| Jumat, 30 April 2004 | KEDU & DIY |
Hutan Sumbing-Sindoro Rusak
TEMANGGUNG- Lima belas anggota Komisi B DPRD Jateng dipimpin Drs Farid MA, siang kemarin melakukan kunjungan kerja di kawasan hutan Gunung Sumbing - Sindoro, Kabupaten Temanggung. Mereka melihat kondisi hutan dan lingkungan yang sudah dalam kondisi rusak parah. Beberapa kawasan hutan yang menjadi perhatian Komisi B, antara lain lereng Gunung Sindoro di Desa Kwadungan Gunung, Kecamatan Kledung serta pembudidayaan tanaman kentang milik Dispertan di Kledung. Selama di Temanggung, rombongan didampingi Bupati T Ary Prabowo dan sejumlah instansi pemerintah seperti Dinas Kehutanan Jateng, Dispertan, serta Diperindag Anggota Komisi B, Sutoyo TA, kepada Suara Merdeka mengemukakan, kunjungan kerja kali ini difokuskan pada soal keberadaan kawasan hutan serta lingkungan. Berdasarkan pengamatannya, kondisi hutan di Sumbing-Sindoro sudah mengalami kerusakan dalam tingkat cukup parah. ''Dari sini kami memandang pentingnya segera pembenahan serta penghijauan kembali terhadap hutan yang rusak. Karena bila tidak dilakukan mulai sekarang, kasihan anak cucu kita nanti yang bakal menerima getahnya,'' ungkap Sutoyo didampingi sejumlah anggota Komisi B lainnya. Semakin Suram Menurut penuturan Sutoyo, sekarang petani di dua gunung itu jangan lagi mengandalkan tanaman secara monokultur. Akan tetapi harus mulai diterapkan sistem lain, yakni diversifikasi tanaman secara menyeluruh. ''Artinya, petani di sini jangan hanya tertumpu pada satu tanaman saja, yaitu tembakau. Sebab berdasarkan standar kesehatan yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), tampaknya akan berpengaruh terhadap pasar tembakau yang kami perkirakan akan semakin suram,'' paparnya. Dari hal itu, Sutoyo memandang sudah saatnya petani mendiversifikasi dengan tanaman lain. Antara lain menanam tanaman nontembakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta bisa dijadikan andalan keutuhan lingkungan seperti kopi, mahoni dan lain-lain. ''Tadi Pak Bupati mengungkapkan, ada rencana menanam pisang dan nangka. Sebab, ada investor dari Jerman yang mendukung penanaman dua jenis tanaman itu,'' lanjutnya. Selain itu, tanaman kentang yang sekarang tengah dikembangkan sebagai pilot project oleh Dispertan Jateng di Kledung. Tekstur tanah serta alam di kawasan itu tampaknya mendukung untuk budi daya tanaman kentang rakyat. Pada kesempatan itu, staf Dispertan Agus Yuwono menjelaskan tentang keberadaan pilot project tanaman kentang berikut hasil panennya. Proyek itu dilengkapi pula sarana laboratorium dan menempati areal sekitar dua hektare.(nt-76j) |