logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 April 2004 SALA
Line

Dokar Hanya Laris pada Hari Pasaran Pahing

PADA zaman modern ini, angkutan tradisional jenis andong ternyata masih bertahan dan tetap eksis. Sebagian warga masyarakat masih tetap menyukai alat transportasi yang juga disebut dokar ini. Bahkan ada yang beranggapan, menumpang dokar berarti ikut serta melestarikan budaya. Dokar memang tidak semata sebagai sarana transportasi, tetapi merupakan budaya yang diciptakan oleh manusia.

Di Kota Boyolali jumlah dokar mencapai 200. Ini berarti hampir menyamai jumlah mobil angkuta yang melayani warga kota.

Hal itu mengindikasikan angkutan tradisional tersebut tetap bertahan, dan tidak terdesak oleh jenis angkutan lain.

Namun di lain pihak keberadaan mobil angkuta memengaruhi pendapatan kusir dokar.

Salah seorang kusir dokar, Wiyanto (56), warga Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, menuturkan, banyaknya dokar yang melayani jasa angkutan sebenarnya tidak begitu memengaruhi pendapatan. Penyebab utama menurunnya pendapatan justru adanya mobil angkuta dan ojek.

Boleh dikatakan, pendapatan kusir dokar dibabat habis oleh kemunculan dua jenis angkutan tersebut.

''Kedua angkutan itu membuat kami dan rekan-rekan kelabakan,'' katanya.

Sejak dua pekan belakangan ini dia mengakui pendapatannya turun drastis. Dalam satu hari rata-rata hanya mendapat pemasukan Rp 15.000.

Untuk kebutuhan pakan kuda saja diperlukan biaya Rp 11.000/hari. Jadi, praktis dia hanya memperoleh penghasilan bersih Rp 4.000/hari.

Tapel Kuda

Penurunan pendapatan juga disebabkan penumpang memang sepi, dan tukang ojek bertambah. Masuknya tukang ojek ke terminal bus juga memengaruhi pendapatan.

Namun demikian dia tetap akan bertahan, dan tidak akan ganti profesi. Dengan penghasilan bersih Rp 4.000/hari, logikanya dia dan kawan-kawan tidak mampu bertahan hidup.

''Tetapi saya bisa menghidupi keluarga,'' katanya.

Kusir lainnya, Darsono (45), warga Dukuh Tegalombo, Desa Kiringan, mengatakan, pada hari pahing pendapatannya cukup untuk bisa dibawa pulang dan memenuhi keluarga. Pada hari pasaran itu dia mendapat pemasukan bersih Rp 25.000/hari.

Untuk kebutuhan pakan kuda dan lainnya dibutuhkan Rp 15.000/hari. Sisa pemasukan itu cukup untuk kebutuhan istri di rumah.

Di antara pengeluaran yang cukup besar adalah pembelian tapel atau sepatu kuda. Dalam tiga hari atau satu minggu, dia pasti membeli tapel dengan harga berkisar Rp 10.000/dua pasang tapel.

Tapel kuda tiap hari tergores oleh aspal, sehingga cepat aus. Bila tapel kuda rusak dan dipaksakan, dampaknya kuda bisa terpeleset.

Hal itu pernah dialami salah seorang kusir dokar. ''Untung tidak mengangkut penumpang,'' kata Darsono.

Sejak muda atau berusia 25 tahun, Darsono sudah menekuni profesi sebagai kusir dokar. Dengan demikian sudah 25 tahun dia menjadi kusir.

Dia tidak akan beralih profesi, karena lapangan pekerjaan terbatas. Dia optimis dokar sampai kapan pun tetap akan bertahan. Naik dokar memang ada keasyikan tersendiri, karena dapat menikmati kawasan kota secara leluasa. (Suti Harjoyo-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA