| Sabtu, 01 Mei 2004 | MURIA |
"Sama-sama Suka Ngrekap Togel"SEPERTINYA- tak ada yang berubah pada sosok KHA Mustofa Bisri. Ulama kharismatik yang lebih terkenal dengan sebutan Gus Mus itu, masih saja tampil apa adanya, energik, dan mampu menyihir orang melalui tutur katanya. Hadir memberikan mauidhoh khasanah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pendopo Kabupaten Kudus, pada Kamis (29/30), jelas membuat yang hadir enggan untuk beranjak, walau harus sementara waktu bersabar menunggu kehadirannya. Beberapa pejabat penting, seperti Bupati Kudus HM Ir Tamzil, Kapolres AKBP Drs Bimo Anggoro Seno, dan Dandim Letkol (Pnb) Priyo Djatmiko, juga tampak hadir dalam kesempatan itu. Dalam pencerahannya, Gus Mus banyak mengupas persoalan-persoalan aktual namun masih berada dalam koridor perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini. Menurutnya, umat yang sekarang sudah terpaut 15 generasi dari sang pemimpin agung. Ia mengibaratkan kalau Nabi adalah air, maka umat yang sekarang hanyalah sungai yang letaknya di dekat muara laut lepas. Karena itu tidak heran jika sekarang susah membedakan antara yang santri dan yang bukan. "Jelas susah, wong keduanya sama-sama ngrekap togel," guraunya. Menyikapi isu kekinian yang dialami bangsa ini, Gus Mus menyatakan selama reformasi semakin banyak orang yang pandai untuk mengoreksi orang lain. Namun justru introspeksi diri menjadi sesuatu yang mahal dan sulit untuk dilakukan. "Jika orang saling menyalahkan satu dengan yang lain, maka Kiamat kurang dua hari pun hal itu tidak akan selesai. Namun bila, kita mulai belajar berintrospeksi diri maka segalanya akan cepat dituntaskan," tegasnya. Lebih lanjut ia menyatakan untuk saat ini Bangsa Indonesia memerlukan seorang pemimpin yang bisa merasakan pahit getir apa yang dirasakan rakyat. Tetapi hendaknya tidak berhenti dalam wacana memahami saja, untuk selanjutnya diharapkan juga bisa memberikan solusi terhadap segala permasalahan yang ada. Dan dalam kesempatan itu ia juga mengajak agar semua pihak mulai berani membuka diri untuk berinstrospeksi. Dengan melihat kesalahan yang terdapat dalam diri masing-masing, orang akan selalu segan untuk menyatakan dirinya sebagai pribadi yang sempurna. "Selama orang sudah merasa menjadi pinter ia akan terlihat goblok, sebaliknya jika merasa dirinya bodoh, maka orang itu akan kelihatan pinter," selorohnya. Ulama kondang itu juga sempat membuka rahasia dapur kehidupannya. Ia mengaku banyak orang jatuh hati setelah membaca tulisan-tulisannya. Bahkan seorang temannya yang berasal dari Sulawesi, akhirnya menikah dengan tetangganya, setelah menerima surat buatan Gus Mus yang diatasnamakan orang itu. Sedangkan dengan istrinya, ia menceritakan mulai mengenalnya sejak menempuh ilmu di Mesir. Meski harus terpisah jauh, karena istrinya berada di Yogyakarta, sementara ia di Kairo, tak membuat hubungan asmara Gus Mus memudar. Dengan kepiawaiannya menulis surat, sang istri pun luluh. "Istri saya jatuh cinta pada saya, sebelum dia bertemu saya. Mungkin saya telah memikat hatinya dengan surat-surat cinta saya," selorohnya. (Anton Wahyu Hartono-34) |