logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 01 Mei 2004 SALA
Line

Jamasan Nyai Setomi Tak Diminati

ALUN ALUN LOR - Jamasan meriam pusaka Nyai Setomi di Sitinggil Lor dalam rangkaian Sekaten 2004, belum begitu populer. Karena itu baru sedikit pengunjung berminat menyaksikan ritual pencucian pusaka di bulan Mulud ini. Meski begitu, beberapa orang yang menanti sejak pagi, sudah menyiapkan kemasan untuk menadah air bekas jamasan yang dilaksanakan kemarin pukul 10.30.

Ritual pencucian pusaka yang bersamaan Sekaten 2004, 16 April-9 Mei ini, suasananya bertolak belakang dari keramaian pasar di alun-alun, Pendapa Pagelaran atau di halaman Masjid Agung. Sebab, di ketiga tempat itu penuh sesak pengunjung setiap hari, sejak pagi hingga malam, sedangkan yang terjadi di Bangsal Witono Sitinggil Lor kemarin, tergolong sepi pengunjung.

Ritual jamasan yang berlangsung kemarin, memang agak berbeda dari biasanya yang berlangsung pagi, kurang lebih pukul 09.00. Kemarin, baru pukul 10.00 para abdi dalem yang membawa sesaji pepak ageng tiba di Bangsal Witono, sedangkan ulama dalem RT Pudjodipuro segera memimpin doa wilujengan, disaksikan Pengageng Parentah Keraton GPH Dipokusumo, Ketua Pelaksana Sekaten 2004 KP Satyo hadinagoro beserta istri GK Ratu Galuh Kencanasari, dan KRHT Winarsa Kalingga Hanggapura.

Selesai berdoa, Pengageng Keparak Reksapraja KRHT Wreksadipura memerintahkan abdi dalem yang bertugas melakukan jamasan untuk membuka pintu krobongan tempat menyimpan meriam Nyai Setomi. Pintu utara dan selatan krobongan segera dibuka, kelambu segera dilepas dan diganti dengan yang bersih.

Bawa Jerigen

Begitu selesai jamasan, tampak belasan orang menunggu di sudut timur bangsal sambil membawa jerigen dan botol bekas kemasan air mineral. Tanpa diminta, beberapa abdi dalem kontan meminta botol dan jerigen yang tertata untuk dituangi air bekas jamasan yang ditadah di beberapa ember ukuran sedang dan sebuah bak berukuran 1 meter kubik.

Seorang nenek bernama Sumilah (70) bersama cucunya, mendapatkan dua jerigen bekas air jamasan itu. Menurut dia, hampir setiap ada jamasan, terutama yang bersamaan Sekaten di bulan Mulud, dia atau keluarganya pasti datang untuk ngalap berkah air bekas jamasan.

"Janipun, setahun kaping kalih enten jamasan Nyai Setomi. Ning kula namung saget dugi ngriki pas Sekaten. Amargi putu-putu kula saget tumbas kesenenganipun. Toya kalih jerigen niki, saget kangge srana ngantos setunggal tahun," tutur wanita asal Wali Kukun, Ngawi (Jatim) yang tampak masih ringas (gesit-Red) itu, dalam bahasa Jawa krama madya, ketika dihampiri Suara Merdeka, kemarin.

Meski ritual jamasan tidak semeriah suasana pesta rakyat Sekaten, tetapi menurut Juru Penerang Budaya KRHT Winarsa Kalingga Hanggapura, kegiatan itu layak disosialisasikan kepada masyarakat luas. Selain makna ritual dan atraksi budayanya, pengertian jamasan dan fungsi lokasinya perlu dikenalkan kepada masyarakat secara benar, menyeluruh, dan urut. (won-17i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA