| Rabu, 28 April 2004 | SALA |
Teknik Budi Daya Kacang Masih Perlu DitingkatkanSOLO- Secara klimatologis, Jumantono merupakan daerah penghasil kacang tanah yang bagus. namun agar masuk ke perusahaan, teknik budi daya kacang tersebut masih perlu ditingkatkan. Itulah antara lain hasil penelitian yang dilakukan tim Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS). Salah satu anggota tim peneliti Ir Retno Setyowati Gito MS menjelaskan, agar dapat masuk ke perusahaan dengan harga yang lebih tinggi, kualitas kacang harus lebih baik. ''Apa yang mereka lakukan selama ini sudah baik, tetapi untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus perlu ada peningkatan teknik budi daya. Karena itu, tim Fakultas Pertanian berusaha melakukan pendampingan, misalnya, menambah pengetahuan petani tentang cara penanaman, pemupukan, dan dosis pupuk khususnya penambahan KCL,'' paparnya. Selain itu juga pemberian pengetahuan tentang penjemuran yang cukup setelah panen. Sebab ada persyaratan dari perusahaan tentang kadar kotor maksimal 10%. Dengan tambahan perlakuan-perlakuan tersebut, kualitas kacang akan lebih baik dari sebelumnya. ''Untuk masuk ke pabrikan, ada syarat-syarat kualitas yang harus dipenuhi petani. Misalnya, kacang harus mentes dan sebagainya. Kualitas kacang menjadi semakin baik setelah ada pendampingan,'' katanya. Yang juga penting adalah pengetahuan tentang pemasaran. Petani sering menjual kacang pada tengkulak. Padahal jika kacang tersebut dijual langsung ke perusahaan, petani akan memperoleh tambahan keuntungan Rp 100-Rp 200 per kg. ''Jika dijual ke tengkulak kacang dihargai Rp 1.000-Rp 1.100/kg. Adapun jika ke perusahaan bisa Rp 1.300-1.500/kg,'' katanya. Masih Lemah Dari penelitian berjudul ''Pemberdayaan Pemasaran Kacang Tanah Petani di Jumantono Karanganyar'' itu juga disebutkan posisi tawar petani produsen kacang tanah masih lemah. Ada lima faktor utama pendukung posisi tawar tersebut lemah. ''Pertama, harga kacang tanah yang tidak stabil yakni harga tinggi pada saat awal panen, tetapi merosot pada saat panen raya. Ini terjadi akibat belum ada patokan harga,'' katanya. Faktor lain pendukung lemahnya posisi tawar adalah produktivitas yang menyangkut intensifikasi, belum dilakukan sesuai dengan anjuran teknik budi daya yang benar. Pemanfaatan lahan juga belum optimal. Selain itu petani pun belum mengolah hasil produksinya ke berbagai bentuk industri rumah tangga agar bernilai tambah. Faktor lain adalah peluang pasar yang masih terbatas karena tingkat pengetahuan dan ketrampilan pemasaran yang minim.(F11-14i) |