700 personel itu tiba di Pattani dengan kereta api. Kebanyakan anggotanya pernah bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian di Timor Timur, dan akan menjaga sekitar 20 sekolah yang dipandang oleh kaum militan sebagai lambang otoritas Bangkok. Ke-20 sekolah itu, yang dibakar oleh kaum militan separatis dalam suatu serangan di Pattani, telah diperbaiki oleh pemerintah dan menurut rencana dibuka kembali pada 17 Mei. ''Kita ditugaskan di sini untuk melindungi tanah air kita, mendatangkan keamanan bagi para guru dan murid, serta menjaga kedaulatan negara,'' kata Letnan Jenderal Pisan Wattanawongkeeree, panglima Kodam Wilayah Selatan, kepada para prajurit yang baru tiba itu. Batalyon yang lain akan tiba di selatan pada akhir pekan ini, sehingga seluruhnya bakal ada delapan batalyon tempur darat di Thailand selatan, sejak kaum separatis muslim mengobarkan perlawanan, empat bulan lalu. Tidak seperti gerakan separatis tahun 1970-an adn 1980-an, generasi baru militan di selatan sekarang tidak punya pemimpin resmi atau manifesto tertulis. Para pejabat Thai mengatakan, kaum militan di Thailand selatan melarikan diri dan berlindung di wilayah Malaysia utara, setiap mereka terdesak oleh pasukan pemerintah. PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengatakan Jumat lalu, negaranya bersedia menerima atau menampung orang-orang Thai yang melarikan diri dari negara mereka. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, dalam ucapan yang tampaknya menanggapi tawaran Badawi itu, sehari kemudian mengatakan ''beberapa negara asing coba mencampuri urusan internal Thailand''. Malaysia Bereaksi Thaksin tidak menyebutkan nama sebuah negara pun. Di Kuala Lumpur, Menlu Malaysia Sayid Hamid Albar mengatakan ucapan PM Thailand itu tidak dialamatkan kepada Malaysia. Suatu pertemuan antara delegasi Malaysia dan PM Thaksin di Bangkok akan berlangsung Selasa ini sesuai jadwal, lapor koran The New Straits Times, Senin, mengutip keterangan Sayid Hamid. ''Saya yakin kata-kata tajam PM Thaksin mengenai keterlibatan asing bukan ditujukan kepada Malaysia, karena kami memahami satu sama lain secara lebih baik dan telah terlibat dalam kerja sama yang erat dalam masalah ini,'' kilah Sayid. Menurutnya, kesalahpahaman dapat saja terjadi setelah PM Abdullah menawarkan perlindungan kepada orang-orang Thai yang mengungsi untuk menjauhi daerah konflik di Thailand selatan. Kawasan Thailand yang sedang dilanda konflik, merupakan kampung halaman sedikit orang yang berkeinginan melepaskan diri dari pemerintah pusat di Bangkok pada tahun 1970-an dan 1980-an. Pasukan keamanan sejak lama mencurigai hubungan kelompok garis keras di Thailand dan Malaysia. Beberapa pejabat Thai pernah menyatakan, kelompok garis keras di balik kekerasan di Thailand selatan telah menyelamatkan diri ke Malaysia. Pernyataan itu mengakibatkan meningkatnya ketegangan di antara kedua negara bertetangga tersebut. (rtr-ed-30) |