| Sabtu, 01 Mei 2004 | SALA |
Rencana Relokasi Terminal Tirtonadi (3-Habis)Redesign Tekan Masalah dan DanaDARI alternatif pengembangan Terminal Bus Tirtonadi, relokasi dan redesign, rasanya selayaknya Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta mempertimbangkan model redesign. Mengapa? Sebab alternatif itu bisa meminimalisasi masalah nonteknis dan pendanaan. Apalagi kondisi keuangan Pemkot saat ini juga defisit. Penataan ulang merupakan langkah jangka pendek untuk mengatasi overload di terminal. Tirtonadi saat ini terbagi tiga bagian. Terminal A untuk jalur pemberangkatan bus jurusan timur seperti Sragen dan Jawa Timur, jurusan selatan seperti Wonogiri dan Pacitan, serta arah utara untuk bus jurusan Purwodadi dan Blora. Terminal B merupakan lokasi penurunan penumpang dari bus semua jurusan yang masuk terminal. Sementara itu Terminal C merupakan lokasi pemberangkatan bus jurusan barat seperti Jakarta, lintas Sumatera, Semarang, Yogyakarta ataupun Purwokerto. Kepala Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Solo, Ponco Wibowo SH SpN mengungkapkan, sebagai terminal tipe A seharusnya Tirtonadi mengakomodasi semua jenis pelayanan angkutan jalan, baik antarkota dalam provinsi (AKDP), antarkota antarprovinsi (AKAP), maupun angkutan perkotaan dan pedesaan. "Saat ini secara riil Tirtonadi belum memiliki lokasi tersendiri untuk angkutan perkotaan. Namun untuk menampung angkutan perkotaan disediakan lahan parkir penumpang di bagian timur dan barat, termasuk taksi," katanya. Lahan Tambahan Data menunjukkan, saat ini bus yang masuk terminal 3.200 per hari. Terminal A (timur) menggunakan lahan 2.400 m2 dengan fasilitas 16 celuk (jalur pemberangkatan bus berbagai jurusan). Idealnya perlu lahan 4.000 m2 untuk membuat 32 celuk beserta lahan bagi bus melakukan manuver. Sementara itu untuk terminal barat saat ini hanya ada lahan 3.900 m2, namun hanya bisa menampung 1.100 rit bus dari 1.480 rit yang seharusnya mengisi lahan itu. Untuk bisa memenuhi kebutuhan itu, perlu lahan seluas 6.000 m2. Anggota Komisi D DPRD Surakarta, Agus Supriyono, secara pribadi sependapat kalau Pemkot melakukan redesign. Ada beberapa alasan untuk mendukung pendapat tersebut. "Saya melihat dari sisi dampak yang muncul dengan pengembangan tersebut. Saya rasa redesign merupakan alternatif jangka pendek," katanya. (Sri Wahjoedi-17n) |