logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 01 Mei 2004 MURIA
Line

Delapan Tahun Baru Jadi Bangunannya

  • Enam Anggota Panitia Telah Meninggal

MEMBANGUN itu harus sabar dan mempunyai kemauan kuat. Jika tidak, bangunan tak akan pernah terujut. Demikian juga bagi para pengurus Pimpinan Cabang (kecamatan) Muhammadiyah Jepara, Kabupaten Jepara. Berkat kegigihan, akhirnya dapat mewujudkan gedung tiga lantai untuk balai latihan kerja dan panti asuhan Aisyiyah.

"Alhamdulillah, walau masih butuh penyempurnaan, sudah bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan," tutur Soenarli, ketua panitia pembangunan.

Pengurus Muhammadiyah Kecamatan kota Jepara yang juga guru SD itu menuturkan, pembangunan gedung dimulai 1 September 1996. Peletakan batu pertama oleh (alm) Lukman Harun yang saat itu menjabat Ketua Majlis Ekonomi PP Muhammadiyah. Dijadwalkan 1999 sudah selesai dengan dana Rp 250 juta.

Namun, tahun 1998-1999 terjadi krisis, sehingga pembangunan ikut terkena dampaknya. Harga bahan bangunan pun melambung. Misalnya, dulu semen Rp 3.500/zak, sekarang Rp 28.000. Pasir satu tronton Rp 60 ribu sekarang Rp 1,7 juta. Demikian juga besi, dan tenaga tukang.

Sehingga, anggaran pun membengkak hampir empat kali lipat dari rencana. Hingga diresmikan awal pekan ini oleh Drs H Good Will Zuber, Sekretaris PP Muhammadiyah, tercatat menghabiskan dana Rp 968 juta. Itu pun belum terhitung bantuan barupa material seperti genting, kayu dan lainnya.

Saking lamanya dalam proses pembangunan, sekitar 8 tahun, sudah ada enam panitia pembangunan yang meninggal. Yakni, Sembah S, Rasdi, Arif Sarwohadi, Muhammad Arif, Darwoto, dan terakhir bulan April 2004 ini, H Sidjan HP (mantan Kakandepag Kabupaten Jepara).

Tanah Wakaf

Panitia mendapatkan modal awal membangun gedung, setelah mendapat tanah wakaf. Semula tanahnya sempit memanjang. Setelah dilakukan tukar menukar dengan memberikan tambahan tanah empat kali lebih luas dan tambahan uang Rp 30 juta (pada 1996), sehingga tersedia lahan 580 M2. Total luas bangunan mencapai 618 M2, lantai pertama 264 M2, lantai kedua 214 M2, dan ketiga 140 M2.

Selama proses penyelesaian lantai atas, lantai bawah sudah mulai dimanfaatkan. Pembangunan gedung itu, kata Soenarli, untuk melayani masyarakat. Berbagai fasilitas yang tersedia adalah, Koperasi Baskara, wartel dan rental komputer, Bank BTM (Baituttamwil) yang sudah melayani lebih 100 nasabah dengan aset Rp 500 juta.

Sekarang ini, gedung itu juga dihuni 50 anak dan satu pengasuh PA Asisyiyah. Mereka datang dari berbagai pelosok Jepara, Pati, dan Demak. "Direncanakan akan dibuka balai pengobatan dan kamar obat yang perizinannya dalam proses," cetus Soenarli.

Sedang ruang di lantai tiga yang dikhususkan untuk BLK, juga disewakan untuk pertemuan umum. Nantinya, keterampilan komputer, jahit menjahit, rias pengantin akan menjadi program utama.

Dalam mengumpulkan dana pembangunan panitia menempuh berbagai cara. Termasuk jual beli kavling tanah di Desa Kedungcino, Kecamatan Jepara. "Keuntungan membuka kavling untuk membantu penyelesaian pembangunan." (Sukardi-34)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA