logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 01 Mei 2004 MURIA
Line

Nikah Dulu Baru Hamil

"NIKAH dulu baru kemudian hamil dan melahirkan. Awas, jangan sampai terbalik, hamil dulu baru kawin," kata Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Drs H Good Will Zuber saat peresmian Gedung Balai Latihan Kerja dan Panti Asuhan Aisyiyah Cabang Jepara, baru-baru ini.

Di hadapan ratusan warga yang mengikuti tablig, Zuber menyampaikan pesan tentang arti penting memperhatikan pendidikan anak. Prosesnya dimulai dari perkawinan yang benar. Sebab, sekarang banyak kejadian yang bertolak belakang dengan zaman dulu.

"Kita mengenal istilah 'kawin paksa' dari cerita Siti Nurbaya, yang dipaksa kawin dengan Datuk Maringgih. Namun sekarang justru banyak yang 'terpaksa kawin' hanya untuk menutup malu karena sudah telanjur hamil."

Berbicara soal anak, dia menyebut ada empat macam. Pertama adalah anak saleh, kedua sebagai perhiasan dunia, ketiga sebagai cobaan, dan keempat ada yang menjadi musuh orang tua. Untuk mendapatkan anak saleh, kata Zuber, paling tidak ada tujuh langkah yang harus ditempuh. "Awali dengan nikah."

Kedua, setiap suami istri berhubungan intim jangan lupa membaca doa, minimal ta'awud dan basmalah.

Dikumandangkan Azan

Ketiga, selama anak dalam kandungan, ayah dan ibu berakhlak mulia. Keempat, pada saat anak lahir dikumandangkan azan di dekat telinganya. Kelima, anak berumur tujuh hari dilakukan akikah, untuk anak laki-laki dipotongkan dua ekor kambing, dan anak perempuan satu kambing. Keenam, anak dikhitan agar suci dan bersih. Dan ketujuh, anak dididik agama.

Mendidik anak agar menjadi anak saleh yang menjadi kebanggaan orang tua di dunia dan di akhirat, tidak mudah. Zuber mencontohkan, Imam Syafi'i menjadi tokoh hebat karena kedua orang tuanya menjaga kemuliaan akhlak dan tinggi ibadahnya. Setiap hari mengkhatamkan kitab suci Alquran.

"Makanya, Imam Syafi'i menjadi ulama hebat. Pada saat baru berumur 7 tahun sudah hafal Alquran," tuturnya.

Menghadapi tantangan budaya global sekarang, pendidikan agama bagi anak harus menjadi menu utama. Sejak usia dini anak diajari mengaji, dilatih shalat dan puasa. Sebab, jika sampai orang tua lengah, anak menjadi sekadar hiasan dunia, bahkan menjadi ujian dan musuh.

Sekarang banyak anak tega membunuh orang tua hanya karena persoalan sepele. (Sukardi-14c)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA