| Sabtu, 01 Mei 2004 | SALA |
Belum Ada Sosialisasi soal Rusun
LAWEYAN - Rumah susun (rusun) pertama di Solo di RT 5 RW 3 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, pembangunannya hampir rampung. Namun hingga kini, 55 keluarga yang akan menempati rumah susun nasional sewa (rusunawa) tersebut belum menerima sosialisasi dari Pemkot. "Belum ada sosialisasi resmi dari Pemkot dan pihak lainnya terkait dengan rusun tersebut. Jadi warga belum tahu kapan rusun itu jadi dan warga bisa menempatinya," ujar seorang warga kampung Begalon, Ny Indung, kemarin. Dia menuturkan, sosialisasi yang diterima warga hanya dilakukan saat penyerahan bantuan pindah beberapa bulan silam. Pada saat itu warga yang semula menempati tanah hak pakai (HP) Pemkot No 8 diminta pindah dari lokasi itu. Sebab lokasi bekas makam kampung yang dihuni warga itu akan dibangun rusun. Setelah menerima bantuan pindah Rp 5,5 juta, warga diminta menempati tanah HP No 11 di seberang lokasi semula. Mereka diminta membangun bedeng sendiri. Mereka diprioritaskan untuk menempati rusun tersebut. Selain itu, mereka pun memperoleh keringanan sewa rusun yang besarnya tiap bulan hanya Rp 25.000 untuk lantai dua dan Rp 20.000 untuk lantai tiga. Setelah rusun siap ditempati, mereka harus meninggalkan bedeng yang sifatnya sementara. Seperti diwartakan sebelumnya, bangunan berlantai lima yang dibiayai Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) senilai Rp 6,55 miliar tersebut akan ditempati 55 warga yang huniannya digusur akibat pembangunan rusun tersebut. Petak hunian yang disediakan 96 buah dengan luas rumah tipe 21. (Suara Merdeka, 26/1) Meninjau Warga lainnya, Bandot menuturkan hal senada. Beberapa kali terlihat aparat pemerintah datang meninjau tempat itu, tetapi dia belum mendapat pemberitahuan resmi. Karena belum ada pemeberitahuan, warga tidak tahu kapan bisa pindah dan menempati petak. "Belum diketahui nanti ada pengundian atau tidak, kapan bisa pindah, juga kapan selesainya," ujar dia yang bekerja sebagai petugas pengaman di proyek tersebut. Ny Indung menyatakan, dari 96 petak yang sudah selesai pembangunan konstruksinya itu, terdapat satu petak yang sudah jadi dan dijadikan contoh. Warga sudah ada yang melihat percontohan tersebut. Menurut dia, rumah itu dibuat tanpa penyekat untuk kamar. Hanya terdapat kamar mandi tertutup dan tempat jemuran di bagian belakang hunian. "Kalau melihat contohnya, lantainya dikeramik. Namun tidak tahu nanti lainnya bagaimana? Sebab yang lain kan dalam proses penyelesaian," kata dia. Namun ketika Suara Merdeka mencoba melihat petak hunian yang menjadi contoh, beberapa orang menyarankan harian ini mendatangi kontraktor untuk meminta izin. Tetapi sayangnya, kontraktor tak berada di tempat sehingga izin itu tak diperoleh. Di tempat terpisah, Plt Kepala Dinas Tata Kota (DTK) Ir Budi Yulistanto mengatakan, dia kurang mengetahui kapan Pemkot akan melakukan sosialisasi rusun tersebut. "Saya tidak tahu karena bukan kewenangan kami. Saya juga tidak tahu apa DTK dulu termasuk tim sosisalisasi atau tidak, saat awal pembangunan rusun," ujar dia. (G18-17i) |